Home News Update Dunia Islam GAZA KRISIS MEDIS: 22.000 PASIEN KRITIS BUTUH EVAKUASI DARURAT KE LUAR NEGERI

GAZA KRISIS MEDIS: 22.000 PASIEN KRITIS BUTUH EVAKUASI DARURAT KE LUAR NEGERI

0
12

Kota Gaza (islamic-center.or.id) — Kepala Kantor Media Pemerintah Gaza, Ismail al-Thawabteh, menyatakan bahwa 22.000 korban luka dan warga sakit di Jalur Gaza membutuhkan penanganan medis mendesak di luar negeri.

Ia mendesak agar seluruh perbatasan dibuka secara penuh. Hal ini penting guna memungkinkan evakuasi sedikitnya 1.000 pasien setiap hari.

Pernyataan tersebut merespons data pergerakan warga Palestina melalui perbatasan Gaza yang dirilis pihak Israel sejak gencatan senjata berlaku Oktober lalu.

Situs berita The Times of Israel sebelumnya mengutip Otoritas Perbatasan Israel yang mengklaim sekitar 10.500 orang telah meninggalkan Gaza sejak gencatan senjata. Laporan tersebut menambahkan bahwa 6.000 orang di antaranya telah kembali ke Gaza.

“Angka yang dipublikasikan oleh pendudukan Israel sangat minim dan gagal memenuhi standar paling dasar dari kebutuhan kemanusiaan yang katastropik di Jalur Gaza,” tegas al-Thawabteh.

“Data tersebut merupakan upaya mempercantik realitas pahit di Gaza, tempat 22.000 korban luka dan orang sakit butuh pengobatan di luar negeri, termasuk ribuan anak-anak yang kondisinya kian memburuk setiap hari,” lanjutnya.

Al-Thawabteh menuduh Israel menjalankan kebijakan “penundaan sengaja dan pembunuhan perlahan” terhadap para pasien melalui pembatasan evakuasi medis.

Ia menuntut pembukaan perbatasan secara penuh dan merta demi menjamin keberangkatan 1.000 pasien harian agar mendapatkan perawatan yang memadai.

Selain itu, ia mendesak pemenuhan hak sekitar 90.000 warga Palestina di luar Gaza yang sedang menunggu kesempatan untuk pulang ke tanah air mereka.

Al-Thawabteh menyerukan kepada masyarakat internasional, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan lembaga-lembaga PBB untuk menekan Israel secara nyata. Israel diminta menghentikan penggunaan pintu perbatasan sebagai “alat hukuman kolektif” serta mempermudah prosedur evakuasi.

“Kebijakan pengetatan jumlah pelintas secara sengaja ini bertentangan dengan seluruh hukum internasional dan kemanusiaan. Langkah tersebut sama sekali tidak bisa dianggap sebagai solusi atas krisis kesehatan yang mencekik,” ujarnya.

Pada akhir Agustus, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa ribuan pasien di Gaza masih tertahan menunggu evakuasi medis darurat.

Melalui unggahan di platform media sosial X, Tedros menyebut WHO memfasilitasi evakuasi 106 pasien, termasuk 19 anak-anak, melalui perbatasan Rafah dan Kerem Shalom pada pekan terakhir Agustus dengan didampingi 132 pengawal.

Aksi genosida Israel di Gaza telah memporak-porandakan kehidupan ratusan ribu warga Palestina. Sebagian besar di antaranya kini terpaksa mengungsi di pusat-pusat penampungan sementara dan tenda-tenda darurat.

Sejak 8 Oktober 2023, Israel dengan dukungan Amerika Serikat terus melancarkan aksi genosida di Gaza. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina, melukai 174.000 orang, serta menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur kawasan tersebut. []

Sumber: Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 1 =