Home Khazanah Islam Akhlak JATI DIRI SANTRI

JATI DIRI SANTRI

0
35
Ilustrasi

Serial Ayat-Ayat Pendidikan -Edisi Enam Puluh Dua 

Oleh : Arief Rahman Hakim, M.Ag.

Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan Pusat PPIJ

 

(Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 22 Oktober 2026)

Identitas adalah mutlak dan itu abadi, manusia yang tidak punya identitas itu bukan manusia. Identitas santri adalah nilai-nilai untuk mendapatkan ilmu dari Kiai, dengan memuliakan ilmu dan ulama (إِكْرَامُ الْعِلْمِ وَالْعُلَمَاءِ).

Santri mencari ilmu dari Kiai dengan beradab (تأدب), sehingga lahir istilah beradab sebelum memahami, beradab sebelum belajar dan mempelajari.

Hal ini sebagaimana disampaikan KH. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor dalam salah satu nasehatnya.

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 

فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْاٰنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰٓى اِلَيْكَ وَحْيُهٗ ۖوَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

 

Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Janganlah engkau (Nabi Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur’an sebelum selesai pewahyuannya kepadamu dan katakanlah, Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. [Taha (20) : 114]

Di dalam Al-Qur’an Kemenag dijelaskan Nabi Muhammad saw. dilarang oleh Allah swt mengikuti bacaan Jibril kata demi kata sebelum Jibril selesai membacakannya agar beliau menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan. Allah swt menjamin bahwa beliau akan mampu menghafal ayat-ayat yang diturunkan kepadanya.

Sebab turunnya ayat di dalam Tafsir Al-Munir, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili,

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari as-Suddi, dia berkata, Jika Jibril turun kepada Nabi saw. membawa Al-Qur’an, beliau berusaha keras untuk menghafalnya hingga hal itu membuat beliau merasa kesulitan karena beliau takut Jibril naik ke langit sedangkan beliau belum hafal apa yang dibawa oleh Jibril tersebut.  Allah lalu menurunkan ayat,

وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْاٰنِ

 

Di dalam Sahih Bukhari disebutkan sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah saw dahulu berusaha menghafalkan wahyu dengan sangat kesulitan, sehingga hal itu membuat beliau menggerak-gerakkan bibir beliau, lalu Allah menurunkan ayat ini.

Maksudnya, dahulu Nabi saw, jika Jibril mendatangi beliau membawa wahyu, maka setiap kali Jibril membacakan satu ayat, beliau ikut mengucapkannya karena beliau sangat ingin menghafal Al-Qur’an. Allah swt mengajarkan kepada beliau untuk melakukan sesuatu yang lebih mudah dan ringan baginya agar beliau tidak merasa kesulitan.

Ibnu Katsir di dalam Lubabut Tafsir maksudnya hendaklah mendengarkan dulu dan jika malaikat sudah selesai membacakannya kepada Rasulullah saw, maka bacalah setelah itu, وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا, Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.

Yaitu, permohonan kepada Allah Ta’ala agar menambahkan ilmu dari sisi-Nya.

 

Ibnu ‘Uyainah berkata, Rasulullah saw selalu bertambah ilmunya sampai hari wafatnya. Sedangkan Ibnu Majah meriwayatkan, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,

 

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي ، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي ، وَزِدْنِي عِلْمًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Ya Allah, jadikanlah apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku itu bermanfaat bagiku, dan ajarkanlah apa yang bermanfaat bagiku serta tambahkanlah ilmu kepadaku. Segala puji bagi Allah atas segala keadaan.

 

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di, Ketika ketergesaan dan kesegeraan Rasulullah saw untuk menerima wahyu menunjukkan kecintaan beliau yang utuh kepada ilmu dan keantusiasan untuk menguasainya, maka Allah memerintahkan beliau untuk meminta tambahan ilmu. Sesungguhnya ilmu itu baik, dan banyak kebaikan itu dituntut, kebaikan itu berasal dari Allah, dan jalan menuju ke sana adalah melalui ketekunan, kerinduan kepada ilmu, memohon dan meminta pertolongan kepada-Nya serta duduk bersimpuh kepada-Nya di setiap waktu.

Bisa di ambil pelajaran dari ayat yang mulia ini, mengenai etika dalam menerima ilmu, bahwa orang yang mendengarkan ilmu seyogyanya perlahan-lahan dan bersabar, sampai pendikte dan pengajar selesai dari penjelasannya yang saling berkaitan. Jika ia sudah selesai darinya, pencari ilmu menanyakan (nya) bila dia punya pertanyaan. Janganlah dia bersegera bertanya dan memotong keterangan orang yang mengajar. Sesungguhnya sikap ini penyebab terhalangi (dari menguasai ilmu). Demikian juga orang yang ditanya, seharusnya ia meminta penjelasan lebih lanjut tentang pertanyaan penanya dan melacak maksudnya sebelum menjawab. Sesungguhnya sikap ini menjadi penyebab ketepatan dalam menjawab dengan benar.

