Bogor (islamic-center.or.id) – Seruan untuk meningkatkan solidaritas terhadap Palestina kembali digaungkan dalam kajian yang digelar di Majelis Al Ihya, Bogor, Ahad (29/3/2026).
Dalam kesempatan tersebut, para Asatidz Majelis Al Ihya mengajak umat Islam untuk lebih peduli terhadap kondisi terkini Masjid Al-Aqsha yang saat ini telah ditutup selama sebulan oleh penjajah Israel.
Pimpinan Majelis Ukhuwah Bogor Raya, Ustaz Abdul Qadir Nurhasan, menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi yang terjadi di Masjid Al-Aqsha. Ia menyoroti bahwa pada momen Ramadhan hingga Idulfitri tahun ini, tidak ada pelaksanaan salat berjamaah di masjid suci tersebut.
“Ini adalah hal yang sangat miris dan menyedihkan. Setelah ratusan tahun, baru kali ini tidak ada pelaksanaan salat Idulfitri di Masjid Al-Aqsha. Dari sekitar dua miliar umat Islam di dunia, belum ada langkah nyata yang mampu membebaskan masjid suci tersebut dari penjajahan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsha merupakan salah satu tempat suci umat Islam yang harus dijaga bersama. Oleh karena itu, ia mengajak umat Islam di seluruh dunia untuk meningkatkan kepedulian melalui tiga langkah utama yang disebutnya sebagai “tiga jihad nyata”.
“Pertama jihad doa, yaitu senantiasa mendoakan kemerdekaan Palestina dan pembebasan Masjid Al-Aqsha di setiap waktu mustajab. Kedua jihad boikot, dengan tidak menggunakan produk-produk yang terafiliasi dengan Israel dan sekutunya. Ketiga jihad harta, yaitu menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu rakyat Palestina,” jelasnya.
Menurutnya, ketiga langkah tersebut merupakan bentuk kontribusi nyata yang dapat dilakukan oleh setiap individu dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Pimpinan Majelis Al Ihya, KH Chaerul Saleh, juga mengingatkan pentingnya peran umat dalam melemahkan kekuatan ekonomi pihak yang dianggap berkontribusi terhadap penindasan di Palestina.
“Kalau kita tidak mampu memberi bantuan secara langsung, minimal jangan sampai kita justru memperkuat ekonomi mereka. Boikot adalah salah satu bentuk sikap yang bisa kita lakukan,” ujarnya.
Ulama yang akrab disapa Babah Chaerul itu juga menyoroti pentingnya pengelolaan keuangan umat agar lebih berpihak pada kepentingan solidaritas kemanusiaan. Menurutnya, dana yang digunakan untuk ibadah sunnah berulang dapat dialihkan untuk membantu perjuangan umat Islam di Palestina.
Ia mencontohkan ibadah umroh, menurutnya umat Islam tidak perlu berkali-kali melaksanakan umroh, lebih baik dananya disumbangkan untuk perjuangan Palestina atau gerakan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Jika ada kemampuan harta, akan lebih bermanfaat jika disalurkan untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina. Kepedulian terhadap sesama adalah nilai yang sangat tinggi di sisi Allah,” tambahnya.
Kegiatan Majelis Al Ihya di momen halalbihalal ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kondisi Palestina, serta mendorong aksi nyata dalam bentuk doa, bantuan kemanusiaan, dan sikap ekonomi yang berpihak kepada umat Islam. []












