Home Khazanah Islam Akhlak KISAH KESATRIAAN DAN KESETIAAN: RAJA AN-NU’MAN DAN HANZHALAH

KISAH KESATRIAAN DAN KESETIAAN: RAJA AN-NU’MAN DAN HANZHALAH

0
398
Ilustrasi [AI]

An-Nu’man bin Al-Mundhir, Raja Hirah, suatu hari pergi berburu. Ia memacu kudanya dengan sangat kencang hingga menjauh dari rombongannya dan tersesat di padang pasir.

Ia terus mencari tempat untuk berlindung dalam waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya, sang Raja menemukan seorang pria bernama Hanzhalah yang tinggal berdua bersama istrinya.

Raja yang kelelahan itu meminta makanan dan minuman kepada mereka berdua. Padahal, keluarga miskin tersebut hanya memiliki seekor domba sebagai harta satu-satunya.

Hanzhalah pun memberinya minum dari susu domba itu. Tidak berhenti di situ, ia juga menyembelih domba kesayangannya agar sang tamu bisa makan dari dagingnya.

Pada pagi harinya, An-Nu’man mengenakan pakaiannya dan bersiap menaiki kudanya. Sebelum pergi, ia berkata kepada Hanzhalah, “Mintalah balasanmu. Ketahuilah, aku adalah Raja An-Nu’man.”

Hanzhalah yang tulus hanya tersenyum dan menjawab, “Akan kulakukan nanti, insyaallah.”

Ujian Kemiskinan dan Janji Hukuman Mati

Setelah kejadian itu, An-Nu’man berangkat kembali menuju istananya di Hirah. Sementara itu, Hanzhalah menjalani hidupnya selama beberapa waktu hingga ia ditimpa kemiskinan parah yang membuat keadaannya memburuk.

Istrinya lalu memberikan saran kepadanya. “Seandainya engkau pergi menemui Raja, niscaya ia akan membalas kebaikanmu dan berbuat baik kepadamu,” ucap sang istri.

Maka Hanzhalah pun melakukan perjalanan jauh ke Hirah. Namun malang, kedatangannya pada hari itu bertepatan dengan tradisi mengerikan yang disebut “Hari Kesengsaraan” An-Nu’man.

Pada hari nahas tersebut, sang Raja biasanya pergi ke suatu tempat yang jauh bersama para tentaranya. Ia akan menunggu dan membunuh orang pertama yang kebetulan muncul di hadapannya di tempat itu.

Ketika An-Nu’man melihat orang pertama yang datang, ia langsung mengenalinya. Hatinya merasa sangat gundah melihat Hanzhalah yang kini berdiri pasrah di hadapannya.

Raja lalu bertanya kepadanya, “Apakah engkau orang yang aku pernah singgah di tempatmu waktu itu?” Hanzhalah menjawab singkat, “Ya.”

Raja berkata dengan nada menyesal, “Mengapa engkau tidak datang selain di hari ini?!” Hanzhalah membalas, “Bagaimana mungkin aku bisa mengetahui rahasia perihal hari ini?”

An-Nu’man kemudian bersumpah, “Demi Allah, seandainya Qabus putraku yang muncul di hadapanku sebelummu, niscaya aku tetap tidak punya pilihan selain membunuhnya. Maka mintalah keperluanmu di dunia ini dan mintalah apa saja yang engkau inginkan, karena engkau pasti akan dibunuh.”

Syarat Kepulangan dan Sang Penjamin

Mendengar vonis tersebut, Hanzhalah berkata, “Apa gunanya dunia ini bagiku setelah nyawaku tiada?” An-Nu’man menunduk dan berkata, “Sungguh, tidak ada jalan keluar dari takdir hari ini.”

Hanzhalah kemudian mengajukan permohonan terakhirnya. “Jika memang harus demikian, maka berilah aku tenggat waktu. Izinkan aku pulang untuk berwasiat dan menyiapkan keadaan keluargaku, kemudian aku berjanji akan kembali kepadamu.”

An-Nu’man memberikan syarat yang berat, “Harus ada penjamin yang memastikan kepulanganmu ke sini.” Hanzhalah pun menatap Syarik bin ‘Amr, seorang pembantu Raja yang sedang berdiri di dekatnya.

