MENGENAL AKAD GADAI (AR-RAHN) DAN RINCIANNYA

mengenal-akad-gadai-dan-perinciannya

Mengenai Akad Gadai (ar-Rahn) dan Perinciannya

Ditulis oleh:

*Dr. Kautsar Riza Salman, SE., MSA., Ak., BKP., SAS., CA., CPA

Definisi Ar-Rahn

JIC– Rahn secara Bahasa bermakna tetap dan berkesinambungan, dan dikatakan air yang tidak mengalir artinya tergenang dan tetap, dan nikmat yang tidak pernah putus artinya nikmat yang selalu konstan.

Juga datang dengan arti “tertahan” (Lisanul Arab, Ibnu Abidin 5/307). Dan dari makna ini sebagaimana firman Allah QS Ath Thur ayat 21:

 

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia tertahan dengan apa yang dikerjakannya.

Dan hadits jiwa seorang mukmin tertahan dengan hutangnya sampai hutangnya dilunasi (Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Imam Tirmidzi dalam Sunan-nya, Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya).

حديث: ” نفس المؤمن مرهونة بدينه حتى يقضى عنه دينه “. ورد بلفظ: ” معلقة ” بدلاً من ” مرهونة ” أخرجه الترمذي (3 / 380 – ط الحلبي) وقال: ” حديث حسن ”

Definisi secara syariat maknanya adalah

جَعْل عَيْنٍ مَالِيَّةٍ وَثِيقَةً بِدَيْنٍ يُسْتَوْفَى مِنْهَا أَوْ مِنْ ثَمَنِهَا إِذَا تَعَذَّرَ الْوَفَاءُ

menjadikan harta (‘ainin maaliyyah) sebagai jaminan utang dimana utang akan dilunasi dari harta jaminan tersebut atau nilai/harga dari harta tersebut bila terdapat udzur atau ketidakmampuan dalam melunasi utang tersebut.

Istilah yang terkait dengan Rahn

Adh-Dhoman (jaminan)

Secara Bahasa artinya komitmen atau keterikatan atau kewajiban.

Secara syariat adalah komitmen dengan hak yang tetap dalam tanggungan atau jaminan pihak lain, atau dengan hadirnya orang yang memiliki hak untuk menjamin, dan dinamakan penjamin (dhamin atau kafiil) yaitu orang yang menjamin. Berkata Imam Al-Mawardi, “merupakan kebiasan untuk menggunakan kata dhaman dalam harta dan kafalah dalam jiwa (an-nufus) (Asna Al-Mathalib 2/235).

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa meskipun keduanya (Rahn dan Dhoman) merupakan akad pelengkap (sebagai jaminan) dari utang piutang, adh-dhaman adalah jaminan tanggungan pada tanggungan dalam pengklaiman. Adapun rahn harus ada penyerahan harta Maliyah dimana utang dapat dibayar atau dilunasi dari harta Maliyah tersebut bila terdapat ketidakmampuan untuk membayar utang.

Disyariatkannya Rahn

الأَْصْل فِي مَشْرُوعِيَّةِ الرَّهْنِ قَوْله تَعَالَ

Pada dasarnya disyariatkannya rahn sebagaimana firman Allah dalam QS Al-baqarah ayat 283:

۞وَإِن كُنتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌۖ

283.  Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)….

وَخَبَرُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِيٍّ إِلَى أَجَلٍ وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ

Dan bahwasanya Rasulullah mengabarkan bahwa beliau membeli makanan dari seorang yahudi secara berhutang dan beliau menggadaikan baju besi beliau. Sebuah hadits riwayat Bukhari dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu:

وَقَدْ أَجْمَعَتِ الأُْمَّةُ عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ الرَّهْنِ، وَتَعَامَلَتْ بِهِ مِنْ لَدُنْ عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى يَوْمِنَا هَذَا، وَلَمْ يُنْكِرْهُ أَحَدٌ

Demikian pula, para ulama ber-ijma’ mengenai dibolehkannya ar-rahn, dan interaksi dengan akad rahn ini dari sejak zaman Nabi sampai hari ini tanpa ada seorangpun yang mengingkari (Al-Mugni 4/362, Al-Majmu’ 13/177, Nailul Author 5/352).