 

Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Mahatinggi Allah, yang menurunkan Al-Qur’an dari sisi-Nya yang tinggi, karenanya janganlah lisanmu tergesa-gesa mengucapkannya. Al-Qur’an diturunkan untuk hikmah tertentu, tidak mungkin Allah menyia-nyiakannya.

Yang seharusnya dilakukan adalah berdo’a kepada Allah agar Dia menambahkan ilmu kepada kita, dan tenang dengan apa yang diberikan Allah. Tidak ada kekhawatiran Al-Qur’an itu pergi. Ilmu itu tidak lain adalah apa yang diajarkan Allah. Yang bermanfaat pasti akan tetap dan tidak akan hilang. Dia akan berbuah dan tidak akan gosong.

Allah Ta’ala berfirman di ayat lain,

لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ

 

Jangan engkau (Nabi Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak tergesa-gesa (menguasai)-nya.

[Al-Qiyamah (75) : 16]

 

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jati diri adalah keadaan atau ciri khusus seseorang, identitas.

Jadi jati diri santri adalah ciri khusus atau identitas yang melekat dalam diri seorang santri atau mantan santri.

Terkadang orangtua ingin memasukkan anak ke pesantren dengan beragam motif; karena pakde atau paman anaknya lulusan pesantren dan bisa menjadi teladan bagi keluarga besar, mungkin karena lingkungan tempat tinggal kurang kondusif dan tingkat kekerasan di sekolah dan pergaulannya yang sangat-sangat mengkhawatirkan, atau orangtua berniat semoga sang anak bisa menerapkan ilmu agamanya meskipun nanti aktifitas kerjanya bisa berbeda, bisa juga karena orangtua percaya dengan pendidikan di pesantren yang terintegrasi antara iman, ilmu, dan amal, atau niat orangtua sederhana saja yaitu agar anaknya memiliki akidah yang benar, beribadah sesuai tuntunan Rasulullah saw, dan berakhlakul karimah.

Namun ada pula orangtua yang memasukkan anaknya ke pesantren dengan niat agar menjadi orang baik karena asalnya sang anak memang nakal misalnya. Maka tak heran karena pesantren adalah miniatur masyarakat, sang anak bertemu pula di pesantren dengan anak yang nakal juga. Dulu saat di rumah sering keluyuran malam, saat di pesantren pun keluyuran malam bersama temannya yang nakal. Salah persepsi jika memasukkan anak-anak nakal dan tidak berprestasi ke pesantren, karena pesantren justru dihuni oleh anak-anak berprestasi dan dari keluarga baik-baik.

Di antara jati diri santri ialah;

 

Pertama, Keteladanan.

Di mana pun dia bekerja atau mengajar seusai lulus pesantren maka stigma santri yang baik, berakhlak mulia, penuh empati dan berbakti kepada kedua orangtua akan dikenal oleh keluarga besar dan lingkungan masyarakat. Mereka akan selalu menomorsatukan santri atau mantan santri dalam melakukan komparasi kepribadian. Maka manakala santri atau mantan santri berkepribadian buruk mereka serta merta menyayangkannya seraya membandingkan dengan keluarga dan lembaga pesantrennya yang baik dan unggul. Sejatinya para lulusan pesantren atau mantan santri disebut sebagai ustaz, ustazah, atau guru. Maka sungguh tak elok jika perilakunya tidak bisa dijadikan teladan sehingga orang-orang di sekitarnya justru bercibir dan memandang hina.

Termasuk keteladanan dalam akhlak dan kepribadian; jujur, amanah, berintegritas dan profesional (itqan).

Ada pepatah Arab yang dipelajari,

 

اَلشَّرَفُ بِالْأَدَبِ لَا بِالنَّسَبِ

 

Kemuliaan itu didapat karena adab (budi pekerti), bukan karena keturunan.

 

 

Kedua, Disiplin.

Ibadah salat lima waktu dan puasa Ramadan mengajarkan kedisiplinan. Dan pesantren pun mengajarkannya seiring perputaran waktu 24 jam; Bagaimana santri dididik untuk beribadah, belajar, mandi, kapan mencuci, makan minum, sehat dan sakitnya, semua dilakukan dengan penuh kedisiplinan. Waktu demi waktu begitu cepat bergulir tanpa terasa ada saatnya mengatur keuangan pun dilakukan sendiri, jika ia disiplin maka uang bulanan yang dikirim orangtua akan berusaha dicukup-cukupkan selama tidak ada pengeluaran tak terduga, namun jika disiplin dalam keuangan maka hanya dalam beberapa hari ia tidak memiliki uang.

