Home News Update Dunia Islam 3.200 PEREMPUAN GAZA HILANG DI TENGAH GENOSIDA

3.200 PEREMPUAN GAZA HILANG DI TENGAH GENOSIDA

0
213
ilustrasi: Anak-anak Palestina berjalan sambil membawa barang-barang mereka menuju tempat pengungsian. [anadolu]

Gaza (islam-center.or.id) –  Pada Hari Perempuan Internasional, Pusat Palestina untuk Orang Hilang dan yang Dihilangkan Secara Paksa menyatakan bahwa peringatan ini mengingatkan kita pada tragedi yang dihadapi ribuan perempuan hilang di Jalur Gaza.

Krisis ini terus memburuk 28 bulan setelah tentara Israel melancarkan perang genosida, sementara ribuan korban masih terjebak di bawah reruntuhan rumah dan bangunan perumahan yang hancur.

Dalam pernyataan tertulis, pusat tersebut menyebutkan bahwa perkiraan lapangan menunjukkan sekitar 8.000 orang saat ini hilang di Gaza, termasuk setidaknya 3.200 perempuan dan anak perempuan. Perkiraan lain menunjukkan bahwa perempuan mungkin mewakili hampir 70% dari total jumlah orang yang hilang, meskipun ketidakhadiran data akurat, akibat kerusakan massal dan akses terbatas ke lokasi reruntuhan, membuat angka pasti sulit untuk dikonfirmasi.

Perempuan Gaza: Ketahanan hidup di bawah reruntuhan perang

Pusat tersebut mencatat bahwa Hari Perempuan Internasional tahun ini tiba sementara ribuan perempuan masih hilang di bawah rumah-rumah yang runtuh atau di wilayah yang dikuasai oleh pasukan Israel. Yang lain diyakini telah hilang secara paksa di dalam pusat penahanan Israel. Angka-angka ini menyoroti skala bencana kemanusiaan yang mempengaruhi perempuan secara khusus, karena keluarga-keluarga Palestina utuh terkubur di bawah reruntuhan selama pemboman massal di kawasan permukiman, meninggalkan jenazah mereka tidak ditemukan dan nasib mereka tidak tercatat.

Menurut organisasi tersebut, sebagian besar perempuan yang hilang diyakini masih berada di bawah reruntuhan rumah-rumah yang hancur akibat serangan militer Israel yang terus berlanjut.

Kelompok hak asasi manusia: Keadilan bagi perempuan Gaza memerlukan penghentian serangan

Tim pertahanan sipil tidak dapat mengevakuasi banyak korban karena kekurangan peralatan berat dan mesin khusus yang diperlukan untuk membersihkan puing-puing dengan aman. Kerusakan infrastruktur yang luas dan keruntuhan kapasitas tanggap darurat telah meninggalkan ribuan keluarga dalam keadaan antara harapan dan keputusasaan, tidak yakin tentang nasib putri dan ibu mereka.

Pada saat yang sama, organisasi tersebut memperingatkan tentang kekhawatiran yang semakin meningkat bahwa beberapa perempuan Palestina dari Gaza mungkin telah hilang secara paksa di penjara Israel. Organisasi tersebut mendokumentasikan penangkapan puluhan perempuan selama operasi militer Israel, sementara otoritas Israel menolak mengungkapkan nasib atau lokasi beberapa tahanan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius bahwa beberapa di antaranya mungkin menjadi korban penghilangan paksa, pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan hak asasi manusia.

Organisasi tersebut menekankan bahwa tragedi perempuan yang hilang mencerminkan realitas katastrofik yang dihadapi perempuan Palestina selama perang. Sejak 7 Oktober 2023, setidaknya 12.500 perempuan tewas, termasuk 9.000 ibu, sementara 21.193 perempuan menjadi janda perang, kehilangan suami mereka selama konflik. Angka-angka ini menunjukkan keruntuhan parah struktur keluarga dan sosial akibat penargetan terhadap warga sipil.

Pusat Palestina untuk Orang Hilang dan yang Dihilangkan Secara Paksa menekankan bahwa fokus komunitas internasional pada krisis regional lainnya, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran, tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan bencana kemanusiaan yang sedang berlangsung di Gaza. Masalah orang hilang, terutama perempuan, tetap menjadi luka kemanusiaan yang terbuka dan memerlukan tindakan mendesak dan terkoordinasi.

Pusat tersebut menyerukan kepada badan-badan hak asasi manusia internasional, komite PBB tentang perempuan dan orang hilang, serta badan-badan PBB yang relevan untuk mengambil langkah-langkah segera. Langkah-langkah ini meliputi mendesak masuknya alat berat ke Gaza agar tim penyelamat dapat mengangkat jenazah dari bawah reruntuhan, meluncurkan penyelidikan internasional independen tentang nasib orang hilang, dan mewajibkan otoritas Israel untuk mengungkapkan lokasi semua perempuan yang ditahan dari Gaza sambil menjamin perlindungan terhadap penghilangan paksa.

Pusat tersebut menyimpulkan bahwa mengakhiri tragedi orang hilang di Gaza merupakan kewajiban kemanusiaan dan hukum yang tidak dapat ditunda. Membiarkan ribuan korban di bawah reruntuhan atau dalam kondisi yang tidak diketahui merupakan pelanggaran serius terhadap hak-hak korban dan keluarga mereka, dan memerlukan tindakan internasional yang tegas untuk mengakhiri krisis yang sedang berlangsung ini.

sumber: infopalestina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × two =