Home Khazanah Islam Akhlak JIWA YANG SATU

JIWA YANG SATU

0
42

Oleh : Arief Rahman Hakim, M.Ag., Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan Pusat PPIJ

JIWA YANG SATU

Di antara adab seorang berilmu ketika akan memberikan pengajarannya, ia mensucikan dirinya dari hadas dan kotoran, membersihkan diri, memakai minyak wangi dan memakai baju yang paling bagus dan lazim di antara mata manusia saat itu, demi mengagungkan ilmu dan memuliakan syariat Islam.

Dahulu Imam Malik rahimahullah, ketika manusia datang kepadanya untuk belajar hadis darinya, maka beliau mandi dan memakai minyak wangi, dan mengenakan baju baru dan meletakkan sorban di atas kepalanya, kemudian duduk di atas mimbar dan senantiasa membakar kayu gaharu sebagai pewangi hingga ia selesai. Dan berkata, Aku cinta mengagungkan hadis Rasulullah SAW.

Kemudian salat istikharah dua rakat jika tidak dalam waktu-waktu yang diharamkan (untuk salat) dan berniat menyebarkan ilmu dan mengajarkannya dan memberikan faedah ilmu-ilmu agama, menyampaikan hukum-hukum Allah Ta’ala yang diamanahkan kepadanya dan diperintahkan untuk menjelaskannya dan membekali diri dengan ilmu, menampakkan kebenaran, kembali kepada kebenaran, berkumpul untuk mempelajari (hukum-hukum) Allah dan mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya sesama Muslim lalu mendoakan keselamatan kepada mereka dan para salafus salih.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ali bin Muhammad Aali Imraan dan Al Allamah Muhammad bin Ibrahim bin Jama’ah Al-Kinany Asy-Syafi’i dalam buku yang sudah diterjemahkan, Motivasi dan Panduan Menuntut Ilmu Disertai Kisah Mencengangkan Para Ulama dalam Belajar dan Mengajar.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

مَا جَعَلَ اللّٰهُ لِرَجُلٍ مِّنْ قَلْبَيْنِ فِيْ جَوْفِهٖ ۚ

Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya, [Al-Ahzab (33): 4]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di, Allah mencela hamba-hamba-Nya karena membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak ada hakikatnya (kebenarannya) dan Allah tidak menjadikannya seperti apa yang mereka katakan. Sebab, sesungguhnya perkataan dari mereka itu adalah kedustaan dan kepalsuan yang dapat menimbulkan berbagai kemungkaran secara syar’i. ini adalah satu kaidah umum dalam setiap pembicaraan tentang apa saja, dan ia menginformasikan kejadian dan keberadaan sesuatu yang tidak ditetapkan oleh Allah. Akan tetapi Allah mengkhususkan untuk menyebutkan hal-hal tersebut karena ia memang sudah terjadi dan karena kebutuhan mendesak untuk menjelaskannya.

Firman Allah, Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya. Ini tidak ada.

Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an mengatakan bahwa sesungguhnya hati manusia hanya satu. Karena itu manusia harus berjalan di atas jalur manhaj (jalan, sistem) yang satu, dan harus memiliki satu persepsi yang menyeluruh tentang kehidupan ini dan seluruh alam semesta yang bersandar darinya.

Manusia harus memiliki standar yang satu dalam menentukan nilai-nilai dan norma-norma serta mengoreksi segala kejadian dan segala sesuatu. Kalau tidak, maka dia akan terpecah belah, berpencar, menyimpang, dan melenceng dari pengarahan yang lurus.

Sesungguhnya pemilik akidah itu memiliki jiwa yang satu, kepribadian yang satu dan hati yang satu, serta dibangun dan dimakmurkan oleh akidah yang satu. Sehingga dalam semua perkara hidupnya, seorang hamba tidak pernah mengganti dan mengubah standar-standarnya, tidak pula persepsi-persepsinya.

Hati yang satu menurut Sayyid Qutb tidak mungkin menyembah dua Tuhan, tidak mungkin melayani dua tuan, dan tidak mungkin mengarah kepada dua tujuan. Dan, bila ia melakukan salah satu dari itu semua, maka hatinya akan tercerai berai, berpencar-pencar, dan berubah menjadi terpotong-potong dan berkeping-keping.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir, sebab turunnya ayat ini, At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata Pada suatu hari, Rasulullah saw sedang salat. Lalu di tengah salat, terbersit dalam hati beliau suatu hal (hingga mengganggu kekhusyu’an dan konsentrasi salat beliau). Lalu orang-orang munafik yang ikut salat bersama beliau berkata Tidakkah kamu lihat bahwa dia memiliki dua hati, satu hati bersama kalian dan satu hati bersama mereka. Lalu Allah Ta’ala pun menurunkan ayat,

مَا جَعَلَ اللّٰهُ لِرَجُلٍ مِّنْ قَلْبَيْنِ فِيْ جَوْفِهٖ

Sesungguhnya pribadi insani dan kesatuan konstruksi dan struktur anggota tubuh pada setiap orang adalah satu. Allah Ta’ala tidak menciptakan bagi siapa pun dua hati dalam tubuhnya. Maka Oleh karena itu, tidak ada satu orang pun yang memiliki dua hati di dadanya, tetapi hanya memiliki satu hati. Karena hati adalah pusat kontrol, kendali, keinginan, kehendak dan niat. Karena itu, jika seseorang adalah seorang Mukmin yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dia tidak akan mungkin sebagai orang yang kafir atau munafik pada waktu yang sama.

