Jakarta (islamic-center.or.id)-Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ma’shum Faqih, menyambut penuh syukur keputusan penetapan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU. Forum tertinggi organisasi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026.
Gus Ma’shum menilai keputusan tersebut bukan sekadar penetapan lokasi penyelenggaraan biasa. Momentum ini mengandung makna historis dan spiritual yang sangat mendalam bagi perjalanan NU.
“Saya memandang keputusan ini sebagai karamah Mbah Yai Abdul Wahab Chasbullah. Muktamar di Tambakberas seperti menjadi panggilan para muassis (pendiri/pemrakarsa) agar seluruh keluarga besar NU kembali kepada rumah perjuangan, kembali memperkuat ukhuwah, adab, dan khidmat,” kata Gus Ma’shum melalui keterangannya di Jakarta, Rabu (08/07/2026).
Anggota Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan itu menjelaskan bahwa KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan inisiator, pendiri, sekaligus penggerak lahirnya Nahdlatul Ulama. Perjuangan beliau dimulai melalui embrio Komite Hijaz pada 1926 silam.
Meski menjadi penggagas utama, Mbah Yai Wahab tetap menunjukkan kerendahan hatinya. Beliau memohon restu terlebih dahulu kepada gurunya, KH M Hasyim Asy’ari, sebelum NU resmi didirikan.
Menurut Gus Ma’shum Faqih, dipilihnya Tambakberas di tengah berbagai dinamika organisasi membawa pesan moral yang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa Nahdlatul Ulama tidak pernah lepas dari doa, keteladanan, dan warisan nilai para pendirinya.
“Saya meyakini para muassis tidak pernah meninggalkan NU. Seakan-akan Mbah Yai Wahab sedang mengajak kita semua pulang, kembali meneguhkan persatuan dan mengutamakan kemaslahatan jam’iyah (perkumpulan) di atas kepentingan apa pun,” ujarnya.
Gus Ma’shum merupakan tokoh yang pernah mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Timur dan Pendiri Forum Gawagis Nusantara. Ia berharap Muktamar ke-35 menjadi momentum meneguhkan kembali tata kelola organisasi sesuai khittah Nahdlatul Ulama.
“Para muassis telah memberikan teladan bahwa ulama adalah penuntun arah perjalanan jam’iyah. Karena itu, saya berharap muktamar di Tambakberas menjadi momentum memperkuat kembali peran Mustasyar dan Syuriyah sebagai penjaga nilai, hikmah, dan arah organisasi, sementara Tanfidziyah menjalankan amanah organisasi sesuai kewenangannya. Harmoni itulah yang menjadi kekuatan NU selama lebih dari satu abad,” tutur Gus Ma’shum Faqih.[ANTARA]