Hukum Rahn

الرَّهْنُ جَائِزٌ وَلَيْسَ وَاجِبًا

Rahn hukumnya boleh, dan bukanlah wajib. Berkata penulis kitab Al-Mughni:

لاَ نَعْلَمُ خِلاَفًا فِي ذَلِكَ، لأَِنَّهُ وَثِيقَةٌ بِدَيْنٍ، فَلَمْ يَجِبْ كَالضَّمَانِ، وَالْكَفَالَةِ. وَالأَْمْرُ الْوَارِدُ بِهِ أَمْرُ إِرْشَادٍ، لاَ أَمْرُ إِيجَابٍ، بِدَلِيل قَوْله تَعَالَى

Kita tidak mengetahui adanya perbedaan dalam masalah ini disebabkan ar-rahn merupakan perjanjian utang piutang, maka tidak wajib sebagaimana dhoman dan kafalah. Perintah yang terkandung dengannya adalah perintah berupa bimbingan atau petunjuk dan bukan perintah wajib. Hal ini sebagaimana dalil firman Allah Ta’ala dalam QS Al Baqarah 283

فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ ٱلَّذِى ٱؤْتُمِنَ أَمَٰنَتَهُ

…Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya)…

Dan disebabkan karena perintah berkaitan dengan gadai (rahn) setelah tidak mungkin melakukan al-kitabah (penulisan perjanjian hutang), dan al-kitabah juga tidak wajib demikian pula penggantinya (ar-rahn).

Kebolehan Ar-Rahn

الرَّهْنُ فِي الْحَضَرِ جَائِزٌ جَوَازُهُ فِي السَّفَرِ

Gadai (Rahn) dalam keadaan mukim adalah boleh, sebagaimana dibolehkan dalam keadaan safar.

Penulis al-Mughni mengutip dari Ibnul Mundzir bahwasanya beliau berkata:

لاَ نَعْلَمُ أَحَدًا خَالَفَ ذَلِكَ إِلاَّ مُجَاهِدًا، وَقَال الْقُرْطُبِيُّ: وَخَالَفَ فِيهِ الضَّحَّاكُ أَيْضًا

Kami tidak mengetahui seorangpun yang berbeda dalam masalah itu kecuali Mujahid.” Imam al-Qurthubi berkata: “dan berbeda juga Add-Dhohak.” (Al-Mughni, 4/362)

Dan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggadaikan baju besinya (marhun) kepada seorang Yahudi sebesar tiga puluh sha’ dari syair (gandum) sebagaimana sebuah hadits:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تُوُفِّيَ وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ بِثَلاَثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

Dikarenakan rahn merupakan perjanjian yang dibolehkan dalam keadaan safar, maka dibolehkan pula dalam keadaan mukim sebagaimana dhoman. Dan alasan dibolehkannya rahn dalam keadaan mukim (hadir) juga dapat dipakai sebagaimana safar.

Pembatasan dengan safar dalam ayat tersebut bukanlah untuk melarang rahn dalam keadaan mukim. Sebab dalil-dalil hadits menunjukkan legitimasi disyariatkannya rahn dalam keadaan mukim dan safar dengan ketiadaan penulisan (al-kitabah) (Al-Mashodir as-Sabiqah).

Rukun Akad Rahn (Gadai)

Secara ringkas, rukun akad rahn terdiri dari:

  1. Marhuun (sesuatu yang digadaikan)
  2. Marhuun bihi (dayn, yaitu utang)
  3. Raahin (al-madiin, yang berutang, yang menyerahkan gadai)
  4. Murtahin (ad-daain, yang memberikan utang, penerima gadai)
  5. Shighah (ada ijab dan qabul)

Yang boleh dijadikan marhuun (barang gadai) adalah segala sesuatu yang dibolehkan untuk diperjualbelikan sebagai jaminan dari penunaian utang. Demikian dijelaskan dalam Matan Abi Syuja’. Maka khamar dan benda najis lainnya tidaklah sah dijadikan sebagai marhuun (barang gadai).

Perincian untuk masing-masing rukun rahn dijelaskan sebagai berikut:

Ijab Qabul

Akad rahn dilakukan dengan ijab dan qabul dan ini merupakan kesepakatan antara para ulama. Mereka berselisih dalam sebagian perkara. Madzhab Syafi’iyyah dalam pendapatnya yang terpercaya dikatakan bahwa Rahn tidak dianggap mengikat sebagai suatu akad kecuali dengan ijab dan qabul sebagaimana jual beli (al-bai).

Mereka (Syafi’iyyah) mengatakan:

لأَِنَّهُ عَقْدٌ مَالِيٌّ فَافْتَقَرَ إِلَيْهِمَا

Disebabkan rahn merupakan kontrak keuangan (‘aqdun maliyyun) maka dibutuhkan kepada keduanya (yaitu ijab dan qabul).”

Ibnu ‘Abidin berkata,

وَلأَِنَّ الرِّضَا أَمْرٌ خَفِيٌّ لاَ اطِّلاَعَ لَنَا عَلَيْهِ فَجُعِلَتِ الصِّيغَةُ دَلِيلاً عَلَى الرِّضَا، فَلاَ يَنْعَقِدُ بِالْمُعَاطَاةِ، وَنَحْوِهِ

Dan karena keridloan merupakan perkara yang tersembunyi yang tidak kita ketahui maka shighah dijadikan sebagai dalil tentang keridloan.” (Hasyiyah Ibni Abidin)

Malikiyyah berkata dan Hanabilah:

إِنَّ الرَّهْنَ يَنْعَقِدُ بِكُل مَا يَدُل عَلَى الرِّضَا عُرْفًا فَيَصِحُّ بِالْمُعَاطَاةِ، وَالإِْشَارَةِ الْمُفْهِمَةِ، وَالْكِتَابَةِ، لِعُمُومِ الأَْدِلَّةِ كَسَائِرِ الْعُقُودِ

Rahn mengikat dengan sesuatu yang menunjukkan keridloan yang umum maka menjadi sah akad rahnnya, isyarah yang dapat dipahami, dan penulisan (al-kitabah) sebagaimana akad-akad lainnya. Tidak pernah dinukil dari Nabi dan tidak juga dari seorangpun sahabatpun yang menggunakan ijab dan qabul dalam muamalah mereka.” (AL-Inshaf 5/137)

Dan disyaratkan dalam shighah rahn apa-apa yang disyaratkan dalam shighah jual beli.

Al-Aqid (pihak yang berakad)

مُطْلَقَ التَّصَرُّفِ فِي الْمَال بِأَنْ يَكُونَ عَاقِلاً بَالِغًا رَشِيدًا، غَيْرَ مَحْجُورٍ مِنَ التَّصَرُّفِ، فَأَمَّا الصَّبِيُّ، وَالْمَجْنُونُ، وَالْمَحْجُورُ عَلَيْهِ فِي التَّصَرُّفِ الْمَالِيِّ فَلاَ يَصِحُّ مِنْهُ الرَّهْنُ، وَلاَ الاِرْتِهَانُ لأَِنَّهُ عَقْدٌ عَلَى الْمَال فَلَمْ يَصِحَّ مِنْهُمْ

Disyaratkan bagi setiap rahin (penggadai) dan murtahin (penerima gadai/pemberi hutang) atas pilihan sendiri atau tidak dipaksa, memiliki kebebasan dalam menggunakan harta: berakal, baligh dan rasyid, bukan orang yang terhalang dari penggunaan harta (al-mahjur) seperti anak kecil, gila, sehingga tidak sah dengannya akad rahn ini. Hal ini disebabkan akad atas harta tidak sah dari mereka.” (Al-Majmu’ 13/179, Al-Inshaf 5/139)

Rahn termasuk ke dalam jenis akad tabarru’ karena rahn merupakan menahan harta tanpa adanya imbalan (bighairi iwadhin) maka tidak sah kecuali dengan pemilik akad tabarru’ (ahliyyah tabarru’) yaitu orang yang atas pilihan sendiri, baligh, bukan yang sedang di-hajr, diboikot untuk tidak boleh membelanjakan hartanya. Sahnya rahn bagi baligh, berakal dan rasyid dari hartanya, atau harta yang diijinkan bagi dirinya untuk menjadikannya sebagai barang gadai. (Al-Mughni 4/363)

Hanafiyyah menyatakan bahwa anak kecil yang memiliki kewenangan boleh baginya melakukan akad rahn disebabkan rahn termasuk pengikut perniagaan, maka siapa yang memiliki barang maka dia orang yang memiliki perniagaan.

Malikiyyah menyatakan bahwa anak kecil yang mumayyiz dan orang yang bodoh/boros (safiih) sah gadainya dan mengikuti ijin dari walinya. (Al-Badai’u 5/135)

Marhun biih (hutang)

Syafi’iyyah mengatakan terdapat tiga syarat dari marhun bih:

  1. Utangnya tersebut ada. Tidak sah gadai dengan sesuatu yang dijadikan jaminan atau amanah baik barang jaminan atau sesuatu yang dipinjamkan. Demikian pula, sesuatu yang dirampas atau dicuri diam-diam dan titipan yang sah. Semuanya tidaklah sah karena tidak ada yang jadi watsiqah (jaminan, kepercayaan) sehingga bisa melunasi ketika ada uzur pelunasan.
  1. Utang tersebut adalah pasti dan ditetapkan oleh kedua pihak yang berakad. Maka tidak sah dengan utang yang tidak pasti. Dan bila dijadikan sebab wajibnya, maka tidak sah dengan sesuatu yang akan dipinjamkan besok disebabkan gadai merupakan akad yang benar maka tidak boleh mendahului atasnya dan ini merupakan pendapat Hanabilah.
  2. Utang bersifat wajib atau dapat dipaksakan. Tidah sah dengan memberikan upah sebelum selesai dari pekerjaan karena tidak ada faidah (bunga) dalam perjanjian bila debitur (pihak yang berutang) berhasil melunasinya.