Ia lalu membacakan sebuah syair yang menyayat hati:

Wahai Syarik, wahai putra ‘Amr, adakah jalan keluar dari kematian?

Wahai saudara bagi setiap orang yang tertimpa musibah, wahai saudara bagi siapa saja yang tak punya saudara.

Wahai saudara An-Nu’man, bebaskanlah hari ini seorang tamu yang telah datang memohon kepadanya.

Namun sayang, Syarik menolak untuk menjadi penjamin nyawanya. Tiba-tiba, tampillah seorang pria pemberani bernama Qurad bin Ajda’ yang berseru kepada Raja, “Dia menjadi tanggunganku.”

An-Nu’man memastikan keputusannya dengan bertanya, “Apakah engkau bersungguh-sungguh mempertaruhkan nyawamu?” Pria itu menjawab, “Ya, aku yang akan menjaminnya.”

Raja pun luluh dan memerintahkan agar Hanzhalah diberi hadiah lima ratus ekor unta betina terlebih dahulu. Hanzhalah diizinkan pulang ke keluarganya dengan batas waktu tepat satu tahun penuh, terhitung sejak hari itu.

Hari Penentuan di Tahun Berikutnya

Ketika setahun telah berlalu, batas waktu tinggal tersisa satu hari saja. An-Nu’man memanggil Qurad dan berkata kepadanya, “Aku tidak melihat masa depanmu melainkan hanya akan menjadi mayat esok hari.”

Qurad membalas ucapan Raja dengan tenang melalui bait syair penyerahan diri:

Jika permulaan hari ini telah berlalu,

Maka sesungguhnya hari esok bagi yang menunggunya sangatlah dekat.

Ketika pagi penentuan itu tiba, An-Nu’man menunggangi kudanya bersama pasukan bersenjata lengkap. Ia pergi ke tempat eksekusi di mana ia bertemu dengan Hanzhalah setahun sebelumnya.

Raja pun memberi perintah kepada algojo agar Qurad segera dibunuh. Namun, ketika algojo hampir saja mengayunkan pedangnya, para menteri raja mencegahnya.

Mereka mengingatkan, “Anda tidak berhak membunuhnya sampai ia menyempurnakan tenggat waktunya hingga hari ini benar-benar berakhir.” Maka Raja pun terpaksa menurunkan pedang algojo.

Sebenarnya, di dalam lubuk hatinya, An-Nu’man ingin membunuh Qurad lebih awal. Hal ini semata-mata agar Hanzhalah terbebas dari kewajiban dan selamat dari hukuman mati.

Ketika matahari mulai memerah dan hampir terbenam, tiba-tiba muncul sesosok tubuh berlari dari kejauhan. An-Nu’man buru-buru memerintahkan algojo untuk segera mengeksekusi Qurad sebelum sosok itu tiba.

Lagi-lagi menterinya menahan dengan berkata, “Anda tidak berhak membunuhnya sampai sosok tersebut tiba di hadapan Anda, agar Anda mengetahui siapa dia sebenarnya.” Raja pun pasrah menunggu pria itu tiba, dan ternyata sosok yang terengah-engah itu adalah Hanzhalah.

Berakhirnya Hari Kesengsaraan

Ketika An-Nu’man melihatnya secara langsung, kedatangan Hanzhalah terasa amat sangat berat di hatinya. Ia bertanya dengan suara bergetar, “Apa yang mendorongmu untuk rela kembali setelah engkau sebenarnya bisa terlepas dari hukuman mati?”

Dengan tatapan yang teguh, Hanzhalah menjawab singkat namun penuh makna, “Kesetiaan.”

Mendengar satu kata itu, hati An-Nu’man sangat tersentuh oleh kebesaran jiwa dan kejujuran Hanzhalah. Ia segera memaafkannya dan membebaskan Qurad dari segala tuntutan hukuman.

Semenjak hari yang sangat bersejarah itu, An-Nu’man sadar akan kekejamannya. Sang Raja pun menghapus tradisi pembunuhan yang tidak masuk akal tersebut untuk selama-lamanya.

Sumber: Diadaptasi secara bebas dari buku “Qashash al-‘Arab” (Kisah-kisah Bangsa Arab), Jilid Pertama, karya Muhammad Ahmad Jad al-Mawla, Cetakan Dar al-Fikr, 1979.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 − 11 =