Home Khazanah Islam Akhlak MENUMBUHKAN EMPATI DAN KASIH SAYANG ANAK

MENUMBUHKAN EMPATI DAN KASIH SAYANG ANAK

0
40
ilustrasi anak-anak muslim (foto: langit7.id/istock)

Serial Keluarga Sakinah – Edisi Kedua Puluh

[Menyambut Hari Anak Nasional 23 Juli 2026]

Oleh : Arief Rahman Hakim, M.Ag.

Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan Pusat PPIJ

Dalam sebuah buku Aminah The Greatest Love, Abdul Salam al-‘Asyri memaparkan kondisi Aminah, ibunda Muhammad (Rasulullah saw) yang sedang bingung. Mengapa hidup Abdullah, ayahnya Muhammad (Rasulullah saw) ditakdirkan singkat, sebelum meraih kekayaan dan kehormatan yang dicita-citakan? Apakah karena ia hendak melahirkan anak ini, seorang anak yang bakal mengabadikan namanya serta menggantikannya menjalani kehidupan panjang yang akan ditempuh dengan penuh kehormatan dan kemuliaan? Lalu mengapa ia ditakdirkan untuk tidak melihat putranya ini, dan putranya pun tidak sempat melihatnya? Apakah semua itu digariskan agar Muhammad tumbuh besar dengan mandiri, membangun kejayaan dengan tangannya sendiri, melewati jalan hidupnya seorang diri, tanpa seorang pun membantu selain Tuhannya?

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin [at-Taubah (9) : 128]

Ibnu Katsir di dalam Lubabut Tafsir menyebut tentang anugerah Allah Ta’ala kepada orang-orang yang beriman, pengutusan seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yaitu dari jenis mereka dan satu bahasa dengan mereka. Hal ini sebagaimana dimuat di dalam surat Al-Baqarah  ayat 129 dan Ali Imran ayat 164.

Ia (Rasul) merasa berat menyaksikan penderitaan dan kesusahan yang menimpa umatnya, berkeinginan keras untuk memberikan petunjuk dan menghasilkan manfaat duniawi dan ukhrawi kepada mereka.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di menjelaskan Allah memberi nikmat kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dalam bentuk diutusnya seorang Nabi yang ummi, yang termasuk dari kalangan mereka, mereka mengetahui keadaannya, memungkinkan mereka untuk mengambil keteladanan darinya, dan mereka tidak merasa rendah diri untuk tunduk kepadanya, dia sangat mengasihi mereka dan berusaha mewujudkan kebaikan mereka.

Dia pun menyukai kebaikan bagi mereka, berusaha keras menyampaikannya, bersungguh-sungguh memberi hidayah kepada iman, membenci keburukan menimpa mereka dan berusaha keras menjauhkannya. sangat belas kasih, dan sangat sayang kepada mereka melebihi ayah ibu mereka.

Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an mengatakan bahwa Allah tidak menggunakan kalimat rasul dari kalian, namun menyatakan dari kaummu sendiri. Ungkapan ini lebih sensitif, lebih dalam hubungannya, dan lebih menunjukkan ikatan yang mengaitkan mereka. Karena Rasulullah saw adalah bagian dari diri mereka, yang bersambung dengan mereka dengan hubungan jiwa dengan jiwa, sehingga hubungan ini lebih dalam dan lebih sensitif.

Di dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمٰنُ وُدًّا

Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan beramal salih, (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta (dalam hati) mereka

[Maryam (19) : 96]

Empati adalah kemampuan mental untuk merasakan atau memahami emosi orang lain dari sudut pandang mereka. Sebaliknya, kasih sayang adalah respon emosional terhadap penderitaan tersebut yang mendorong keinginan untuk membantu meringankannya. Empati berpusat pada pemahaman perasaan, sementara kasih sayang berfokus pada tindakan kepedulian.

Di dalam Penjelasan atas undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Pada Pasal 1 dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan :

  1. Anak adalah seorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan

Bagian Keempat Kewajiban dan Tanggung Jawab Orang Tua dan Keluarga,

Pasal 26 (1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:

  1. Mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi Anak;
  2. Menumbuhkembangkan Anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya
  3. Mencegah terjadinya perkawinan pada usia Anak; dan
  4. Memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada Anak

Imam Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, memuat cabang iman ke-60, yaitu menunaikan hak-hak anak dan keluarga, agar seorang mukmin menunaikan hak-hak anak dan keluarganya, mendidik dan mengajarkan agama kepada mereka.

Berikut hadis Rasulullah saw tentang keharusan mendidik keluarga agar taat kepada Allah.

