Home News Update Islam Indonesia MENAG: KONTRIBUSI ALUMNI AL AZHAR LUAR BIASA BAGI INDONESIA

MENAG: KONTRIBUSI ALUMNI AL AZHAR LUAR BIASA BAGI INDONESIA

0
447
Menag bersama peserta Konferensi Internasional dan Multaqa Alumni Al Azhar menyanyikan lagu Indonesia Raya

JIC, MATARAM — Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengapresiasi penyelenggaraan Konferensi Internasional dan Multaqa IV Alumni Al Azhar Cabang Indonesia di Islamic Center Nusa Tenggara Barat (NTB). Apalagi, kata dia, alumni Al Azhar memiliki peranan besar dalam kemajuan bangsa.

Nama-nama besar dari Alumni Al Azhar seperti Almarhum Abdurrahman Wahid, Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi, hingga Profesor Quraish Shihab menjadi di antara Alumni Al Azhar yang telah berkontribusi bagi bangsa. “Kontribusi dan sumbangsih (alumni Al Azhad) bagi negara sungguh luar biasa. Bagi Kemenag, dalam mengurusi kehidupan agama di Indonesia, saya merasa tidak sendiri karena ditemani para Alumni Al Azhar di Indonesia,” ujar Lukman dalam acara Konferensi Internasional dan Multaqa IV Alumni Al Azhar di Islamic Center NTB, Kamis (19/10).

Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua, Al Azhar dikenal sebagai lembaga yang secara konsisten menyebarkan Islam yang moderat. Lukman menilai, Al Azhar memiliki daya tarik karena memiliki pondasi keilmuan yang kuat dengan bercirikan Islam moderat ini lantaran sejarah pendirian Al Azhar bermula dari masjid yang kemudian terus berkembang.

Menurut dia, Al Azhar mampu merawat khazanah Islam dan tradisi memadukan hal-hal yang sifatnya tekstual disinergikan dengan kontekstual. “Saya bersyukur dan kagum, ini yang sebabkan Al Azhar mampu menjaga eksistensi dan berkembang, serta kemampuan menjaga originalitas yang berbasis akal keilmuan. Ini ciri Al Azhar yang kita rasakan manfaatkan luar biasa,” ujarnya.

Di era teknologi dan informasi saat ini, terkesan sudah tidak ada sekat bagi masuknya pengarus dari luar. Di mana informasi dari berbagai penjuru dunia dengan begitu mudahnya masuk tanpa adanya filter yang maksimal. Karena itu, peran serta alumni Al Azhar sangat dibutuhkan untuk menahan pengaruh negatif dari informasi luar tersebut.

“Di sini (Al Azhar), agama punya tingkat urgensi dan acuan agar ini bisa tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Saya merasa bersyukur bisa hadir di forum ini, Al azhar memiliki nama yang begitu harum di Indonesia,” kata Lukman. Dia menambahkan, Al Azhar juga berperan penting dalam menjaga persatuan antarumat Islam maupun dengan umat nonmuslim.

Lukman juga menyambut positif tiga isu besar yang sangat kontekstual dalam konferensi ini, yakni tentang fenomena pengafiran antarsesama muslim (takfir), fatwa, dan metode dakwah. Menag menilai, isu takfir cukup menarik lantaran menjadi salah satu isu yang cukup marak di antara sesama muslim hanya karena persoalan yang tidak menjadi pokok.

“Malah saling mengkafirkan, maka kita harus kembali memahami konsepsi kufur itu sendiri,” kata dia

Isu kedua tentang fatwa juga sangat relevan mengingat pada era teknologi dan informasi sekarang ini yang luar biasa terjadi. Bahkan, lanjut Menag, kerap muncul fatwa-fatwa keagamaan dari pihak-pihak yang tidak diketahui apakah cukup memiliki otoritas dan latar belakang dalam mengeluarkan fatwa.

“Sehingga perlu ada definisi dan konsepsi yang juga yang jelas agar pandangan agama ini perlu disikapi, biar umat tidak mengalami kebingungan,” ucap Lukman.

Isu terakhir tentang metode dakwah, kata Lukman, juga sangat penting agar bagaimana metode dakwah yang dilakukan bisa mengayomi, bukan saling menegasikan satu dengan yang lain.

“Pemerintah, umat Islam Indonesia dan umat Islam dunia tentu sangat menunggu tiga isu besar ini dirumuskan. Saya meyakini hasilnya sangat berkontribusi dalam merawat peradaban dunia di masa mendatang,” kata Menag.

Sumber ; republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − three =