Home Khazanah Islam Akhlak KEMERDEKAAN BAGI SETIAP MUKMIN

KEMERDEKAAN BAGI SETIAP MUKMIN

0
38
Ilustrasi

Serial Ayat-Ayat Pendidikan -Edisi Lima Puluh Empat

Oleh : Arief Rahman Hakim, M.Ag.

Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan Pusat PPIJ

Syaikh Dr. Ikrimah Sa’id Shobri, Mufti Agung Baitul Maqdis dan Ketua Majelis Tinggi Ulama Palestina dalam bukunya Haqquna fi Falisthin (Baitul Maqdis Hak Umat Islam yang Ternoda) menyebutkan bahwa hak-hak umat Islam atas Palestina, baik dari aspek syariat, peradaban, maupun budaya, belumlah cukup memenuhi haknya. Karena Palestina diikat dengan ketentuan Ilahi yang abadi sampai hari Kiamat.

Karena, Pertama, Rasulullah saw telah menjejakkan kedua kakinya di bumi Palestina. Kedua, Khalifah Umar bin Khattab telah memasuki kota Baitul Maqdis dengan berjalan kaki dalam kondisi aman dan tenteram.

Sebagai anak bangsa tentu hafal dengan Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4, di antara potongan kalimatnya, ….. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاۤءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا مِنْ هٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ اَهْلُهَاۚ وَاجْعَلْ لَّنَا مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّاۚ وَاجْعَلْ لَّنَا مِنْ لَّدُنْكَ نَصِيْرًا

 

Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah dari (kalangan) laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berdoa, Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu

[an-Nisa (4) : 75]

 

Ibnu Katsir di dalam Lubabut Tafsir menjelaskan bahwa Allah Ta’ala memberikan dorongan kepada hamba-Nya yang beriman untuk berjihad di jalan-Nya, serta berupaya menyelamatkan orang-orang yang tertindas di kota Mekkah baik laki-laki, wanita maupun anak-anak yang sudah sangat jenuh tinggal di sana.

Mereka berdo’a agar dikeluarkan dari Mekkah karena kezaliman penduduknya dan mohon pelindung dan penolong dari sisi Allah Ta’ala.

 

Dari ‘Ubaidillah, ia berkata, Aku mendengar Abdullah bin ‘Abbas berkata, Dahulu aku dan ibuku termasuk orang-orang yang tertindas.

[HR. Bukhari]

 

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di menyebut ini adalah dorongan dari Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan pengorbanan semangat bagi mereka untuk berperang di jalan-Nya, dan bahwasanya hal itu telah wajib atas mereka dan menetapkan celaan yang besar terhadap mereka bila meninggalkannya.

Mereka berdoa kepada Allah agar berkenan mengeluarkan mereka dari kampung tersebut di mana penduduknya berlaku zalim terhadap mereka dengan kekufuran dan kesyirikan, dan terhadap kaum Mukminin dengan gangguan dan penghalangan dari jalan Allah, dan menahan mereka dari dakwah kepada agama mereka dan dari berhijrah, mereka juga berdoa kepada Allah agar berkenan menjadikan seorang pemimpin dan penolong untuk mereka yang mampu menyelamatkan mereka dari kampung yang masyarakatnya berlaku zalim tersebut.

 

Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menggugah jiwa bagaimana mungkin kaum muslim duduk-duduk saja dan tidak mau berperang di jalan Allah, untuk menyelamatkan orang-orang yang tertindas dari kalangan kaum laki-laki, wanita dan anak-anak?

Keadaan mereka yang tertindas terlukis dalam pemandangan yang dapat membangkitkan harga diri seorang muslim, kehormatan seorang mukmin, dan menyentuh rasa belas kasihan kemanusiaan secara mutlak.

Mereka menderita cobaan dan fitnah yang sangat berat, diuji akidahnya, dan difitnah dalam agamanya. Bencana dalam akidah lebih berat daripada bencana pada harta, tanah, jiwa dan kekayaan. Karena, ia merupakan keistimewaan manusia yang paling Istimewa, yang diikuti oleh kemuliaan dan harga diri, hak terhadap harta benda dan hak terhadap tanah air.

 

Syaikh Wahbah az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir menyatakan bahwa orang-orang mustadh’afin tersebut tidak ada yang membantu, menolong atau melindungi dari siksaaan, hingga mereka pun mengeluh dan berkata, ‘Ya Allah keluarkanlah kami dari daerah Mekah yang penduduknya kafir dan berlaku zalim. Berikanlah kami seorang pemimpin yang mengatur urusan kami, membebaskan kami, dan melindungi jiwa dan kehormatan kami. Dan berilah kami penolong dari sisi-Mu yang dapat menghentikan kezaliman, mampu menolong kami menghadapi orang-orang zalim itu dan membantu kami untuk berhijrah. Tidak ada pintu keluar bagi kami melainkan pintu kasih sayang-Mu ya Allah

 

Syaikh Abu Bakar Jabir al- Jazairi di dalam Aisarut Tafasir bahwa seorang yang berjihad kembali dengan perjanjian yang agung walaupun dia gugur di medan perang, menang dan sukses. Itu adalah surga.