Dengan kata lain, menurut Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, dalam satu hati tidak akan mungkin berkumpul dua keyakinan. Tidak akan mungkin ada dua orientasi yang berlawanan berkumpul dalam waktu yang sama, yang salah satunya memerintahkan atau melarang sesuatu yang berlawanan dengan apa yang diperintahkan atau dilarang oleh yang satunya lagi.

Allah Ta’ala berfirman di dalam ayat lain,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

(Mereka berdoa,) Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. [Ali Imran (3) : 8]

Suatu ketika Syahr bin Hawsyab berkata pada istri Nabi saw, Ummu Salamah ra,

يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ

Wahai Ummul Mukminin, apa do’a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah saw jika berada di sisimu?”

Ummu Salamah RA menjawab,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ ».

Yang sering dibaca oleh Nabi saw adalah, Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. [HR. Tirmizi & Ahmad]

Imam Al-Baihaqi, di dalam Sya’bul Iman : Cabang Iman ke-18 Menyebarkan ilmu.

وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهٗ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُوْنَهٗۖ

Ingatlah) ketika Allah membuat perjanjian dengan orang-orang yang telah diberi Alkitab (dengan berfirman), Hendaklah kamu benar-benar menerangkan (isi Alkitab itu) kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya. [Ali Imran (3) : 187]

Rasulullah saw bersabda dalam khutbahnya di Mina,

Hendaknya benar-benar orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir. Semoga orang yang menyampaikan dari kalian lebih dapat menjaga daripada orang yang mendengar. [HR. Bukhari dan Muslim]

Menurut Abu Ja’far Umar Al-Qazwini di dalam Syarah Sya’bul Iman, Tidak diragukan lagi bahwa menyebarkan ilmu adalah cabang iman yang paling agung karena dapat menghapus kebodohan dan meminimalkan kerusakan dan memajukan negeri. Pembangunan yang bermanfaat bagi kehidupan menjadi banyak dan tersebarnya industri-industri sehingga keamanan tegak di mana-mana dan umat menjadi maju.

Terkait, Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, beliau menjelaskan bahwa para ahli ilmu di antara mereka mengucapkan kebenaran dan menjelaskan hukum-hukum  berdasarkan dalil-dalil dan hujjah yang kuat.

Dan maksud, Janganlah kamu menyembunyikannya, yaitu baik menyembunyikannya secara lafaz maupun makna. Ini mencakup sebagian orang yang berkhianat pada ilmu dengan cara menukil nash dan memutarbalikkan makna dengan cara yang salah jika diketahui bahwa lawannya tidak memahami tipu muslihat yang dia lakukan dalam memutarbalikkan makna. Dengan kata lain, berkhianat dalam berbagai makna, maka sesungguhnya hal itu merupakan kejahatan besar yang harus dijauhi oleh orang yang berakal sehat.

Dalam hidup terkadang kita menjumpai orang-orang yang memiliki kepribadian ganda ; Di saat-saat tertentu menjadi orang salih/ah, bahkan terlihat paling salih/ah. Di sisi lain gemar menaburkan kejahatan dan memperbanyak musuh. Rajin ibadah mahdah (salat sunnah, infak, puasa sunnah), rajin juga menganiaya sesama Muslim serta anti ukhuwah Islamiyah. Kepribadiannya seperti  Split personality disorder atau yang secara medis disebut sebagai Gangguan Identitas Disosiatif (Dissociative Identity Disorder/DID) yaitu gangguan mental ketika seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian atau identitas berbeda yang mengontrol perilaku mereka secara bergantian.

Imam Ibnu Al-Jauzi dalam Shaidul Khatir, Cara Manusia : Cerdas Menang dalam Hidup berpesan, Berhati-hatilah wahai saudaraku! Janganlah karena kesibukan dengan ilmu, Anda tak pernah lagi mengamalkan apa yang Anda ketahui. Sesungguhnya, hal itu adalah kelakuan para pemalas.

Ada ungkapan bijak, Musibah bisa dihadapi dengan sabar oleh orang Mukmin tetapi kesenangan tidak dapat dihadapi dengan sabar kecuali oleh orang yang mencapai derajat shiddiq (jujur dan tulus imannya).

Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita memiliki hati yang utuh, jiwa yang satu, mengikuti tuntunan yang satu dan menjaga keselamatan akidah, kebenaran ibadah dan kokohnya akhlak baik di hadapan Allah maupun sesama manusia. Dijauhkan dari jiwa yang berubah-ubah dan menghalalkan segala cara.

Allahumma Aamiin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

11 − five =