JIC, JAKARTA — Uni Emirat Arab (UEA) merupakan salah satu negara makmur di Asia Barat. Bangunan-bangunan menakjubkan dibangun oleh kerajaan di kawasan Teluk Persia ini.
Salah satu yang menjadi kebanggaan penduduk setempat adalah Masjid Syekh Zaid di Abu Dhabi, ibu kota UEA. Masjid ini berdiri atas inisiatif mantan presiden Uni Emirat Arab Syekh Zaid bin Sultan al-Nahyan (wafat 2004).
Darinya pula nama masjid tersebut berasal. Masjid yang terletak di daerah pantai ini merupakan masjid resmi negara.Acara-acara kerajaan UEA mengambil tempat di Masjid Syekh Zaid, khususnya yang berkaitan dengan ritual Islam.
Pembangunan Masjid Syekh Zaid menghabiskan waktu 12 tahun, yakni sejak 1996 hingga 2007. Almarhum Syekh Zaid merupakan penggagas berdirinya masjid raya ini, yang dimaksudkannya sebagai simbol pemersatu nasional UEA.
Namun, visi tokoh tersebut bukan hanya mencakup negaranya, melainkan dunia Islam pada umumnya. Syekh Zaid ingin agar masjid ini menampilkan sintesis atau perpaduan puncak kesenian Islam dan modern. Sebagai penghormatan nega ra, jasad almarhum Syeikh Zaid dimakam kan tidak jauh dari masjid yang dirintisnya ini.
Masjid Syekh Zaid ini juga memiliki madrasah dan perpustakaan publik. Perpustakaan berlokasi di dekat menara sebelah timur laut masjid ini. Perpustakaan tersebut dibuka untuk umum dan memiliki koleksi yang cukup variatif dan kaya.
Di antaranya adalah, kitab-kitab sastra klasik, majalah, serta buku-buku nonfiksi dengan beragam topik: Islam, sains, budaya, kaligrafi, dan sosial. Selain buku, perpustakaan Masjid Syekh Zaid juga menampilkan koleksi benda-benda historis, semisal koin-koin kuno (di antaranya ada yang ber usia lebih dari dua abad), naskah, dan porselen.
Untuk menampilkan nuansa keberagaman, koleksi perpustakaan tersebut berasal dari pen- juru wilayah dunia dan beragam bahasa. Dari Arab, Inggris, Prancis, Italia, Spanyol, Jerman, hingga Korea. Khususnya di masa liburan atau akhir pekan, Masjid Syekh Zaid cukup ramai dikunjungi para turis.
Mereka dapat dengan leluasa masuk ke dalamnya dan mengambil gambar atau ikut beribadah bagi yang Muslim.Hal itu dengan catatan bahwa para turis men-genakan pakaian yang sopan serta melepas alas kaki begitu memasuki ruang shalat.Masjid ini terbuka bagi non-Muslim yang mematuhi kaidah- kaidah tersebut.
Sumber ; republika.co.id












