SUAMI-ISTERI SALING MENGUATKAN

0
59
Ilustrasi

Serial Keluarga Sakinah [ Edisi Ke-Enam Belas]

Oleh : Arief Rahman Hakim

Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ

KEHIDUPAN rumah tangga itu mengalami dinamika dan pasang surut; adakalanya selalu di bawah, adakalanya stabil, dan adakalanya makmur sejahtera. Tetapi para suami dan isteri harus yakin bahwa Allah swt tidak akan membiarkan hamba-Nya yang taat selalu berada di bawah.

Manusiawi jika di satu saat suami atau isteri merasa sedih dan lemah dalam menjalani hidup dan menghadapi beberapa masalah kehidupan namun tidak boleh menjadi sebuah tradisi karena Allah swt senantiasa hadir bersama para malaikat-Nya yang menjaga dan melindungi setiap manusia.

 

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

 

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman

 

إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ ٱلْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُۥ ۚ وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَآءَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ

 

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,(Ali Imran (3) : 139-140)

Sebab turunnya ayat 139 menurut Syaikh Wahbah az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir,  dari Abdullah bin ‘Abbas r.a. ia berkata, Pada perang Uhud, para sahabat mengalami kekalahan. Lalu ketika itu, tiba-tiba Khalid bin Walid beserta pasukan berkuda kaum musyrik ingin naik ke atas bukit untuk menyerang pasukan Islam. Melihat hal itu, Rasulullah saw berkata, Ya Allah, jangan sampai mereka mengalahkan kami, ya Allah, tiada kekuatan bagi kami kecuali atas izin dan kehendak-Mu, ya Allah, di tanah ini tidak ada orang yang menyembah-Mu kecuali orang-orang ini.

Kemudian Allah SWT menurunkan ayat-ayat ini. Lalu ada sekelompok dari kaum Muslimin yang langsung meloncat berlarian ke atas bukit, lalu mereka menyerang pasukan berkuda kaum musyrik dengan senjata panah sehingga akhirnya mereka kalah dan mundur.

Ibnu Katsir menjelaskan di dalam Lubabut Tafsir, bahwa Allah swt berpesan agar kaum Muslimin jangan melemah akibat peristiwa yang telah terjadi. Dan kesudahan yang baik serta pertolongan-Nya hanya bagi orang-orang yang beriman. Jika kaum Muslimin menderita luka dan beberapa orang di antara mereka gugur, maka luka dan kematian itu juga telah menimpa musuh-musuh mereka.

Masih menurut Ibnu Katsir, suatu saat Allah swt akan pergilirkan kemenangan bagi musuh-musuh kaum Muslimin, meskipun kesudahan yang baik tetap  berada pada kaum Muslimin.

Dalam Perang Uhud ini kaum Muslimin ditimpa luka, terbunuh, dan mengalami kekalahan. Mereka mengalami penderitaan jiwa dan fisik. Di antaranya terbunuh tujuh puluh orang sahabat, gigi geraham Rasulullah saw patah, wajah beliau luka dan para sahabat juga banyak yang terluka. Sebagai akibat semua ini ialah timbulnya goncangan dan benturan jiwa yang tidak pernah kaum Muslimin alami setelah kemenangan Perang Badar, hal ini sebagaimana dijelaskan Sayyiq Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.

Dulu Rasulullah saw pernah menjadi staf isterinya, Ibu Khadijah binti Khuwailid seorang pengusaha sukses di zamannya yang menaruh hati kepada kejujuran dan profesionalitas Muhammad saat itu. Hingga kemudian proses lamaran dan terjadilah pernikahan dua manusia dari dua suku mulia bangsa Arab dengan perbedaan usia dan status sosial yang berbeda jauh. Dari pernikahan itu Rasulullah saw mendapatkan keturunan yang melengkapi kebahagiaan pasangan suami isteri.

Di saat Rasulullah saw mendapat amanah Allah swt sebagai Rasul, beliau merasa gemetar dan ketakutan ketika mendapat wahyu pertama di Gua Hira’ seraya berkata kepada isterinya (Khadijah binti Khuwailid), Selimuti aku, selimuti aku.

Ibu Khadijah sebagai isteri tidak panik bahkan berusaha menenangkan jiwa Rasulullah saw sambil menyelimuti nya dengan menyebut-nyebut kebaikan suaminya ; Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Engkau selalu menyambung tali silaturahmi, membantu yang lemah, memuliakan tamu, dan menolong orang yang membela kebenaran.

 Orang-orang beriman itu paling tinggi derajatnya dan akan Allah swt menangkan dan sukseskan menurut Sayyid Qutb karena ; akidahnya lebih tinggi yaitu hanya bersujud kepada Allah swt, pedoman hidupnya lebih tinggi karena berjalan menurut pedoman Allah swt (Al-Qur’an), peranannya lebih tinggi karena sebagai pewaris risalah dakwah Rasulullah saw, dan kedudukannya lebih tinggi sebagai khalifah fi al-ardh, pemimpin di muka bumi.

Dua ayat di atas juga memberi pesan bahwa ada orang-orang yang menikmati hidup, kenyamanan, kekayaan dan fasilitas jabatan juga akan Allah Ta’ala uji. Berapa banyak di antara mereka yang sabar, tahan pada saat di bawah, teruji di saat lemah dan serba kekurangan. Namun lupa diri di saat berada dalam kesuksesan dan keberhasilan.

Sejatinya para suami pun tidak berpangku tangan ketika para isteri merasa kesusahan dan kesulitan saat memutar otak dan berupaya optimal dalam mengatasi manajemen keluarga, baik dalam hal pengelolaan rumah beserta isinya, pendidikan anak-anak maupun terkait finansial keluarga. Para suami harus yakin bahwa Allah swt akan menolong hamba-Nya, terus memperkuat hubungan dengan-Nya dan tidak mudah putus asa.

Para suami dan isteri harus yakin bahwa Allah ta’ala akan pergilirkan nasib para hamba-Nya, ada saat-saat kesulitan dan kelapangan, dan ada saat-saat kelemahan dan kesuksesan in syaa Allah.

Semoga Allah Ta’ala mudahkan para suami dan isteri untuk saling menguatkan dan saling membantu. Aamiin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

20 + 9 =