[Menyambut Hari Ibu Nasional 22 Desember 2025]
Ibu merasakan perjuangan hidup yang luar bisa; merasakan kehamilan, mengurus suami dan anak-anak serta mengurus rumah tangga, melahirkan dan menyusui bayinya, merawat dan membesarkan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Sejak bayi di dalam kandungan tak henti-hentinya tilawah al-Qur’an, salawat kepada Rasulullah saw, membasahi lisannya dengan zikir dan munajat agar bayi yang dikandungnya lahir dengan selamat, sehat, normal, dan kelak menjadi hamba Allah swt yang taat, penuh bakti kepada orangtua, sayang kepada saudara-saudara kandungnya, dan dimudahkan rezekinya, sukses dunia dan akhirat.
Ibu juga membantu menstabilkan ritme emosional keluarga, sering ia mengingatkan para ayah dan anak-anaknya untuk berlaku sabar dalam kondisi apa pun; Sabar dalam beribadah, sabar dengan menu masakan yang dimasaknya, sabar ikut membersihkan rumah dan terasnya, sabar merawat yang sakit di antara anggota keluarganya, sabar dalam bekerja dan meniti karir, sabar dalam belajar dan mengajar, sabar dalam menghadapi tekanan kerja dan bisnis, sabar dalam menghadapi tingkah polah manusia yang di hadapi di lingkungan kerja dan bisnis, sabar dalam membangun rumah tangga, dan beragam penanaman kesabaran yang senantiasa diingatkan oleh ibu.
Allah swt berfirman,
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ إِحْسَٰنًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”
[al-Ahqaf (46) : 15]
Allah swt memerintahkan manusia supaya berbuat baik serta berlemah lembut kepada kedua orangtua, ibunya menderita karenanya ketika mengandungnya, mengalami kesulitan dan kepayahan; seperti mengidam, pingsan, rasa berat dan cobaan lainnya yang dialami oleh para wanita hamil. Dan melahirkannya dengan penuh kesulitan, juga berupa rasa sakit yang teramat sangat. Ali bin Abi Thalib menjadikan ayat ini sebagai salah satu dalil bahwa menyusui bayi minimal enam bulan.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra ia berkata, Jika seorang wanita melahirkan bayi selama 9 bulan, maka cukup baginya menyusui bayi 21 bulan, dan jika melahirkan untuk kehamilan 7 bulan, maka cukup baginya menyusui 23 bulan. Dan jika ia melahirkan untuk kehamilan 6 bulan, maka cukup baginya menyusui bayinya 2 tahun penuh (24 bulan). Hal ini sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Katsir di dalam tafsirnya.
Mengapa pesan supaya berbuat baik kepada orangtua diulang-ulang di dalam al-Qur’an dan hadis dan pesan agar orangtua berbuat baik kepada anak sangat jarang dan kondisional? Menurut Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, sebab, fitrah orangtua itu sendiri sudah cukup untuk mewajibkan keduanya memelihara anak secara otomatis karena dorongan fitrah dan tidak ada motivasi lain. Bahkan kadang-kadang pengorbanan orangtua membawanya kepada kematian, terutama penderitaan. Semua itu tanpa ragu-ragu, tanpa mengharapkan imbalan, tanpa menyebut-nyebut pengorbanannya, dan tanpa mengharapkan ucapan terima kasih.
الأم مدرسة الأولى, إذا أعددتها أعددت شعبا طيب الأعراق
Ibu adalah madrasah (sekolah) yang pertama, jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan lahirnya sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya
Sejarah mencatat ada peran para ibu dan wanita di dalam meletakkan dasar-dasar peradaban (al-Qur’an, hadis, akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah) yaitu; Siti Hajar, ibunda Nabi Musa as, Asiyah binti Muzahim, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Salamah, Fatimah binti Muhammad saw, Asma’ binti Abu Bakar, Al-Khansa’, Rabi’ah al-Adawiyah, Zaenab Al-Ghazali.
Setahun sekali minimal saat Idul Adha setiap muslim dan muslimah akan mengingat salah satu peletak dasar peradaban yaitu ibu Siti Hajar. Dan bagi yang melaksanakan sa’I dalam ibadah umrah akan merasakan perjuangannya ketika mencari air untuk sang buah hati Ismail, dengan berjalan dan berlari menyusuri bukit Safa menuju Marwah hingga tujuh kali.
Ketika Ibrahim as hendak meninggalkan dirinya dan bayi yang baru lahir, ia bertanya,
Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau tinggalkan kami? Nabi Ibrahim as menjawab, Kepada Allah swt. Siti Hajar berkata, Aku ridha kepada Allah.
[HR, Bukhari]
Islam menjadikan keluarga sebagai batu batu pertama peradaban, dengannya seorang anak mendapatkan sentuhan pengasuhan lewat seorang ibu. Dengan cinta dan kasih bayi mungil yang baru lahir tidak akan melepaskan genggaman tangannya dari genggaman sang ibu, terus ingin menguasai ibunya selama dua tahun pertama kehidupannya. Maka manusia tidak akan mampu membalas pengorbanan seorang ibu.
Suatu ketika ada seseorang bertawaf sambil menggendong ibunya, dia menemui Rasulullah saw seraya bertanya. Apakah aku telah menunaikan haknya? Nabi saw menjawab, Tidak! Tidak membalas satu pun dari helaan nafasnya.
[HR. al-Bazzar]
Sungguh apa pun yang kita capai saat ini selain karena Rahmah Allah swt juga hasil dari do’a-do’a yang telah dipanjatkan oleh para orangtua terkhusus do’a lirih, munajat penuh kekhusyu’an dan keikhlasan dari para ibu sejak kita masih dalam kandungan, dalam buaian hingga ke gerbang pernikahan.
Semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan kesehatan dan kebahagiaan kepada para ibu di manapun berada agar bisa melahirkan keluarga tangguh. Perempuan Berdaya dan Berkarya menuju Indonesia Emas 2045. Aamiin.
[Jakarta, 2 Rajab 1427 H / 22 Desember 2025]
Arief Rahman Hakim
Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ












