MUHAMMAD ABDUL DAN TEOLOGI RASIONAL BAG 2

0
448
muhammad-abduh-dan-teologi-rasional-bag-2

JIC– Tidak diragukan lagi bahwa para pengkaji pemikiran Muhammad Abduh akan mendapati bahwa ia adalah seorang tokoh reformis terkemuka abad modern yang memilik kepercayaan kuat kepada kemampuan akal khususnya terkait masalah takdir, dalam hal ini para pengkaji banyak menemukan persamaan antara paham qodariyah, mu’tazilah dengan Muhammad Abduh. Bahkan dalam masalah daya manusia, pendapat Abduh lebih maju lagi dibandingkan mu’tazilah sendiri.

Menurut Muhammad Imarah ide-ide pembaharuan Muhammad Abduh di bidang filsafat Islam dan teologi di dasari oleh tiga hal utama: 1) kebebasan manusia dalam memilih perbuatan, 2) kepercayaan yang kuat kepada sunnatullah dan 3) Fungsi yang sangat dominan dalam menggunakan kebebasan. Pandangan Muhammad Abduh tentang perbuatan manusia bertitik tolak dari satu deduksi bahwa manusia adalah makhluk yang bebas memilih perbuatannya.

Namun kebebasan tersebut bukanlah kebebasan yang tanpa batas, sebaliknya menurut Abduh sekurang kurangnya ada dua hal yang mendasari perbuatan manusia itu: pertama, bahwa manusia melakukan perbuatannya itu berdasarkan daya dan kemampuannya sendiri. Kedua, kekuasaan (sunnatulallah) adalah tempat kembali semua yang terjadi. Dalam kaitannya dengan akal, Abduh memandang bahwa akal memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam teologinya. Menurutnya dengan akal manusia dapat mengetahui adanya Tuhan dan sifatsifatnya, mengetahui adanya hidup di akhirat, akal juga mengetahui baik dan buruknya sesuatu.

Namun demikian menurut Abduh, akal tetap membutuhkan wahyu sebagai petunjuk hidup mereka. Sebab wahyu memiliki dua fungsi utama yakni membantu akal mengetahui secara rinci kehidupan di akhirat dan kedua menguatkan akal agar mampu mendidik manusia untuk hidup secara damai dalam lingkungan sosialnya.18 Dalam kaitannya dengan penghargaan Abduh terhadap kemampuan akal dan penolakannya akan pertentangan akal dan wahyu, ia mengatakan bahwa sedapat mungkin janganlah seseorang memandang bahwa agama atau wahyu adalah sebagai penghalang bagi kemampuan-kemampuan manusia (akal) yang diberikan Allah swt sendiri untuk mengetahui kebenaran di dunia ini sejauh ia berada di dalamnya.

Persoalannya kemudian, kata Abduh, adalah bagaimana mungkin akal atau penalaran itu diingkari kemampuan dan keberadaannya sebagai sarana untuk menilai bukti-bukti dalam menemukan kebenaran dan untuk mengetahui bahwa kebenaran itu juga diberikan oleh Allah? Bagaimanapun juga, dengan mengetahui tugas seorang nabi, maka jelaslah bahwa akal itu mendapatkan tempat untuk menilai segala sesuatu yang dibawanya, walaupun mungkin akal tidak mampu menangkap makna esensial atau mendapat kebenaran mutlaknya. Sekarang bangsa-bangsa telah memperoleh apa yang mereka cari yakni agama yang memerlukan penalaran atau akal atau dapat disebut ajaran agama yang rasional. Sementara dalam bidang hukum atau fiqh ada tiga pemikiran pembaharuan utama Abduh, pertama al-Quran sebagai sumber hukum, kedua, memerangi taqlid, dan ketiga berpegang teguh kepada akal dalam memahami al-Quran.

Dua yang terkahir sesungguhnya adalah bentuk pendayagunaan akal dan penghargaan Abduh yang tinggi kepada kedudukan akal dan hukum Islam. menurutnya hukum syariat (hukum agama atau hukum-hukum yang terdapat dalam alQuran dan al-Sunnah) itu terbagi menjadi dua macam. Pertama qath’I (pasti), dan kedua, dzanni (tidak pasti). Hukum syariat jenis pertama wajib bagi tiap Muslim untuk mengetahui dan mengamalkannya kerena ia jelas tersebut dalam al-Quran atau al Hadits.

Sedangkan jenis hukum yang kedua datang dengan penetapan yang tidak pasti. Jenis hukum yang dzanni inilah yang menjadi wilayah ijtihad para mujtahid. Dengan demikian berbeda pendapat adalah sebuah keniscayaan atau kewajaran dan merupakan tabiat manusia yang harusnya dipahami dan disikapi dengan arif dan bijaksana. Keseragaman berpikir dalam semua hal adalah sesuatu yang mustahil.

Bencana kata Abduh akan muncul ketika pendapat yang berbeda-beda tersebut (yang dzanni) dijadikan tempat berpijak menetapkan hukum dengan taqlid buta tanpa berani mengkritisi dan mengajukan pendapat lain. Sikap terbaik yang harus diambil umat Islam dalam menghadapi perbedaan pendapat adalah kembali kepada sumber utama ajaran Islam yakni al-Quran dan al-Sunnah. Bagi yang memiliki kemampuan berijtihad atau ilmu yang luas maka ia wajib berijtihad sementara bagi yang awam bertanya kepada yang ahli dibidang agama adalah sesuatu yang wajib baginya.

Abduh pernah menyarankan agar ahli fiqh membentuk sebuah tim yang bekerja untuk melakukan penelitian tentang pendapat yang terkuat dari pendapat-pendapat yang berbeda, dan keputusan tim inilah yang kemudian dijadikan pegangan umat Islam. tim ini selain bertugas memfilter hasil ijtihad ulama maupun mazhab-mazhab masa lalu juga melakukan reinterpretasi (tafsir ulang, memaknai kembali) ijtihad-ijtihad sebelumnya sehingga sesuai dan menjadi solusi bagi umat di zamannya. Jadi menurut Abduh bermazhab berarti mencontoh melakukan istinbath hukum.

Adapun pokok–pokok pemikiran Muhammad Abduh

dibidang sosial keagamaan adalah :

1) Kemajuan agama Islam itu tertutup oleh umat Islam sendiri, di mana umat Islam beku dalam memahami ajaran Islam, dihapalkan lapadznya tapi tidak berusaha mengamalkan isi kandungannya. Dalam hal ini ungkapan Abduh yang terkenal di dunia Islam, “Islam itu tertutup olehpengikut-pengikut Islam itu sendiri”.

2) Akal mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam agama Islam, Agama adalah sejalan dengan akal dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menggunakan akal. Dari akal akan terungkap misteri alam semesta yang diciptakan Allah untuk kesejahteraan manusia itu sendiri. Hanya dengan ketinggian akal dan ilmu manusia mampu mendudukan dirinya sebagai makhluk Allah yang tunduk berbakti kepada yang Maha Pencipta.

3) Ajaran Islam sesuai dengan pengetahuan modern begitu pula Ilmu Pengetahuan modern pasti sesuai dengan ajaran Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here