Jakarta (islamic-center.or.id)—Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, memaparkan konsep Saadatuna sebagai penjelasan mendalam (syarah) atas Mabadi Khaira Ummah.
Gagasan dasar pembentukan umat terbaik yang dicetuskan oleh mantan Ketua PBNU KH Mahfudz Shiddiq ini memuat lima pilar utama tata kelola kehidupan bermasyarakat.
Pilar pertama adalah ash-shidqu atau kejujuran yang ditempatkan sebagai fondasi paling mendasar dalam tatanan sosial maupun ekonomi.
“Prinsip pertama, ash-shidqu, menjadi fondasi utama karena kejujuran merupakan syarat dasar dalam membangun kehidupan bermasyarakat. Sebelum segala sesuatu, nomor satu itu kejujuran. Makanya KH Mahfudz Shiddiq itu menempatkan ash-shidqu nomor satu paling dulu,” kata Gus Yahya dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
“Yang bisa kita upayakan adalah bagaimana supaya yang jujur beneran tetap bisa menang, walaupun kejujurannya tidak terlihat,” ujarnya dikutip dari ANTARA.
Pilar kedua adalah al-amanah wal wafa bil ahdi, yakni komitmen menjaga amanah serta menepati janji. Gus Yahya mencontohkan bahwa pangkalan data warga NU merupakan amanah organisasi yang haram diperjualbelikan ataupun dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis.
“Data warga ini amanah, bukan milik pengurus. Jadi ndak bisa diperjualbelikan. Ndak bisa dipinjam untuk politik atau apa. Dan itu harus ada jaminan,” katanya.
PBNU kini membangun sistem berbasis teknologi guna menjamin keamanan data warga agar pemanfaatannya berfokus pada kemaslahatan umat.
Pilar ketiga adalah al-adalah atau keadilan, yang dimaknai sebagai upaya menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Prinsip ini diterapkan agar seluruh pengurus dan warga NU di berbagai daerah memperoleh akses fasilitas serta kesempatan yang setara secara serentak.
Pilar keempat adalah al-istiqamah atau konsistensi pembangunan organisasi secara berkesinambungan lintas periode kepengurusan.
“Yang baik tak harus tuntas di tangan satu orang, tak boleh terputus pada satu periode,” katanya.
Ia menggarisbawahi pentingnya menjaga fondasi organisasi agar program kerja tidak terbengkalai akibat pergantian kepemimpinan.
Pilar kelima adalah taawun atau tolong-menolong dalam kebaikan sebagai watak alami warga NU. Menurut Gus Yahya, tugas organisasi adalah menciptakan sistem yang mampu mempertemukan pihak yang membutuhkan bantuan dengan pihak pemberi pertolongan secara cepat dan tepat sasaran.
Gus Yahya menegaskan bahwa taawun merupakan ajaran pokok Nabi Muhammad saw untuk saling menguatkan dan menjaga sesama umat. []