Abu Hafsh Umar bin Abu Salamah, anak tiri Rasulullah saw berkata, Saat itu aku masih kecil. Aku ada di pangkuan Rasulullah saw, sedangkan tanganku menyusuri nampan. Rasulullah saw bersabda kepadaku, Nak, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang dekat denganmu. Setelah itu, cara makan seperti itulah yang aku lakukan

[HR. Muttafaq’ Alaihi]

Imam Nawawi di dalam Riyadhussalihin, menjelaskan terkait hadis ini,

  1. Mengajarkan akhlak mulia dan mengarahkan anak pada kebaikan adalah wajib
  2. Di antara adab ketika makan, memulai dengan bismillah, memakan dengan tangan kanan, dan tidak mengambil makanan yang letaknya dekat dengan orang yang makan bersama kita kecuali buah-buahan atau dengan seizin orang tersebut

Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi ra, bahwa Rasulullah saw diberi minuman, dan beliau meminumnya. Di sebelah kanan beliau ada seorang anak kecil, dan di sebelah kirinya orangtuanya.

Beliau berkata kepada anak kecil tersebut, Apakah kamu mengizinkanku untuk memberi mereka minuman ini? Berkatalah sang anak, Tidak. Demi Allah, saya tidak akan mendahulukan orang lain seorang pun, untuk menerima bagianku yang engkau berikan. [HR. Muslim]

Kisah ini memberikan makna bahwa Rasulullah saw memberikan teladan yang baik dalam berkasih sayang dengan anak kecil, dan membiasakan diri pada aturan Islam perihal adab minum, sehingga generasi saat ini bisa mengambil pelajaran.

Maka ikhtiar yang para ayah dan ibu lakukan dalam menumbuhkan empati dan kasih sayang anak, ialah :

Pertama, para ibu menumbuhkan jiwa empati dan kasih sayang dalam dirinya agar kelak anak-anak yang dilahirkan memiliki jiwa-jiwa yang sensitif dan segera merespon dengan membantu penderitaan orang lain. Ibu Aminah, ibunda Rasulullah saw adalah pribadi yang lembut dan penuh empati sehingga melahirkan putranya, Muhammad (Rasulullah saw) seorang yang sangat peduli dengan orang sekitarnya.

Kedua, membiasakan anak-anak untuk belajar prihatin, mandiri dan bekerjasama dalam kebaikan, agar kelak mereka terbiasa memiliki jiwa-jiwa penolong tanpa pamrih. Berapa banyak orang dewasa dan sudah berumah tangga namun karena sejak kecil tidak dibiasakan untuk bersosialisasi dan prihatin maka hal ini terbawa hingga saatnya memiliki keluarga; isteri dan anak-anak.

Menurut Abdullah Nashih Ulwan di dalam Tarbiyatu al-Aulad fi al-Islam (Pendidikan Anak dalam Islam), di antara metode pendidikan yang berpengaruh terhadap anak, adalah pendidikan dengan adat kebiasaan.

Ketiga, sering-sering para ayah dan ibu mengajak anak-anaknya silaturrahim ke orangtua agar bisa menjadi contoh tatkala anak-anak dewasa hingga saat berumah tangga.

Rasulullah saw bersabda, Alangkah rugi … alangkah rugi … alangkah rugi. Dikatakan, Siapakah dia wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Orang yang mendapati salah satu atau kedua orangtuanya ketika telah lanjut, tetapi ia tidak masuk surga karenanya. [HR. Muslim]

Keempat, sering-sering para orangtua mengajak anak-anak di dalam berbagi, entah infak atau sedekah. Termasuk di saat-saat sedang berkumpul di aksi sosial dan aksi kemanusiaan untuk Palestina. Betapa anak-anak di Indonesia harus banyak bersyukur akan kedamaian dan ketentraman di bumi pertiwi, di saat yang sama di belahan bumi yang lain banyak anak-anak Gaza khususnya menjadi yatim piatu.

Kelima, para ayah dan ibu belajar terus menjadi orangtua teladan bagi anak-anak. Kelak mereka akan meniru cara-cara orangtua di dalam beribadah, berbagi, bermasyarakat, bersemangat dalam mencari nafkah, bekerja dan berwirausaha, belajar dan mengajar, kesesuaian antara lisan dan fakta, bangun pagi dan tidak tidur setelah salat Subuh, dan lain sebagainya.

Keenam, para ayah dan ibu memperbanyak do’a dan tawakal kepada Allah Ta’ala, agar anak-anak senantiasa memiliki empati dan kasih sayang, berada dalam perlindungan Allah Ta’ala, diselamatkan pergaulannya, dimudahkan rezekinya, mendapatkan pasangan hidup yang bertanggung jawab dan setia serta salih/ah dan kelak dipertemukan bersama para orangtuanya di dalam Jannah-Nya, Jannatun na’im.

Selamat Hari Anak Nasional, 23 Juli 2023

SAYANG ANAK, LINDUNGI, dan BANGUN MASA DEPAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × one =