WAWANCARA RADIO JIC BERSAMA IMAM SHAMSI ALI & PEGGY MELATI SUKMA

JIC – Aktivitas Radio JIC kini semakin bermakna dengan kehadiran tamu narasumber serta inspirator yang sedang “pulang kampung” ke Indonesia yakni Imam Shamsi Ali yang merupakan Imam di Islamic Centre New York. Dipandu oleh Host Radio JIC, Gibran Ali berkesempatan melakukan wawancara bersama Imam Shamsi Ali dan Peggy Melati Sukma pada 14 Juli 2017. Bercerita tentang tantangan dan peluang dakwah di Amerika Serikat, benarkah sulit untuk diterapkan? Atahukah pasca tragedi besar 9/11 di World Trade Centre Amerika membuat banyak warga negara di sana membenci Islam? Simak kisah selengkapnya pada wawancara berikut ini :

(GA : Gibran Ali, ISA : Imam Shamsi Ali, PMS : Peggy Melati Sukma)

GA : Berada di Amerika Serikat, selalu yang terlintas adalah Islamphobia, dan bagaimana cerita Imam Shamsi Ali mengenai tantangan dan dakwah yang berkembang di Amerika Serikat pasca Tragedi 9/11?

 

ISA : Memang Sunnatullah, di mana ada tantangan di situ ada peluang, jadi demikianlah keadaan Islam di Amerika, penyebabnya adalah Islam selalu dikaitkan dengan kejadian yang sangat dahsyat seperti salah satunya 9/11 serangan teror terhadap negara adidaya penguasa dunia kok bisa kebablasan teror di pusat jantung kapitalisme dunia?

Ketika dihubungkan dengan Islam, maka tentu orang Amerika membuka mata dan pada saat yang sama, karakter orang Amerika adalah orang yang ingin tahu, ketika dikatakan Islam itu adalah penyerangan, Islam itu adalah terorisme maka banyak yang ingin tahu dimana kekuatan Islam itu. Jadi ada orang Amerika yang masuk Islam dua hari pasca tragedi tersebut, saya diminta membacakan do’a di sebuah acara, lalu dia jabat tangan saya sambal berbisik “Saya seorang Muslim”, awalnya saya gak percaya karena orang putih, tinggi besar, hingga timbul saling kecurigaan ada perasaan dimata-mati dsb.

Setelah selesai acara, saya Tarik dia ke samping, “kamu kok bisa masuk Islam? Kapan masuk Islamnya?”

Dia menjawab, “Dua hari yang lalu.”

Saya berfikir, “Kok bisa?”

Sementara orang Amerika pada saat itu sangat begitu marah pada Islam, pasca 9/11 tersebut banyak kejadian luar biasa, ada masjid yang dirusak, ada wanita muslimah yang dipukuli, ada yang ditembak mati, dsb yang amat mengerikan.

Sehingga saya berfikir “kok bisa masuk Islam?”

Dan dia katakan waktu hari pertama, seorang penyiar CNN berkata “Jika anda ingin mengetahui tentang 9/11 bacalah Al-Qur’an.”

Maka dia membeli Al-Qur’an untuk mencari satu kata dalam Al-Qur’an yaitu kata teror.

Lalu dia bilang, “Saya buka halaman pertama, gak ada, halaman ke dua gak ada, saya buka dua hari berturut-turut untuk mencari satu kata dalam Al-Qur’an, di mana ada kata teror itu dan saya tidak menemukannya, justru yang saya temukan adalah mutiara-mutiara, dan itu yang menjadikan saya bertekuk lutut di hadapan kebenaran Illahi.”

Ini sebuah contoh bahwa di tengah tantangan pasti ada peluang, ada banyak keindahan Islam yang bisa kita sampaikan.

 

GA : Berbeda dengan di Indonesia, begitu mudah dan tolerannya bisa hidup berdampingan bersama, segala bentuk syiar dan dakwah yang bisa dikembangkan dengan mudah di Indonesia, apa yang ingin Imam Shamsi Ali sampaikan tantangan mengenai dakwah di Amerika Serikat di mana setiap diri harus lebih lapang, lebih tegar dan kuat, serta berani atas tantangan yang begitu luas, hubungan dan keterkaitannya dengan pendakwah di tanah air seperti apa?

ISA : Pertama, kita harus menyadari bahwa bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang memiliki potensi besar, bangsa Muslim terbesar di dunia, artinya ada kewajiban moral untuk kita harus tampil di garda terdepan di garis terdepan, untuk menampilkan Islam ini, baik dituntut manusia lain atahu tidak, itu kewajiban kita sebagai bangsa muslim terbesar.

