Oleh : Ustaz Arief Rahman Hakim, M.Ag. (Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ)
بسم الله الرحمن الرحیم
{ وَٱضۡرِبۡ لَهُم مَّثَلَ ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا كَمَاۤءٍ أَنزَلۡنَـٰهُ مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ فَٱخۡتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلۡأَرۡضِ فَأَصۡبَحَ هَشِیمࣰا تَذۡرُوهُ ٱلرِّیَـٰحُۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ مُّقۡتَدِرًا }
Dan buatkanlah untuk mereka (manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
[Surat Al-Kahfi (18): 45]
Ibnu Katsir di dalam Lubabut Tafsir menjelaskan perumpamaan dunia dalam kehancuran, kefanaan dan keberakhirannya. Semua yang ada di dalamnya berupa biji-bijian lalu tumbuh indah dan meninggi serta menjadi bunga. Setelah itu semuanya diporakporandakan dan diterbangkan ke kanan dan ke kiri. Allah Ta’ala Mahakuasa menjadikan keadaan seperti itu.
Syaikh Wahbah az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir menyatakan bahwa dunia yang saat itu tampak segar, indah, dan gemerlap atas kehendak Allah berubah menjadi kelam, gelap gulita, serta tiada keindahan dan kemegahannya lagi. Dunia yang gemerlap dan indah itu akan berubah menjadi hancur dan sirna, seperti keadaan tanaman hijau dengan bunga yang cantik, segar dan indah dipandang mata. Tanaman tersebut tumbuh semakin indah berkat siraman air dari langit. Namun, setelah mengalami proses tersebut, tanaman itu tiba-tiba berubah menjadi layu atau kering, dengan mudah tertiup angin atau terpisah dan tersebar ke kanan dan ke kiri.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di menjelaskan Orang yang cerdik lagi berkepribadian kuat yang meraih taufik (dari Allah) menghadirkan kondisi perumpamaan dunia ini ke hadapan matanya. Kemudian berkata kepada dirinya sendiri, Anggap saja bahwa engkau sudah mati, dan pasti engkau akan mati, kondisi manakah yang engkau pilih, tertipu dengan keindahan tempat ini (dunia) dan bersenang-senang layaknya binatang-binatang ternak yang sedang berkeliaran, ataukah beramal untuk tempat yang perjamuannya abadi dan naungannya (pun demikian). Di dalamnya terdapat apa saja yang diinginkan oleh hati dan sedap (dipandang) mata. Dengan ini menurut beliau bisa diketahui, apakah seorang hamba mendapatkan taufik atau tersia-siakan, memperoleh keuntungan atau kerugian.
Permisalan bagi kehidupan dunia yang ibarat tanaman adalah bahasan umum di dalam Al-Qur’an, hal ini ada di beberapa ayat. Perumpamaan siklus ini menurut Yasir Qadhi seperti menggambarkan kefanaan hidup yang dipahami kebanyakan orang. Analogi kehidupan dunia ibarat air sebuah analogi indah karena kita semua membutuhkan kadar air yang tepat untuk hidup, yang jika terlalu banyak kita akan tenggelam dan binasa.
Ada banyak persamaan antara hidup dan bercocok tanam. Masih menurut Yasir Qadhi, Pertama, sifatnya sementara. Kedua, sangat menyenangkan ketika hidup dan subur. Ketiga, sama-sama tidak berguna setelah mati
Mengapa Allah Ta’ala menserupakan dunia dengan air? Karena air sifatnya tidak dapat menetap selamanya di suatu tempat, hal ini sebagaimana disebut Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah Al Muqbil.
Dr. Badri Yatim dalam Sejarah Peradaban Islam menjelaskan bagaimana Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua mencontoh administrasi negara seperti yang dilakukan di Persia, dengan membagi pemerintahan menjadi delapan wilayah propinsi yaitu Mekkah, Madinah, Syiria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina dan Mesir.
Pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Juga pembangunan infrastruktur berupa pembangunan jalan-jalan, membangun Baitul Mal, penggunaan mata uang dan menjadikan tahun hijriyah.
Dr. Muhammad Syafii Antonio dalam Muhammad saw The Super Leader Super Manager menyebutkan bahwa masa kekhalifahan Umar bin Khattab, negara Islam Madinah sudah mulai mapan, dan Umar disebut sebagai pendiri kedua negara setelah Rasulullah saw.
Dulu Nabi Nabi Yusuf as meminta jabatan bendaharawan negara atau Menko Perekonomian karena beliau memiliki kapasitas yang mumpuni dalam hal itu, yaitu amanah dan profesional (Surat Yusuf (12) : 55), dan Nabi Sulaiman as meminta kepada Allah Ta’ala kekuasaan berupa kerajaan yang tidak terbatas dan tidak akan Allah berikan yang semisal kepada orang-orang setelahnya (Surat Shad (38) : 35). Karena keduanya orang salih, berintegritas, profesional dan kapabel dalam memimpin jabatan atau amanah yang memang sudah menjadi keahliannya. Dan keduanya menggunakan ilmu dan keahliannya untuk sebesar-besarnya kemaslahatan bangsanya. Allah Ta’ala pun mengabulkan keinginan-keinginan keduanya.
Terkadang dalam keseharian mungkin kita terpesona dengan gaya hidup seseorang yang ditampakkan secara langsung saat berinteraksi, mungkin juga dipamerkan lewat beberapa platform media sosial. Ada perasaan kagum, iri ingin bisa berkehidupan dan berpenampilan seperti orang tersebut
Sebenarnya mungkin kita tahu berapa modalnya gaya hidup seseorang tersebut. Dan manusia sering lupa jati dirinya dan bahkan terkadang dengan mudahnya mengabaikan beragam masalah yang dihadapi dan menganggapnya tidak ada masalah.
Rasulullah saw bersabda,
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ
Barangsiapa yang kebaikannya membuatnya senang dan keburukannya membuatnya sedih, dia adalah seorang mukmin
[HR. Tirmizi dan Ahmad]
Di dalam Mukhtasar Sya’bul Iman (77 Cabang Iman), Imam Al-Baihaqi menempatkan cabang iman ke-46, Merasa bahagia jika berbuat kebaikan dan sedih jika berbuat kejahatan.
Seorang hamba bahagia ketika beramal kebaikan karena dia melihat bahwa kebaikan itu adalah bukti kebenaran ketika mengagungkannya, diilhami kecintaan ketika melihatnya. Keterikatan hati dengan sesuatu menunjukkan kecintaan terhadap sesuatu. Rasa sedih terhadap keburukan sebagai bukti kalua dia membenci dan tidak menginginkannya, bagaikan ditimpa musibah yang sangat besar. Inilah yang dinamakan keimanan yang hakiki..
Ibnul Qayyyim Al-Jauziyah mengutip ungkapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Madarijussalikin, Jika engkau tidak mendapatkan kemanisan dari suatu amal dalam hatimu, maka curigailah ia. Karena Allah adalah Maha Penerima Syukur. Artinya, Allah pasti akan memberi pahala kepada seseorang di dunia karena amalnya, berupa kemanisan yang dirasakan di dalam hati, kesenangan dan kegembiraan. Jika dia tidak merasakannya, berarti amal itu disusupi setan.
Imam Ibnu Al-Jauzi dalam Shaidul Khatir mengatakan bahwa tatkala nasihat diperdengarkan kepada seseorang, seringkali muncul dalam dirinya suatu kesadaran spontan. Namun tatkala ia keluar dari majlis ilmu, hatinya kembali keras dan membatu.
Karena dunia hanya persinggahan. Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita terus bertebaran di muka bumi dan beraktifitas dalam kerangka ridha Allah dan berakhir dengan husnul khatimah di akhir hidup kita.
Allahumma Aamiin.












