KEHIDUPANKU

0
405
Ilustrasi: Seorang anak belajar membaca Al-Qur’an bersama ayahnya. [AI]

AKU menikah dengan sandaran sepenuhnya pada imajinasi, bukan pada realitas. Imazinasilah yang melukiskan potret tentang istriku, wataknya, dan sifat-sifatnya.

Dalam membayangkan hal itu, aku bersandar pada cerita para wanita yang pernah melihatnya secara langsung. Imajinasilah pula yang melukis potret kehidupan masa depanku.

Aku membangun ekspektasi itu berdasarkan apa yang kudengar dari kisah orang-orang yang bahagia maupun yang sengsara dalam pernikahan mereka. Di samping itu, aku juga bersandar pada apa yang kubaca dari buku-buku berbahasa Inggris mengenai kehidupan rumah tangga.

Namun, alangkah jauhnya perbedaan antara kenyataan dan imajinasi. Imajinasi melukiskan keindahan seraya terbang bebas di angkasa, sedangkan kenyataan berpijak kuat di bumi serta terikat oleh lingkungan, ruang, dan waktu.

Ada sebuah kisah yang menimpa salah seorang sahabatku yang selalu mengingatkanku pada jurang pemisah antara fantasi dan realitas ini. Suatu hari, aku bepergian bersama sahabatku itu ke kota Iskandariyah.

Aku mahir berenang sedangkan dia sama sekali tidak bisa. Maka, dia pergi ke perpustakaan untuk membeli sebuah buku berbahasa Inggris tentang panduan berenang.

Dia terjaga sepanjang malam demi menuntaskan buku tersebut hingga menguasai teori dan metode berenang dengan baik. Berbekal teori itu, dia merasa sangat yakin bahwa dirinya sanggup mengalahkan perenang paling mahir sekalipun.

Namun, begitu kami turun langsung ke laut, seluruh teori dan ilmunya seketika menguap tanpa bekas. Wajahnya berubah pucat, tubuhnya gemetar panik, dan dia nyaris saja tenggelam.

Aku pun menemui istriku dan memuji Allah atas karunia yang telah Dia berikan kepadaku. Perlahan, aku mulai mengenali sifat-sifatnya yang tampak hari demi hari setiap kali ada momentum atau kejadian baru.

Hal pertama yang mengezutkan istriku adalah kepribadianku yang sangat tenang, kurang jenaka, dan irit bicara. Padahal, dia terbiasa tumbuh besar di dalam rumah yang penuh keceriaan, gelak tawa, kebahagiaan, serta riuh dengan obrolan.

Dia sempat mengira bahwa aku menyesal telah menikahinya. Aku berulang kali meyakinkannya bahwa ini adalah karakter asliku yang terbentuk dari lingkungan keluargaku dahulu.

Dia baru memercayai penjelasanku setelah waktu yang cukup lama berlalu. Keyakinan itu muncul setelah dia menyadari bahwa tabiat diamku ini tidak hanya terjadi kepadanya saja, melainkan kepada orang lain juga.

Masalah lainnya muncul karena profesiku sebagai seorang guru yang harus mempersiapkan materi pelajaran pada malam hari untuk diajarkan esok paginya. Lebih dari itu, aku juga sangat gemar membaca buku di luar materi pelajaranku.

Di sisi lain, istriku adalah seorang wanita dengan tingkat pendidikan yang terbatas, yang hanya gemar membaca kisah-kisah dan novel ringan. Dia menghabiskan waktu sepanjang pagi seorang diri untuk menyiapkan makanan dan membersihkan rumah.

Namun, bagaimana cara dia menghabiskan waktu malamnya sendirian sementara aku berada di ruang kerja yang tepat berada di sebelahnya untuk membaca dan menulis? Terlebih lagi, saat itu adalah hari-hari pertama pernikahan kami.

Pada suatu malam, dia menyiapkan makan malam lalu membuka pintu ruang kerjaku untuk mengabarkan bahwa hidangan telah siap. Saking fokusnya, aku tidak mendengar panggilannya dan tidak menyadari ketika pintu dibuka.

Istriku seketika marah besar atas kejadian itu dan mengadukan sikapku kepada keluarganya. Aku memang tidak mampu mengubah tabiat asliku, tetapi masalah tersebut perlahan mulai terurai dengan lahirnya anak pertama kami yang kemudian disusul oleh kelahiran anak-anak berikutnya.

Setelah istriku memahami karakterku dan aku pun memahami karakternya, kompromi dan saling pengertian akhirnya tercapai. Sejak saat itu, dimulailah kehidupan rumah tangga yang tenang lagi bahagia.

Di dalam kehidupan baru ini, kami memprioritaskan kemaslahatan anak-anak dan penciptaan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang mereka. Namun, atmosfer yang tenang tersebut adakalanya terusik oleh dua permasalahan utama.