 

Di dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,

 

وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ ۙ

 

Kami berkehendak untuk memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, menjadikan mereka para pemimpin, dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)

[Al-Qasas (28) : 5]

 

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلذِّكْرِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ فَمَنْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

 

Telah bercerita kepada kami [Sulaiman bin Harb] telah bercerita kepada kami [Syu’bah] dari [‘Amru] dari [Abu Wa’il] dari Abu Musa radliyallahu ‘anhu berkata: Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Seseorang berperang untuk mendapatkan ghanimah, seseorang yang lain agar menjadi terkenal dan seseorang yang lain lagi untuk dilihat kedudukannya, manakah yang disebut di jalan Allah? Maka Beliau bersabda: “Siapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah dialah yang disebut di jalan Allah.

[HR. Bukhari]

 

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata merdeka berarti ; 1 bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); 2 tidak terkena atau lepas dari tuntutan: 3 tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa:  boleh berbuat dengan,  bebas merdeka (dapat berbuat sekehendak hatinya).

 

Sahabat Bilal bin Rabah berprofesi sebagai budak menjadi muallaf, namun karena tidak mau meninggalkan akidah yang terpatri di jiwanya maka disiksa oleh majikannya Umayyah bin Khalaf di Mekkah. Abu Bakar ash Shiddiq kemudian menebus dengan membeli dan memerdekakannya.

Bilal bin Rabah menjadi muazin pertama dalam sejarah Islam dengan suara lantang dan merdunya dijanjikan masuk Surga oleh Rasulullah saw, namun beliau memberhentikan dirinya menjadi muazin tatkala Rasulullah saw wafat. Beliau tidak sanggup untuk mengumandangkan lagi azan karena tidak kuat menahan tangis saat melantunkan nama Rasulullah saw.

Rasa cinta mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya menjadikannya merdeka dari segala belenggu keinginan dan godaan duniawi.

 

Maka kemerdekaan bagi setiap Mukmin adalah,

  1. Merdeka akidahnya

Bersyukur atas nikmat hidayah iman dan Islam yang telah Allah Ta’ala anugerahkan sehingga menjadi manusia merdeka, hanya menyembah dan beribadah kepada Allah saja.

 

وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنْ يَّدْعُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَنْ لَّا يَسْتَجِيْبُ لَهٗٓ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَاۤىِٕهِمْ غٰفِلُوْنَ

 

وَاِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوْا لَهُمْ اَعْدَاۤءً وَّكَانُوْا بِعِبَادَتِهِمْ كٰفِرِيْنَ

 

Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah selain Allah (sembahan) yang tidak dapat mengabulkan (doa)-nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?

Apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), mereka (sesembahan) itu menjadi musuh-musuh mereka dan mereka mengingkari pemujaan-pemujaan yang dahulu mereka lakukan kepadanya.

[al-Ahqaf (46) : 5-6]

 

  1. Merdeka ibadahnya

Menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan, kebebasan, dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Negara hadir dalam melindungi warganya, sebagaimana bunyi Pasal 29 UUD 1945

  1. Merdeka aktifitasnya dalam koridor syariah dan konstitusi negara

Setiap warga negara bebas menjalankan fungsinya baik sebagai individu, berkeluarga, bermasyarakat, berorganisasi dan bernegara. Hal ini harus selaras dengan nilai-nilai Qur’ani dan hadis, serta Sila Keempat Pancasila, Kerakyatan yang Dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Juga kebebasan berpendapat diatur dalam Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Hak ini juga diperkuat oleh Pasal 28F tentang komunikasi dan informasi, serta UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

 

  1. Merdeka dari nafsu yang membelenggu

Ada di antara hamba Allah yang tidak mampu mengelola nafsu sehingga begitu menggebu-gebu di dalam meraih kesuksesan secara instan. Ada nafsu kekuasaan, nafsu harta benda, nafsu seksual, nafsu jabatan, nafsu karir, dan lain sebagainya.

 

اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُۗ اَفَاَنْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًا ۙ

Sudahkah engkau (Nabi Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?

[al-Furqon (25) : 43]

 

Nafsu itu bukan dimatikan, namun dikelola. Karena nafsu berguna dalam kehidupan rumah tangga, inilah nafsu yang dirahmati Allah Ta’ala.

Sebagaimana kisah Yusuf alaihissalam,

 

۞ وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

 

Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

[Yusuf (12) : 53]

 

  1. Merdeka dari panjang angan-angan

Dalam melakukan sebuah proyeksi dibutuhkan niat dan kesungguhan di dalam mengimplementasikan konsep atau program yang dicanangkan. Berlaku kaidah profesionalitas atau itqan di dalamnya agar tereksekusi dengan baik dan berhasil.

 

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

 

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ اتِّبَاعُ الْهَوَى، وَطُولُ الْأَمَلِ. فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ

Perkara yang paling aku takutkan adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, ia akan memalingkan dari kebenaran. Adapun panjang angan-angan, ia akan membuat lupa akan akhirat

[Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’]

 

  1. Merdeka berarti membantu kemerdekaan rakyat Gaza dan Palestina

Hal ini selaras dengan Sila Kedua Pancasila, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Serta Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 yang berisi tujuan nasional dari Pemerintahan Negara Indonesia yaitu, melindungi, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia.

 

Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita mensyukuri nikmat kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 yang bertema, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.

Allahumma Aamiin.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eight + 9 =