MUKMIN YANG BERHIJRAH DAN BERJIHAD DI JALAN ALLAH

mukmin-yang-berhijrah-dan-berjihad-di-jalan-allah

 

AYAT-AYAT PENDIDIKAN (14)

MUKMIN YANG BERHIJRAH DAN JIHAD DI JALAN ALLAH

Ustaz Arief Rahman Hakim, M.Ag*

 

{ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَ ٰ⁠لِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡفَاۤىِٕزُونَ }

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. [Surat At-Taubah: 20]

JIC- Ayat 20 at-Taubah ini merupakan lanjutan ayat 19 sebelumnya yang menolak anggapan orang-orang musyrik bahwa memakmurkan Ka’bah dan memberikan minum kepada orang-orang yang berhaji lebih utama dari orang yang beriman dan berjihad. Saat itu mereka merasa bangga dan menyombongkan diri dengan keberadaan mereka penduduk Mekkah dan yang memakmurkan Ka’bah.

Allah menyatakan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, berhijrah dan jihad bersama Rasulullah saw dengan harta dan diri mereka demi mengagungkan kalimat Allah, adalah lebih utama, lebih tinggi derajatnya daripada memakmurkan Ka’bah dan memberi minum para jamaah haji. Semua amal perbuatan mereka itu sia sia saja di sisi Allah, jika mereka masih dalam kemusyrikan.

Mukmin yang berhijrah dan jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya akan memperoleh kemenangan. Yaitu, Allah menggembirakan mereka dengan kasih sayang, keridhaan dan surga, mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya, mereka kekal selama-lamanya. Dan di sisi Allah terdapat pahala besar yang selalu menanti dan merindukan mereka (At-Taubah: 21-22).

Dengan iman, hati terasa tentram dan nyaman walau beragam persoalan menimpa. Semua manusia memiliki problema dengan segala bentuk dan takarannya masing-masing. Iman menjadi stabilisator dalam memandang dan mencari solusi atas problema yang dihadapi. Begitu dekatnya Allah ta’ala, tak sadar bahwa saat sedang resah dan sedih, ia masih menikmati hidayah Allah dan dalam kondisi sehat ‘afiat. Belum lagi putra-putri yang juga sehat ‘afiat dan patuh kepada kedua orangtua.

Hijrah merupakan sesuatu yang bisa dilakukan; hijrah secara tempat maupun hijrah secara makna. Hijrah secara tempat diniatkan di jalan Allah untuk mencari tempat tinggal yang menentramkan hati seluruh penghuni rumah, hijrah ke tempat yang lebih mendekatkan keluarga kepada Allah ta’ala. Hijrah secara makna berarti stop dari kondisi akidah, syariah dan akhlak yang buruk menuju kondisi yang lebih baik. Stop dari bisnis dan usaha yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Stop dari interaksi rumah tangga yang jauh dari tuntunan Allah ta’ala. Stop dari banyaknya ide dan konsep ketimbang amal usaha.

Jihad sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Bagaimana mungkin ia menafkahi keluarga tanpa jihad. Mendidik putra-putri pun membutuhkan jihad agar seluruh keturunan dijaga oleh Allah ta’ala dari pergaulan yang buruk, lingkungan yang tidak kondusif, dan pertemanan yang jauh dari keinginan Allah. Seorang ayah berjihad agar amanat yang diterima dijaga dan dirawat sebagai pemimpin keluarga serta memastikan seluruh awak bahtera rumah tangga selamat dunia akhirat. Umat dan masyarakat harus diberikan pencerahan dan pembinaan secara intens agar kokoh secara akidah dan mengutamakan persatuan ketimbang perbedaan. Setiap muslim juga membutuhkan jihad dan bertanggung jawab agar para generasi muda terselamatkan dari virus-virus westernisasi, liberalisme, hedonisme, konsumtif dan apatis terhadap bahaya yang mengancamnya seperti pemurtadan, seks bebas dan LGBT.

Abu Sa’id al-Khudry ra meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Jauhkan dirimu dari duduk-duduk di jalan”. Mereka berkata,Wahai Rasulullah, itu hanyalah bagian dari tempat duduk kami di mana kami biasa berbincang-bincang di sana. Beliau menjawab, “Jika kalian tidak bisa meninggalkannya, maka berikanlah hak jalan”. Mereka bertanya Apakah hak jalan itu? Beliau bersabda: “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, menyeru kepada kebaikan, dan melarang kemungkaran,” (HR. Bukhari/2465 dan Muslim/2121).

Saatnya kita berhijrah untuk membantu dakwah, menjadi pelaku dakwah, dakwah ilallah, tidak sekadar menjadi pengamat dan komentator. Diniatkan karena Allah semata.
Semoga Allah ta’ala mudahkan. Aamiin

*Penulis adalah Kepala Sub Divisi Pendidikan dan Pelatihan PPPIJ

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

BERJILBAB, MUSLIMAH AMERIKA DILARANG IKUT KEJUARAN GULAT

Read Next

KAMPANYE LGBT DI CFW, USTDZ ARH: KONDISI SUDAH DARURAT

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Open chat
Konsultasi Online JIC
Kirimkan pertanyaan kepada kami...