Dalam konteks mantan santri nilai-nilai kedisiplinan akan terbawa hingga dia menjadi apa pun; sebagai guru, dosen, rektor, kepala sekolah, pemilik perusahaan, pejabat publik, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga negara, dan lain-lain.

 

Ketiga, Kemandirian

Bagi santri atau mantan santri selalu akan terkenang sepanjang hidupnya akan dinamika hidup pesantren yang begitu indah, sehingga merasa bahwa jika seandainya dulu bukan belajar di pesantren dia tentu belum bisa apa-apa. Mungkin secara keilmuan cukup dan merasa memiliki, namun jiwa kemandirian hanya ada di pesantren.

Bagaimana seorang anak belajar sendiri mengatur kehidupannya di pesantren hingga nanti saatnya liburan semester tiba. Bagi santri di Pulau Jawa bisa pulang berlibur ke rumah masing-masing. Namun bagi santri yang dari luar Pulau Jawa biasanya hanya bisa menikmati liburan di sekitar Pulau Jawa mengingat biaya transportasi yang mahal dan waktu liburan semester hanya sepuluh hari atau dua pekan saja.

Pesantren pun memiliki kemandirian dalam mengelola keuangan dan dalam menghidupi makan minum santri. Bayangkan berapa banyak santri yang mungkin menunggak SPP dan uang makan, namun pesantren tidak pilih kasih memilih santri. Semua diberikan makan dengan kenyang secara merata.

Suatu saat para mantan santri akan mengenang bagaimana pesantren mendapat tempat di hati dan sanubarinya yang paling dalam, karena telah mengajarkan arti hidup dan kehidupan. Sehingga pesantren menjadi ibu kedua baginya.

 

Keempat, Keikhlasan

Ini salah satu jati diri yang melekat bagi santri dan mantan santri karena diajarkan langsung oleh Sang Kiai dan para guru. Beliau memimpin pesantren tidak digaji namun hanya dalam bentuk apresiasi yang dinamakan IHSAN. Pesantren dan segala asetnya sudah diwakafkan, bukan milik Kiai dan keluarga besarnya. Santri dididik untuk menyerahkan dirinya hanya kepada Allah Ta’ala, pemilik kehidupan. Ditata nawaitunya dalam menjalankan aktifitas sehari-hari di pesantren, hingga pada saatnya lulus pesantren, berusaha terus menjadi pribadi-pribadi yang mukhlish. Ikhlas dalam mengajar, Ikhlas dalam berorganisasi, Ikhlas dalam mengabdi di pesantren atau madrasah, Ikhlas dalam membantu sesama Muslim, Ikhlas dalam mendakwahkan Al-Islam, Al-Qur’an dan lainnya.

Maka ada ungkapan populer di pesantren,

Di manapun kamu berpijak, maka kamu bertanggung jawab atas tegaknya Islam.

 

Kelima, Perjuangan

Ketika sang Kiai dan para guru sudah memberikan keteladanan, mencontohkan disiplin, mengajarkan kemandirian, dan senantiasa memancarkan keikhlasan dalam setiap geraknya. Maka para santri dan mantan santri akan terus bergerak memajukan dan mencerahkan umat dan masyarakat di setiap lini aktifitas mereka.

Ada pepatah Arab yang telah mandarah daging,

 

مَنْ جَدَّ وَجَدَ

 

Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan berhasil.

 

مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ

Barang siapa yang bersabar, maka dia akan beruntung/menang.

 

Menurut KH. Hasan Abdullah Sahal, dari jati diri menjadi bina diri, harga diri, tahu diri, jaga diri, dan tahan diri jangan mengerjakan yang tidak layak.

 Semoga Allah Ta’ala mudahkan anak-anak kita yang sedang menempuh pendidikan di pesantren. Semoga mereka menjadi anak-anak salihin dan salihat, ilmunya bermanfaat tidak hanya untuk dirinya namun juga untuk orang lain, bisa menjadi pribadi-pribadi yang mandiri, menjadi kebanggaan kedua orangtuanya, birrul walidain kepada ayah ibunya, bertanggung jawab atas tegaknya dakwah Islamiyah, dan sukses hidupnya dunia akhirat.

Allahumma Aamiin Ya Rabb.

 Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2026,

Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas

 

 

 

 

 

.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 − seven =