Home Khazanah Islam Akhlak BELAJAR DARI MUSIBAH

BELAJAR DARI MUSIBAH

0
43
Ilustrasi

Serial Ayat-Ayat Pendidikan -Edisi Lima Puluh Delapan

Oleh : Arief Rahman Hakim, M.Ag.

Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan Pusat PPIJ

George Sarton adalah ahli Kimia Belgia dan salah satu perintis ilmu pengetahuan sejarah di Eropa. Setelah melakukan penelitian berpuluh tahun, bermula dari studinya di Universitas Ghent Belgia di 1911, hingga di ujung pencariannya sebagai professor sejarah di Carnegie Institute of Washington tahun 1948.

Ia mengucapkan kata-kata tulus secara obyektif, Tugas utama umat manusia disempurnakan oleh kaum Muslimin. Filsuf terbesar, Al-Farabi, seorang Muslim. Ahli matematika terbesar, Abu Kamil dan Ibrahim Sinan, dua-duanya Muslim. Ahli ilmu bumi dan ensiklopedisi terbesar, Al-Mas’udi, seorang Muslim. Ahli sejarah terbesar, Ath-Thabari, juga seorang Muslim.

Ia dengan tegas berkesimpulan : tanpa produktivitas kaum Muslimin di abad pertengahan, tak akan ada Eropa hari ini. Tak akan ada.

Dikutip dari buku THE UNTOLD ISLAMIC HISTORY Sejarah Islam yang Belum Terungkap yang ditulis oleh Edgar Hamas.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahanmu). [Asy-Syura (42) : 30]

Ibnu Katsir di dalam Lubabut Tafsir menjelaskan bahwa apa saja musibah yang menimpa manusia maka hanyalah disebabkan kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan. Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan-kesalahan mereka. Maka, Dia tidak membalas mereka dengan kesalahan pula bahkan memaafkannya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di menuturkan Allah mengabarkan bahwa apa pun musibah yang menimpa hamba-hamba-Nya, pada jasad mereka, pada harta ataupun pada anak-anak mereka dan pada apa saja yang mereka cintai lagi sangat mereka sayangi, adalah akibat dosa-dosa yang mereka lakukan sendiri, dan sesungguhnya yang dimaafkan oleh Allah lebih banyak dari itu. Sebab, sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim terhadap hamba-hamba-Nya, akan tetapi diri mereka sendiri yang menzalimi diri mereka sendiri.

Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an bahwa Allah Ta’ala bercerita kepada mereka bahwa apa yang menimpanya dalam kehidupan ini karena ulah tangannya sendiri. Namun bukan karena ulah seluruh perbuatannya. Sebab, Allah mengetahui kelemahannya dan dorongan-dorongan fitrahnya yang pada umumnya menguasai manusia. Maka, Dia lebih banyak memaafkan kesalahan manusia sebagai kasih sayang dan toleransi-Nya.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir bahwa apa yang menimpa manusia berupa berbagai musibah yang tidak disukai seperti rasa sakit, terserang penyakit, paceklik, banjir, sambaran petir, gempa, dan lain sebagainya, semua itu disebabkan berbagai keburukan dan maksiat yang mereka lakukan. Berbagai musibah tersebut adalah sebagai hukuman dan kafarat atas dosa-dosa. Namun, Allah Ta’ala mengampuni banyak kemaksiatan para hamba sehingga mereka tidak dihukum karenanya. Terkadang musibah datang bukan karena suatu dosa, tetapi untuk menambah pahala dan menaikkan derajat.

Di dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

 

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [At-Tagabun (64) : 11]

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi, Ketahuilah bahwa semua musibah yang menimpa seorang hamba dari sebagian musibah-musibah pada badan, anak, harta, bencana, gempa bumi dan setiap yang terjadi segala keadaannya adalah atas izin Allah, Allah tahu, Allah memiliki dan melakukan sesuai keinginan-Nya; Maka barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengetahui atas apa yang menimpa tidaklah menimpa kecuali dengan kuasa Allah, yang dengannya Allah berikan petunjuk pada hatinya, atau Allah berikan ketenangan dan kesabaran pada hatinya serta ridha dengan takdir Allah. Kemudian Allah menjelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatunya, atau Dia mengetahui orang yang beriman dan yang bermaksiat, yang tidak rela dan yang tenang, dan mengetahui musibah yang ditimpakan, apakah musibah tersebut akibat dari dosa yang manusia lakukan atau dengan sebab lain? Di sini Allah mengokohkan mereka yang beriman dan keimanan tersebut menempati hati-hati mereka karena sebab takdir Allah dan kuasa-Nya, maka mereka akan mengucapkan : إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَ‌ٰجِعُونَ {Al Baqarah : 156} dan mereka akan berkata : حَسْبُنَا ٱللَّهُ وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ {Ali Imran : 173}. Adapun selain orang-orang yang beriman mereka akan kebingungan, menangis, atau menjerit-jerit, dan mungkin juga menampar-nampar dirinya sendiri dan merobek-robek pakaiannya.

Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. dan Abu Hurairah r.a. disebutkan, Rasulullah saw bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، إِلَّا كَفَّرَ اللهُ عَنْهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا

Demi Zat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidak ada suatu penderitaan, penyakit, kegundahan, dan kesedihan yang menimpa seorang Mukmin melainkan Allah Ta’ala menghapus sebagian dari kesalahan-kesalahannya dengan apa yang menimpanya. Bahkan, sebuah duri yang menancap di tubuhnya. [HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim]

 

Dari Aisyah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda,

إِذَا كَثُرَتْ ذُنُوبُ العَبْدِ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَا يُكَفِّرُهَا مِنَ العَمَلِ، ابْتَلَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالحُزْنِ لِيُكَفِّرَهَا عَنْهُ

 

Ketika dosa-dosa seorang hamba telah menumpuk banyak, sementara ia tidak memiliki suatu amal yang bisa menghapusnya, Allah Ta’ala akan menimpakan cobaan kepadanya berupa kesedihan untuk menghapus dosa-dosanya. [HR. Ahmad]

 

Hadis Qudsi dari Anas bin Malik ra,

Sesungguhnya ada di antara hamba-hamba-Ku ada orang yang tidak baik baginya kecuali berada dalam kondisi kaya, dan seandainya Aku menjadikannya miskin, maka itu akan merusak agamanya. Dan sesungguhnya di antara hamba-hamba-Ku ada orang yang tidak baik baginya kecuali berada dalam kondisi miskin, dan seandainya Aku menjadikannya kaya, maka itu akan merusak agamanya.

 

Menurut Sayyid Qutb, Setiap ketaatan yang tidak bersandar kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta tidak bersumber dari keduanya, maka ketaatan itu merupakan kehinaan yang ditolak oleh setiap orang yang mulia, yang lari daripadanya setiap tabiat Muslim, dan yang menjauh darinya setiap nurani Mukmin.

Karena setiap mukmin yang sejati tidak akan pernah menundukkan kepalanya kepada selain Allah Yang Maha Esa dan Mahaperkasa.

 Maka belajar dari musibah yang bertubi-tubi dalam skala nasional, dan mungkin dialami kaum Muslim dalam skala keluarga-keluarga dan masyarakat,

Pertama, Bertaubat secara kolektif kepada Allah Ta’ala. Ada lima syarat taubat ; mengakui kesalahan dan dosa, ada penyesalan, mohon ampun kepada Allah, berjanji untuk tidak mengulangi, dan memperbanyak amal salih.

Sabda Rasulullah saw sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari di dalam Al-Manaqib ketika dikatakan kepada beliau,

Apakah kita akan binasa, sementara di antara kita ada orang-orang yang salih? Beliau menjawab, Ya, jika kemaksiatan sudah merajalela.

Kedua, Memperbaiki gaya hidup dari pemenuhan selera menjadi pemenuhan kebutuhan sekedarnya, menjadi sederhana. Saat ini ada begitu banyak saudara Muslim dan sebangsa yang hidupnya sangat susah dan tidak memiliki pekerjaan. Hati ini harus dididik sensitif untuk ikut merasakan penderitaan mereka, termasuk para korban erupsi anak gunung Krakatau, juga yang terjadi di Nusa Tenggara Timur berupa gempa tektonik berkekuatan magnitude 7,7, dan 10 juta korban infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dari  Karhutla di Sumatera dan Kalimantan termasuk potensi kerugian 29,45 triliun dari hilangnya asset fisik serta aktifitas perekonomian, sebagaimana hitung-hitungan Center of Economic and Law Studies (CELIOS).

Ketiga, Memperbaiki diri dalam beribadah kepada Allah, dari sekedar pemenuhan kewajiban dan lepas dari beban menjadi sebuah kebutuhan akan hadirnya Allah Ta’ala baik dalam relung jiwa, alam fikiran dan perbuatan sehari-hari. Kondisi tubuh sehat dan memiliki usaha atau pekerjaan adalah modal dasar perbaikan diri menjadi hamba Allah yang taat dan patuh dalam segala kondisi.

Menurut Qatadah Sebaik-baik kehidupan adalah yang tidak menjadikanmu lalai dan melampaui batas.

Keempat, Memperbanyak syukur dan terus menguatkan kesabaran. Bersyukur atas limpahan karunia hidayah, kesehatan, dan kasih sayang hingga memiliki pasangan hidup serta anak cucu yang menjadi penyejuk hati dan semoga menjadi pemimpin orang-orang yang bertakwa. Terus menguatkan kesabaran karena Allah ta’ala tidak akan tinggal diam terhadap hamba-Nya yang taat. Dia akan menjaga, memberikan naungan sakinah qalbiyah (ketentraman hati), dan pemberian rezeki yang tidak akan disangka-sangka hamba-Nya.

Kelima, Menolong agama Allah Ta’ala dan terus berkarya untuk memajukan Islam dan umatnya. Memberikan pencerahan, bimbingan dan meneruskan risalah dakwah Rasulullah saw. Tidak ada perkataan, perbuatan paling mulia di sisi Allah melainkan kalimat-kalimat ajakan dakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan menebar rahmatan lil- ‘Alamin.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” [Fushilat (41) : 33]

Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita terus menghamba kepada-Nya dan memperbanyak aktifitas-aktifitas kebaikan sebagai wasilah datangnya keberkahan dan menurunnya musibah di negeri tercinta. Aamiin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen − 13 =