Benny Wenda menuding Wiranto telah membuat milisi sipil di Papua.
JIC, JAKARTA– Beny kembali memotong penjelasan Yenny. “Di bawah otonomi khusus berapa banyak orang yang telah terbunuh? Tahun lalu Amnesty International melaporkan hampir 500 ribu orang terbunuh di bawah otonomi khusus. Apa pendapat Anda soal itu?” tanya Benny.
Silang pendapat pun terjadi lagi dan Femi Oke kembali mengambil alih. Selanjutnya, Benny, yang selama ini telah mengampanyekan kemerdekaan Papua Barat, ditanya apakah saat ini dia merasa semakin dekat untuk mencapai tujuannya. “Saya yakin ini adalah waktunya,” ujarnya.
Dia menyinggung tentang mengapa Indonesia sempat memutus jaringan internet di Papua saat terjadi kerusuhan di sana. “Sebanyak enam orang meninggal oleh militer dan kepolisian Indonesia. Itulah yang terjadi,” katanya.
Benny juga menuding Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto telah membentuk kelompok milisi sipil di sana. Dia secara terang-terangan menyebut Wiranto sebagai penjahat perang.
“Jadi mari kita membicarakan situasi di Papua Barat. Bawa kedamaian ke sana. Berikan masyarakat Papua Barat referendum. Itu yang kami minta,” ujar Benny.
Pada gilirannya Yenny menekankan bahwa dia dapat merasakan rasa sakit Benny saat dirinya membicarakan cercaan rasial, seperti yang terjadi di asrama mahasiswa Papua di Surabaya. “Rasa sakit (akibat ujaran rasialis) tidak hanya dirasakan masyarakat Papua, tapi seluruh warga Indonesia. Banyak yang bersimpati,” ucapnya.
Menurut dia, keberagaman latar belakang masyarakat, termasuk etnis, bukan berarti menjadi pengahalang untuk hidup dalam kerukunan. Yenny menyebut Amerika Serikat (AS) yang masyarakatnya beragam dapat hidup dalam harmoni.
“Ini pendekatan yang perlu kita dorong. Lebih banyak dialog, lebih mendengar satu sama lain. Dan kesamaan alasan, untuk saya dan Benny, bahwa kita berdua menginginkan yang terbaik untuk Papua,” kata Yenny.
“Kita ingin kemakmuran untuk Papua, kita ingin demokrasi untuk Papua. Dan cara untuk melakukan hal itu adalah saling mendengarkan satu sama lain,” ujar Yenny menambahkan.
Benny pun menyergah pernyataan Yenny. “Masalahnya kalian menduduki negara kami secara ilegal dan mulai membunuh kami. Itulah sebabnya pemerintahan Anda memanggil kami monyet,” kata dia.
Yenny mengakui memang ada siklus kekerasan di Papua. Namun dia tak sepakat dengan pernyataan Benny bahwa hal itu sepenuhnya dilakukan militer Indonesia. Kelompok sipil bersenjata dan pergerakan kemerdekaan juga turut andil dan terlibat dalam aksi kekerasan di sana.