Home News Update Islam Indonesia PEREMPUAN MENJADI PEMBOM BUNUH DIRI, BNPT DIMINTA UBAH STRATEGI

PEREMPUAN MENJADI PEMBOM BUNUH DIRI, BNPT DIMINTA UBAH STRATEGI

0
357

ANTARA FOTO/DAMAI MENDROFA
Image captionPetugas kepolisian berjaga di lokasi terjadinya ledakan yang diduga bom di kawasan Jalan KH Ahmad Dahlan, Pancuran Bambu, Sibolga Sambas, Kota Siboga, Sumatera Utara.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) disarankan merancang strategi khusus untuk menderadikalisasi pelaku teror perempuan menyusul aksi Solimah, istri terduga teroris Husain alias Abu Hamzah, yang meledakkan diri setelah gagalnya proses negosisasi dengan Densus 88 selama hampir sepuluh jam.

Ini karena peran istri atau perempuan dalam aksi-aksi radikalisme saat ini sangat dominan, kata pengamat.

Kepolisian Indonesia menyebut, pemahaman radikalisme Solimah dipengaruhi oleh suaminya Husain alias Abu Hamzah. Keluarga itupun, kata Juru Bicara Mabes Polri, Dedi Prasetyo berencana melakukan aksi teror seperti yang dilakukan keluarga Dita Oepriarto di Surabaya, Jawa Timur, pada Mei 2018.

“Kalau melihat kenekatannya begitu ya iya, dia terinspirasi dari kejadian di Surabaya itu,” ujar Juru Bicara Mabes Polri, Dedi Prasetyo kepada BBC News Indonesia, Kamis (14/03).

Hasil pemeriksaan pula diketahui, keyakinan Solimah terhadap radikalisme lebih kuat dan ekstrem dari suaminya. Itu mengapa ketika Densus 88 membawa Husain ke rumahnya yang terletak di Jl. KH Ahmad Dahlan, Gang Sekuntum, Pancuran Bambu, Sibolga, Sumatera Utara, untuk membujuk tak berhasil.

“Husain alias Abu Hamzah bilang, ‘Saya nggak yakin bisa meluluhkan hati istri saya karena pemahaman istri saya terhadap ideologi sangat keras’,” kata Dedi.

Karenanya, Kepolisian tengah mempelajari serangan-serangan terorisme yang melibatkan istri beserta anak-anaknya. Dalam catatan polisi, aksi semacam ini baru ada tiga, dua di antaranya terjadi di Surabaya dan Sidoarjo.

terorismeHak atas fotoANTARA FOTO/APRILLIO AKBAR
Image captionKaropenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menunjukkan lokasi dari kasus meledaknya bom di Sibolga, di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (13/3/2019).

 

Selain itu Densus 88 juga mulai melibatkan polisi wanita (polwan) ketika menginterogasi terduga teroris perempuan. Sebab bagaimanapun, kata Dedi, peran mereka tak kalah kuat dibanding laki-laki.

“Densus sudah berdayakan polwan untuk memonitor perkara yang melibatkan perempuan dalam kelompok-kelompok itu. Jadi tidak hanya laki-laki. Misalnya dalam interogasi,” sambungnya.

Lebih jauh Kepolisian menyebut pasangan suami istri tersebut belajar tentang merakit bom enam tahun lalu di beberapa wilayah di Pulau Jawa.

“Belajar merakit bom itu enam tahun lalu, makanya dia sangat ahli dilihat dari jenis-jenis bom yang dirakit banyak variannya.”

Pesan tersirat Solimah

Pengamat Terorisme, Sofyan Tsauri, menyebut aksi meledakkan diri yang dilakukan Solimah, istri terduga teroris Husain alias Abu Hamzah, memberi pesan khusus kepada para pelaku terorisme lainnya, khususnya perempuan.

“Itu pesan tersirat untuk perempuan dan laki-laki, ‘Apa iya nggak ada laki-laki yang bermain? Enggak malu anthum sama perempuan? Perempuan sudah bermain,” ujar Sofyan Tsauri yang juga merupakan bekas narapidana terorisme, kepada BBC News Indonesia, Kamis (14/03).

“Jadi kasus ini akan memicu perempuan-perempuan beraksi, akan berlanjut,” sambungnya.

Dari pengamatannya, peran perempuan yang berafiliasi dengan kelompok ISIS sangat dominan. Bahkan dalam beberapa kasus yang ia temui, perempuan atau istri bisa mendorong suaminya agar melakukan ‘amaliyah’ ke Suriah.

“Dalam kelompok radikal seperti ISIS, perempuan begitu dominan, betul-betul mempunyai semangat yang tinggi daripada laki-lakinya,” jelasnya.

“Karena beberapa kali kita lihat kasus terorisme, justru perempuan yang menawarkan.”

Lebih jauh ia mengatakan, mayoritas para terduga teroris perempuan terdoktrin oleh pasangannya dan jika sudah terpapar pemahaman radikalisme sulit untuk diredam. Itu mengapa, Sofyan mengaku tak kaget dengan aksi Solimah yang memilih meledakkan diri ketimbang mengikuti bujukan suaminya agar menyerah.

“Sekalinya terdoktrin sulit lepasnya. Maka apapun, siapapun sampai suami tidak bisa memediasi, tidak akan diterima. Mereka memilih mati daripada menyerahkan diri.”

Untuk itu, ia menyarankan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) agar merancang strategi khusus untuk menderadikalisasi pelaku teror perempuan. Sebab selama ini objek deradikalisasi lebih menyasar laki-laki.

“Karena kalau perempuan sudah didoktrin, sangat kuat apalagi ini masalah keyakinan. Jadi nggak kalah strong,” ujarnya.

terorismeHak atas fotoARCROFT MEDIA VIA GETTY IMAGES
Image captionSiti Maesaroh merupakan istri dari pelaku terorisme, Muhammad Ali yang membom sebuah mal di Jakarta.

 

sumber : bbcindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 + eighteen =