Serial Ayat-Ayat Pendidikan – Edisi Lima Puluh Dua
Oleh: Ustadz Arief Rahman Hakim, M.Ag., Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan Pusat PPIJ
- Mutholah Maufur (Guru KMI Pondok Modern Darussalam Gontor pada tahun 1990-an sekaligus Dosen Institut Pendidikan Darussalam (IPD), sekarang bernama Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Ponorogo Jawa Timur) yang menerjemahkan buku Yahudi Menggenggam Dunia dari judul asli al-Yahud wara-a kulli Jarimah yang ditulis oleh William G. Carr, mengungkap nama Rothschild yang melegenda di industri keuangan global. Perjalanan bisnis keluarga bangsawan tersebut telah berlangsung selama lebih dari 200 tahun yang kini bernama Rothschild & Co, perusahaan jasa keuangan global.
- Dinasti bankir ini dimulai oleh Mayer Amschel Rothschild yang lahir dari keluarga Yahudi Ashkenazi. Dia lahir pada tahun 1744 di permukiman khusus Yahudi (ghetto), Frankfurt yang dulu masih menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi.
- Seiring pendirian negara AS, Yahudi menancapkan bisnisnya dan berusaha mengendalikan Presiden AS, Abraham Lincoln (12 Februari 1809-15 April 1865), yang dikenal berkomitmen melawan perbudakan dan ingin membuat konstitusi yang mempersempit ruang bisnis Yahudi di AS, maka dibunuh seorang Yahudi Bernama John Dickless Booth 1865.
بسم الله الرحمن الرحیم
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَۗ خُذُوْا مَآ اٰتَيْنٰكُمْ بِقُوَّةٍ وَّاسْمَعُوْا ۗ قَالُوْا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاُشْرِبُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۗ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهٖٓ اِيْمَانُكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
(Ingatlah) ketika Kami mengambil janjimu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah! Mereka menjawab, Kami mendengarkannya, tetapi kami tidak menaatinya. Diresapkanlah ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah patung) anak sapi karena kekufuran mereka. Katakanlah, Sangat buruk apa yang diperintahkan oleh keimananmu kepadamu jika kamu orang-orang mukmin! [al-Baqarah (2) : 93]
Ibnu Katsir di dalam Lubabut Tafsir menjelaskan bahwa Allah merinci kesalahan, pelanggaran janji, kesombongan, dan berpalingnya orang-orang Yahudi dari-Nya sehingga Dia mengangkat gunung Thursina untuk ditimpakan kepada mereka.
Dari Abu Darda ra, Rasulullah saw bersabda,
حُبُّكَ الشَّىْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ
Kecintaanmu kepada sesuatu membuatmu buta dan tuli. [HR. Ahmad, Abu Dawud]
Betapa buruknya kekufuran mereka (orang-orang Yahudi) kepada ayat-ayat Allah, dan pengingkaran mereka kepada para nabi, serta kekafiran mereka kepada Nabi Muhammad saw. Bagaimana mereka beriman setelah melakukan banyak keburukan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengungkap bahwa Allah ingin mereka (orang-orang Yahudi) mendengar dengan menerima dan taat serta respon untuk menunaikan. Mereka mendengar tetapi tidak menaati. Karena hal ini menjadi suatu kebiasaan mereka.
Dijadikan dalam hati mereka kecintaan kepada anak sapi itu dan penyembahan mereka kepadanya serta menyerapnya (baca: menikmatinya) yang disebabkan oleh kekufuran mereka tersebut. Sangat jeleklah keimanan orang yang mengajak orang lain kepada kezaliman dan kekufuran kepada Rasul-rasul Allah dan banyak bermaksiat, dengan semua itu jelaslah kebohongan mereka dan nyatalah pertentangan dalam diri mereka.
Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi di dalam Aisarut Tafasir bahwa kewajiban bagi setiap hamba untuk melakukan perintah-perintah syariat Allah dengan penuh keseriusan, kesungguhan, dan kekuatan. Keimanan yang benar hanya akan menyuruh kepada perbuatan yang baik. Sedangkan keimanan yang palsu akan mendorong untuk melakukan perbuatan mungkar.
Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an berpesan bahwa ayat ini memaparkan bagaimana menghadapi Yahudi, menyingkap kebohongannya, dan memberikan pengarahan agar lemah atau gagal tipu daya Yahudi. Umat Islam memang akan bersusah payah menghadapi kelicikan dan tipu daya yahudi, maka harus memanfaatkan taujih Rabbani (al-Qur’an) dalam menghadapinya. Setiap orang yang memalingkan umat dari agamanya dan al-Qur’an maka dia termasuk bagian dari Yahudi. Jalan hidup umat Islam; akidah imaniah, manhaj imani serta syariat imaniah.
Syaikh Wahbah az- Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir bahwa kaum Yahudi telah mengingkari nikmat-nikmat yang dikaruniakan Allah kepada mereka. Dengan menjadikan anak sapi Tuhan dan menyembahnya. Ini menjadi bukti kekerasan hati mereka dan kerusakan akal mereka. Karena itu mereka tidak dapat diharapkan untuk mendapat hidayah. Iman yang benar kepada sesuatu adalah yang menyeru kepada keselarasan yang bulat dengan segala tuntutan iman tersebut. Jadi, barangsiapa sungguh-sungguh beriman kepada Taurat, dia wajib mengamalkan isinya, melaksanakan perintah-perintahnya, dan menjauhi larangan-larangannya.
Bangsa Yahudi adalah di antara keturunan Nabi Ibrahim yaitu Nabi Ya’kub as yang diberi gelar Israil, sehingga anak cucunya kelak dipanggil Bani Israil. Keturunan Ya’kub yang menjadi nabi adalah Yusuf as, dan anak cucunya menetap di Mesir hingga masa Nabi Musa as. Dia lah yang mengajak Bani Israil keluar dari Mesir untuk menyelamatkan diri dari penindasan Fir’aun. Dari ayat 93 al-Baqarah di atas, menunjukkan orang-orang Yahudi menolak patuh pada Taurat dan cinta pada berhala anak sapi, dan ini bukti kontradiksi klaim iman tanpa ketaatan. Bagaimana mungkin mereka beriman namun tidak mematuhi perintah Allah? Bahkan mereka berlaku syirik dengan mencintai anak sapi sebagai sesembahan.
Konsekuensi dari keimanan bagi seorang muslim adalah bagaimana menjalankan kewajiban minimalis apa-apa yang ada di dalam rukun iman dan rukun Islam. Dan mukmin sejati bukan sekedar melaksanakan untuk menggugurkan kewajiban dan secara minimalis bahkan melakukannya dengan penuh kesadaran, dan pengejawantahan cinta dan syukur kepada Allah Ta’ala. Seorang mukmin sejati sadar bahwa hidup ini penuh dengan pertanggung jawaban, ada alam barzakh dan ada kampung akhirat. Sehingga akan menjaga marwahnya sebagai hamba Allah yang terus berikhtiar menjadi orang baik.
Hadis حُبُّكَ الشَّىْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ, Kecintaanmu pada sesuatu bisa membuatmu buta dan tuli [HR. Ahmad & Abu Dawud] menjadi muhasabah bersama; ketika kita cinta berlebihan terhadap sesuatu, terhadap seseorang bahkan anggota keluarga inti. maka menyebabkan subyektifitas kita meninggi dan cenderung menolak kebenaran, serta tidak mau menerima kritik, masukan dan nasehat yang baik.
Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita terus bergerak menjadi orang baik, keluarga dan bangsa kita pun menjadi salihin, orang-orang yang baik dan berbeda dengan orang-orang Yahudi. Tambah iman, tambah taat. Tambah ilmu tambah taat. Aamiin.
Jakarta, 30 Juli 2026












