AL HARITS BIN AUF, sosok yang tersohor dengan julukan Pemimpin Arab, menoleh ke arah sepupunya sembari melontarkan sebuah pertanyaan. Beliau mempertanyakan apakah ada orang Arab yang berani menolak lamarannya jika ia meminang putri mereka.
Sang sepupu lantas memberikan saran dengan menyebut nama Aus bin Haritsah sebagai salah satu kandidatnya. Mendengar hal itu, Al-Harits menegaskan bahwa ucapan tersebut telah memicu tekadnya untuk mendapatkan jawaban langsung dari lisan Aus esok hari.
Sepanjang malam itu Al-Harits tidak dapat memejamkan mata karena diselimuti kecemasan jika lamarannya berujung pada penolakan. Sebelum matahari terbit, beliau segera bergegas melakukan perjalanan yang melelahkan bersama sepupunya menuju kediaman Aus bin Haritsah.
Rombongan tersebut akhirnya tiba di pekarangan rumah Aus tepat pada saat matahari terbenam. Sembari tetap berada di atas pelana kudunya, Al-Harits langsung menyampaikan maksud kedatangannya untuk meminang salah satu putri Aus tanpa basa-basi.
Beliau meminta kepastian apakah diperkenankan turun dari kuda atau harus segera memutar balik arah pulang. Pertanyaan yang terkesan terburu-buru itu memicu amarah Aus hingga ia mengusir mereka dan berbalik badan masuk ke rumah.
Istri Aus yang melihat keganjilan sikap suaminya itu segera datang menghampiri untuk meminta penjelasan. Aus kemudian menceritakan ihwal kedatangan Al-Harits yang hendak meminang putrinya namun bertindak angkuh karena enggan turun dari kuda.
Sang istri lantas mencoba meredakan amarah suaminya dengan menanyakan tujuan awal mereka yang memang ingin menikahkan putri-putrinya. Ia mengingatkan bahwa jika sosok Pemimpin Arab saja ditolak, maka tidak ada lagi laki-laki lain yang sepadan untuk putri mereka.
Meskipun Aus bersikeras bahwa keputusan yang telah telanjur diucapkan tidak dapat ditarik kembali, istrinya tetap mendesak untuk segera bertindak. Sang istri meminta Aus mengejar rombongan tersebut dan berdalih bahwa penolakan tadi terjadi karena kondisi psikologisnya sedang tidak baik.
Aus akhirnya luluh lalu memacu kudanya demi menyusul Al-Harits dan sepupunya yang sudah mulai menjauh. Beliau meminta mereka berhenti dan menyatakan bahwa membiarkan tamu pergi di tengah malam yang gelap bertentangan dengan kehormatan adat Arab.
Aus meminta kelonggaran waktu untuk mempertimbangkan perkara khitbah tersebut sembari menjamu mereka kembali. Al-Harits dan sepupunya pun bersedia kembali ke rumah Aus dengan perasaan yang telah tenang dan rida.
Setibanya di dalam rumah, Aus segera memanggil putri sulungnya untuk mendiskusikan pinangan dari Pemimpin Arab tersebut. Namun, setelah merenung sejenak, sang putri menolak dengan alasan bahwa dirinya tidak memiliki paras yang menawan dan berwatak tergesa-gesa.
Ia juga khawatir akan diceraikan di kemudian hari karena tidak memiliki ikatan kekerabatan dekat ataupun hubungan bertetangga yang bisa membuat Al-Harits merasa segan. Mendengar kejujuran itu, Aus bisa menerima alasannya dan mendoakan keberkahan untuk putri sulungnya.
Selanjutnya, Aus memanggil putri keduanya untuk menawarkan pernikahan dengan tokoh besar Arab tersebut. Putri kedua pun menolak dengan jujur bahwa dirinya tidak memiliki keterampilan tangan yang baik dan khawatir suaminya kelak akan melihat kekurangannya.
Aus kembali menerima keputusan tersebut dengan lapang dada dan mempersilakan putri keduanya pergi dengan iringan doa kebaikan.