Masalah yang pertama adalah urusan pelayan rumah tangga. Rumah kami tidak bisa lepas dari keberadaan mereka, tetapi kehadiran mereka juga kerap mendatangkan rasa tidak nyaman.

Permasalahan pelayan ini menjadi problem kronis di rumah kami, khususnya terkait dengan asisten rumah tangga wanita. Istriku adalah tipe wanita temperamental yang menuntut agar seluruh perintahnya dilaksanakan tanpa celah.

Sementara itu, para asisten rumah tangga adakalanya tidak bekerja dengan baik, tidak mampu, atau bahkan bersikap keras kepala. Kondisi tersebut memicu kemarahan istriku, dan jika aku mencoba menengahi konflik di antara mereka, pusaran pertikaian itu seketika berbalik menyerangku.

Selain itu, istriku adalah seorang wanita yang pencemburu. Dia sama sekali tidak suka jika asisten rumah tangga di rumah kami memiliki paras yang menawan.

Jika kedapatan asisten yang berparas cantik, maka bersiaplah ia menghadapi kesulitan besar di rumah ini. Akhirnya, aku memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya urusan pelayan ini kepada istriku, agar dia bebas memberhentikan atau menerima siapa saja yang dia kehendaki.

Masalah kedua berkaitan dengan metode komunikasi untuk saling memahami. Dahulu, aku meyakini bahwa logika dan akal sehat adalah satu-satunya instrumen alami untuk mencapai kesepahaman saat menghadapi masalah.

Namun, setelah melewati rangkaian pengalaman hidup yang panjang, aku menyadari bahwa berdebat menggunakan logika adalah metode paling tidak efektif saat menghadapi mayoritas wanita yang kutemui. Ketika engkau berbicara mengarah ke timur, mereka akan menyahut ke arah barat; ketika engkau berbicara tentang langit, mereka akan membalas tentang bumi.

Engkau mengajukan argumen-argumen logis, tetapi di mata mereka, semua dalil itu sama sekali tidak memiliki nilai. Begitulah dinamika rumah tangga kami, yang adakalanya tenang bagaikan laut yang teduh, tetapi sewaktu-waktu badai masalah datang menggulung ombaknya sebelum akhirnya badai itu reda dan laut kembali ke ketenangannya.

Aku dikaruniai anak pertama tidak lama setelah pernikahan kami dilangsungkan. Perhatianku tercurah sepenuhnya kepada anak itu, bahkan aku sengaja membaca beberapa buku berbahasa Inggris dan Arab tentang pengasuhan anak.

Harus kuakui, aku cenderung bersikap keras kepada anak-anak pertamaku. Aku menerapkan pengawasan yang sangat ketat terhadap aktivitas belajar dan perkembangan moral mereka.

Aku tidak segan memberikan sanksi atas penyimpangan perilaku mereka sekecil apa pun. Aku pun hanya memberikan ruang kebebasan yang sangat terbatas kepada mereka.

Namun, seiring bertambahnya usiaku dan semakin luasnya cara pandangku, aku mulai mengurangi intervensi tersebut. Aku pun mulai memberikan porsi kebebasan yang jauh lebih besar kepada mereka.

Aku telah melewati banyak sekali dinamika dan kepayahan dalam mendidik anak, baik terkait kesehatan, pendidikan, maupun perilaku mereka. Aku bersyukur kepada Allah karena telah berhasil memikul tanggung jawab besar ini dan mengarahkan mereka dengan sangat baik.

Curahan kasih sayangku dan ibu mereka sangatlah berlimpah untuk mereka. Kami rela mengorbankan kebahagiaan kami demi kebahagiaan mereka, dan rela berlelah-lelah demi kenyamanan hidup mereka.

Kami hanya berharap agar Allah Swt. semata yang memberikan balasan atas segala pengorbanan ini. Sebab anak-anak adakalanya justru menghakimi kami atas satu patah kata kecil saja, yang mereka anggap dapat melukai perasaan mereka.

Menurut pandanganku, mengasuh dan mendidik anak bukanlah sebuah proses pertukangan yang sengaja memberi untuk menerima kembali, atau menjual demi meraup keuntungan materi. Mendidik anak adalah sebuah kewajiban suci yang ditunaikan oleh para orang tua demi masa depan anak-anak mereka dan kemajuan bangsanya.

Jika anak-anak kelak menghargai pengorbanan itu lalu menunaikan bakti kepada orang tuanya, maka itu adalah sebuah kesyukuran. Namun jika tidak, para orang tua setidaknya telah menunaikan kewajiban hidup mereka, dan Allahlah sebaik-baik pemberi balasan.[]

(Disadur dari karya Ahmad Amin, dalam Al-Arabiyyah Lin Nasyiin Jilid 6)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 + seven =