YANG LUPUT DARI PERTEMUAN SHEIKH AL AZHAR-PAUS FRANSISKUS (2)

JIC, JAKARTA–Salah satunya ketika umat Islam membangun peradaban di Cordova, Spanyol. Sedangkan perang masa lalu dan peristiwa terorisme di masa kini, kata Paus, harus dijadikan pelajaran untuk membangun kerja sama dan peradaban di masa mendatang.

Sedangkan Sheik Ahmad Thayyib selama lima tahun terakhir sangat gigih memerangi ekstremisme dan terorisme di kalangan umat Islam sendiri. Ia juga membawa perubahan besar di internal Al Azhar dengan mengedepankan Islam wasathiyah atau moderasi Islam. Al Azhar merupakan institusi besar dan sangat berpengaruh — baik di Mesir maupun di dunia Islam –, melalui cabang-cabang dan para alumninya yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Yang mungkin luput dari pertemuan Sheikh Al Azhar dengan Paus Fransiskus adalah terorisme dan radikalisme di masyarakat, termasuk di kalangan umat beragama, sering kali bukan disebabkan oleh agama itu sendiri. Tidak jarang sikap ekstremisme dan radikalisme atau bahkan terorisme di kelompok-kelompok masyarakat disebabkan oleh para politisi, oleh keputusan para penguasa.

Munculnya kelompok teroris Alqaida misalnya, tidak bisa dillepaskan dari serangan militer Uni Sovyet ke Afghanistan (1979-1989). Waktu itu, Uni Soviet dianggap komunis dan, karena itu, para mujahidin Afghan harus melawan.

Para ‘pejuang’ dari berbagai negara lalu bergabung dengan para mujahidin Afghanistan. Seorang warga Saudi bernama Usamah bin Ladin kemudian membentuk  Alqaida, untuk merekrut para ‘pejuang’ asing itu.

Setelah militer Uni Soviet kalah, Alqaida pun kemudian berbalik menyerang Barat, terutama Amerika Serikat (AS). Yang terakhir ini dianggap menjadi penyebab berlangsungnya penjajahan Zionis Israel terhadap bangsa Palestina hingga kini. Sikap AS — dan juga Barat — dinilai selalu standar ganda bila menyangkut bangsa Palestina dan Zionis Israel.

Invasi militer Uni Soviet ke Afghanistan dan standar ganda Barat/AS sekadar menyebut contoh. Masih banyak keputusan politisi dan penguasa yang membuat marah dan kemudian berkembang menjadi sikap radikal di kalangan masyarakat.

Bukan hanya di kalangan umat Islam, tapi juga di para penganut agama lain. Misalnya invasi AS ke Irak dengan dalih memusnahkan senjata pemusnah massal yang hingga kini tidak terbukti. Juga ketidak-adilan penguasa yang dirasa masyarakat.

Hal-hal seperti itulah yang seringkali juga menyulitkan para tokoh dan pemimpin dari berbagai agama untuk menciptakan perdamaian dunia di kalangan umat mereka.

 

 

 

sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment

17 − six =