Terakhir, Aus memanggil putri bungsunya yang bernama Buhaisah untuk menyampaikan tawaran pernikahan yang sama. Tanpa ragu, Buhaisah menyatakan kesiapannya dan menyerahkan keputusan akhir itu sepenuhnya kepada pertimbangan sang ayah.
Ia dengan percaya diri meyakinkan ayahnya bahwa dirinya memiliki paras yang cantik, keterampilan tangan yang mumpuni, serta keluhuran akhlak. Keberanian dan kesiapan mental putri bungsunya ini membuat Aus merasa sangat bangga dan bersyukur.
Aus segera keluar menemui para tamunya untuk mengumumkan persetujuannya atas pernikahan Buhaisah dengan Al-Harits bin Auf. Al-Harits merasa sangat bahagia atas keberhasilan misinya dan menghabiskan sisa harinya sebagai tamu kehormatan di rumah Aus.
Pada waktu malam tiba, Aus menginstruksikan jajarannya untuk menyiapkan tenda khusus bagi pasangan pengantin baru tersebut. Namun, saat Al-Harits hendak mendekati Buhaisah di dalam kamar, pengantin perempuan itu langsung memberikan penolakan dengan tegas.
Buhaisah mengingatkan bahwa tidak pantas bagi seorang tokoh besar melakukan hubungan pernikahan di lingkungan keluarga mempelai wanita tanpa rasa sungkan. Al-Harits menerima argumen tersebut, dan keesokan harinya seluruh rombongan bergerak membawa tandu pengantin menuju kampung halaman Al-Harits.
Setibanya di sana, kedatangan mereka disambut meriah oleh para pemuda kabilah yang mengacungkan pedang dan menyanyikan lagu sukacita. Pesta pernikahan tersebut berlangsung semarak hingga melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tetua hingga anak-anak.
Setelah perayaan usai, Al-Harits kembali mencoba mendekati istrinya, namun Buhaisah justru mengalihkan pembicaraan pada kondisi politik Arab. Ia mempertanyakan bagaimana seorang Pemimpin Arab bisa hidup tenang di atas penderitaan perang saudara yang berkecamuk antara kabilah Abs dan Dzubyan.
Al-Harits sempat terheran-heran mengapa urusan peperangan begitu mengusik pikiran seorang wanita di malam pengantinnya. Buhaisah menegaskan bahwa dengan kekayaan melimpah yang dimiliki, Al-Harits seharusnya mampu menghentikan pertumpahan darah dan mendamaikan kedua pihak.
Ia menyatakan baru akan merasa bangga menjadi istri Pemimpin Arab jika suaminya mampu mewujudkan perdamaian tersebut. Setelah menyampaikan keluh kesah yang mendalam itu, Buhaisah pun menangis tersedu-sedu di hadapan suaminya.
Menanggapi air mata istrinya, Al-Harits segera mengumpulkan para pemuka kabilah pada keesokan harinya untuk menuju ke medan konflik. Beliau menggelontorkan harta kekayaannya yang melimpah demi membayar tebusan darah untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai.
Langkah diplomasi kemanusiaan yang gemilang ini mendapat apresiasi yang luar biasa dari seluruh elemen masyarakat Arab. Ketika Al-Harits kembali ke rumah, berita keberhasilan perdamaian tersebut telah lebih dahulu sampai ke telinga istrinya.
Buhaisah menyambut kepulangan suaminya dengan senyuman lebar dan menyanyikan lantunan lagu yang penuh dengan kegembiraan. Sembari memeluk erat istrinya, Al-Harits menanyakan apakah masih ada keinginan lain yang mengganjal di dalam hatinya.
Buhaisah menjawab bahwa hari ini ia merasa sangat bangga karena telah melihat perdamaian kembali bersemi di tanah Arab berkat perjuangan suaminya. Al-Harits lantas membalas dengan manis bahwa sejatinya perdamaian besar ini terwujud karena andil pemikiran mulia dari Buhaisah sendiri.[]
Muhammad Az-Zayyat — (Dengan Adaptasi)