Marhun (Barang Gadai)

Semua barang yang boleh dijual-belikan yaitu dengan syarat barangnya halal (tidak najis), bermanfaat, dan adanya unsur kepemilikan, maka boleh pula digadaikan untuk keperluan utang piutang jika hutang itu tetap menjadi tanggungan si pegadai.

Syarat dari barang gadai meliputi:

  1. ‘Ain, sesuatu yang berbentuk. Jika barang gadaian berupa utang, maka tidaklah sah karena tidak bisa diserahterimakan.
  2. Sah untuk diperjualbelikan, yaitu segala sesuatu yang boleh diperjualbelikan, maka boleh dijadikan barang gadai. Anjing, babi, atau khamar tidaklah bisa dijadikan barang gadai.

Bagaimana risiko kerusakan barang yang digadaikan?

Pihak yang memberi hutang dan sekaligus pihak penerima gadai tidak harus mengganti barang gadai kecuali jika ia melanggar. Risiko kerusakan tetap berada di tangan pihak pemilik (penggadai) karena aset gadai tersebut tidak berpindah kepemilikan ke pihak penerima gadai. Sehingga pihak yang menggadaikan selaku pemilik aset lah yang tetap harus menanggung risiko tersebut.

Jika penerima gadai menerima sebagian haknya, maka persoalan gadai itu belum lepas sampai pihak penggadai menyerahkan semuanya (melunasi utangnya).

Kapan akad gadai diangap berakhir?

Gadai dianggap selesai dengan beberapa sebab diantaranya:

  1. Melunasi utang.
  2. Raahin (pemberi gadai) dianggap utangnya selesai, artinya murtahin (penerima gadai) memaafkan atau memutihkan utang.
  3. Barang gadai lenyap atau rusak.
  4. Barang gadai tidak layak lagi diperjualbelikan, seperti hasil ekstraksi sesuatu yang berubah menjadi khamar. Namun, khamar jika berubah lagi sendirinya menjadi cuka, maka gadai dianggap balik kembali.

Persyaratan yang dilarang dalam akad Gadai

Tidak boleh ada persyaratan dalam rahn yang menguntungkan pihak murtahin karena termasuk persyaratan yang diharamkan sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Penukilan dari Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm.

Imam Syafi’I dalam Al-Umm berkata,

وان كان أسلفه الفا على أن يرهنه بها رهنا وشرط المرتهن لنفسه منفعة الرهن فالشرط باطل: لأن ذلك زيادة في السلف

Bila seseorang memberikan pinjaman 1000 keping uang emas dan ia mensyaratkan agar peminjam memberikan barang gadai sebagai jaminan dan pemberi pinjaman mensyaratkan boleh menggunakan barang gadai tersebut, maka persyaratan tersebut tidak sah, karena ia mendapatkan keuntungan dari uang yang ia pinjamkan.” (Al-Umm 3/159).

Selain itu, haram menggunakan barang gadai kecuali dalam 2 perkara:

  1. Pemberi pinjaman telah mengeluarkan biaya perawatan untuk barang gadai seperti pakan untuk sapi atau kambing yang digadaikan, juga kendaraan seperti biaya perbaikan. Hal ini dibenarkan karena biaya perawatan sebagai imbalan dari pemanfaatan barang gadai. Sebagaimana sabda Nabi,

الرهن يركب بنفقته، ويشرب لبن الدر إذا كان مرهونا

Hewan ternak yang digadaikan boleh ditunggangi dan diperah susunya oleh pemberi pinjaman jika ia telah mengeluarkan biaya.” (HR Bukhari)

  1. Pemberi pinjaman memberi imbalan atas penggunaan barang gadai

Demikian semoga bermanfaat.

*Penulis adalah Narasumber Radio Jakarta Islamic Centre, Associate Professor Universitas Hayam Wuruk Perbanas, Penulis Buku dan Peneliti Akuntansi Syariah, Pengurus Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Jatim Bidang Akuntansi Syariah)

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

SUPPORT BISNIS ISLAMI, PPIJ GELAR SEMINAR OPTIMALISASI FINTECH SYARIAH

Read Next

MILAD KE-23 PARMUSI, PPIJ: SEMOGA SEMAKIN KOKOH DALAM EKSISTENSI

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Open chat
Konsultasi Online JIC
Kirimkan pertanyaan kepada kami...