Yang terpentig adalah potensi karakter kemanusiaan kita yang ramah, yang sopan, yang ber-Akhlakul Karimah yang baik, mudah tersenyum, saya kira ini jadi modal terbesar dalam menyampaikan Islam ini, mengapa saya katakan demikian karena permasalahan terbesar di benak teman-teman non muslim adalah tentang persepsi Islam yang keliru, Islam itu keras, Islam itu terorisme, Islam itu tidak menghormati minoritas, Islam tidak pernah toleran terhadap orang dan sekarang kewajiban kita adalah menampilkan Islam yang indah, dengan komunikasi yang sederhana dan tidak muluk-muluk, penuh senyuman, kata-kata yang sopan serta komunikasi yang pas. Komunikasi ini penting karena setiap manusia punya budaya, punya kaitan-kaitan sosial, nah oleh karena itu, kita harus menyesuaikan itu.

 

GA : Beranjak kepada teh Peggy Melati Sukma, sesaat sebelum siaran sempat sedikit membahas mengenai gerakan “Telling Islam to The World”, apa yang ingin teteh sampaikan dalam menceritakan Islam kepada dunia?

PMS : Berbicara mengenai “Telling Islam to The World” ini merupakan gerakan dakwah yang memang beliau (Imam Shamsi Ali) inisiasi sejak lama di Amerika Serikat termasuk juga beberapa waktu terakhir ini beliau menginisiasi Nusantara Foundation. Imam Shamsi Ali sendiri telah meninggalkan Indonesia mungkin lebih dari 30 tahun, 21 tahun nya di Amerika Serikat, beliau mencoba membuka komunikasi, kanal-kanal untuk bekerjsama, lintas agama, lintas budaya, lintas etnis, sebab seperti kita tahu, Islam di Amerika Serikat itu sendiri hari ini tidak lebih dari 1% artinya 21 tahun yang lalu jauh lebih sedikit lagi, maka ketika beliau tiba di sana, beliau harus memikirkan bukan hanya menyampaikan tetapi juga menampilkan.

Kalimat beliau selalu seperti itu sehingga gerakan-gerakan yang beliau lakukan ini lebih kepada implementation atahu makna mengamalkan tentang apa yang diajarkan dalam Islam dan ini ditunjukkan kepada masyarakat non-muslim di sana. Singkat kata, dalam kurun puluhan tahun tersebut tentu kalau secara personal yang kita lihat bagaimana positioning beliau menjadi seorang tokoh agama yang baik dan berpengaruh di sana. Tetapi yang lebih penting lagi bukan tentang beliaunya, namun apa yang dihasilkan dari gerakan-gerakan tersebut misalnya kerjasama yang terjalin dengan sangat baik, dengan komunitas Yahudi di sana misalnya dengan komunitas non-muslim lainnya kemudian juga pemahaman dan pengertian yang lebih lagi terhadap Islam.

Lalu kemudian non-muslim ketika diundang bertandang ke masjid, mereka merasa akrab, walaupun sebagian yang lain bahkan sampai hari ini justru tahun ini sudah mulai kembali tentang Islamphobia yang meninggi kembali sejak retorika politik Donald Trump yang mem-banned negara-negara muslim masuk ke Amerika Serikat dan ketika hal ini terjadi maka mungkin ada Islamphobia yang kembali meningkat.

Anyway, di antara hal seperti itu pun tetapi pergerakan Islam di Amerika Serikat pun menunjukkan hasil yang atas izin Allah menenangkan hati, sebab setiap tahun, puluhan ribu orang juga kemudian ingin belajar Islam, dan sebagian besarnya kemudian masuk Islam, tentu Imam Shamsi selalu mengajari bahwa ketika berdakwah bukan untuk cari pengikut, berdakwah itu menyampaikan walau hanya satu ayat dan Allah yang berkehendak menentukan. Dan cita-cita gerakan ini terus menyampaikan Islam yang Rahmatan Lil’alamin dengan meneruskan apa yang telah beliau perjuangkan seperti kelas-kelas khusus non-muslim yang ingin tahu tentang Islam, event besar tahunan, lalu masuk pada level akademisi bicara tentang Islam yang akhirnya mendirikan sebuah Muslim Centre New York yang punya kekhususan bagi mualaf. Inilah kira-kira program-program kerja di luar bidang sosial bersama orang-orang tuna wisma misalnya, lalu membagikan Al-Qur’an di sentra-sentra keramaian dan masih banyak kegiatan lainnya. (ZS)

Write a Reply or Comment