Home Khazanah Islam Akhlak SAAD BIN ABI WAQQAS, PAHLAWAN PERANG QADISIYAH

SAAD BIN ABI WAQQAS, PAHLAWAN PERANG QADISIYAH

0
530
Ilustrasi: Perang Qadisiyah [AI]

KHALIFAH Umar bin al-Khattab ra secara resmi memerintahkan Saad bin Abi Waqqas untuk memimpin seluruh jalannya pasukan muslim guna memerangi bangsa Persia.

Saad kemudian segera memimpin pergerakan para anak buahnya tersebut hingga mereka semua tiba dengan selamat di wilayah Qadisiyah.

Setelah sampai di lokasi tujuan, beliau langsung mendirikan markas militer besarnya di antara wilayah tersebut dan sebuah cabang kecil dari Sungai Efrat di Irak. Beliau juga berinisiatif mengirimkan suatu delegasi khusus kepada “Yazdegerd” yang merupakan Kisra atau Kaisar tertinggi bangsa Persia saat itu.

Misi utama dari pengiriman delegasi tersebut tidak lain adalah untuk mengajaknya secara damai agar mau memeluk agama Islam. Namun, Kaisar Persia tersebut menolak mentah-mentah ajakan mulia itu, bahkan ia berani melayangkan ancaman yang sangat serius kepada kaum muslim.

Ia mengancam bahwa panglima perang andalannya yang bernama Rustam akan segera menghancurkan kaum muslim tanpa sisa. Yazdegerd juga bersumpah bahwa mereka semua akan dikubur hidup-hidup di dalam parit pertahanan Qadisiyah.

Di sisi lain, Panglima Rustam sebenarnya sangat mengetahui bagaimana besarnya kekuatan kaum muslim serta ketangguhan luar biasa mereka dalam setiap peperangan. Oleh karena itu, ia selalu berharap di dalam hatinya agar dapat menemukan suatu cara taktis yang bisa mencegah mereka untuk memeranginya.

Rustam kemudian meminta kepada Saad agar bersedia mengirimkan seorang utusan resmi untuk datang berunding langsung kepadanya. Melalui utusan tersebut, ia ingin berdiskusi sekaligus mengetahui secara pasti apa saja yang menjadi tuntutan utama dari kaum muslim.

Sebenarnya, segala bentuk tuntutan yang dibawa oleh kaum muslim tersebut sama sekali tidaklah banyak ataupun terasa aneh bagi bangsa lain. Tuntutan pertama menyatakan bahwa barang siapa yang bersedia memeluk Islam, maka ia seketika itu juga akan menjadi saudara bagi kaum muslim dalam ikatan agama.

Sebagai sesama saudara, ia akan memiliki hak-hak yang setara dengan mereka dan wajib memikul tanggung jawab yang sama pula. Sementara itu, tuntutan kedua menyebutkan bahwa barang siapa yang memilih tetap pada agamanya tetapi bersedia membayar jizyah (pajak perlindungan), maka ia otomatis masuk ke dalam jaminan keamanan kaum muslim.

Dengan adanya jaminan tersebut, pasukan muslim akan selalu berada di garda terdepan untuk membelanya serta berkomitmen penuh menjaga perjanjian damai tersebut. Namun, Rustam dengan segala keangkuhannya ternyata tidak mau menerima ajakan masuk Islam dan tidak pula sudi membayar jizyah!

Melihat penolakan keras yang ditunjukkan oleh pihak musuh, maka tertutuplah sudah segala pintu diplomasi damai di antara kedua belah pihak. Oleh karena itu, kini tidak ada pilihan lain yang tersisa bagi pasukan kaum muslim selain maju ke medan laga untuk memeranginya.

Persiapan menghadapi pertempuran pun dimulai, namun tak lama berselang penyakit mendera Saad bin Abi Waqqas. Kondisi fisik yang melemah tersebut membuatnya harus memimpin jalannya peperangan yang dahsyat ini sembari berbaring di tempat tidur.

Jumlah pasukan muslim yang berada di bawah komandonya saat itu berjumlah dua puluh delapan ribu mujahid. Sementara itu, total kekuatan militer tentara Persia yang berada di bawah pimpinan Panglima Rustam mencapai seratus ribu prajurit.

Pasukan Persia mulai bergerak mendekat dengan datang dari arah timur. Namun, Saad sengaja membiarkan mereka menyeberangi sungai dan beliau sendiri tetap bertahan pada posisi pertahanan yang telah dipilih sebelumnya.

Saad juga melarang seluruh pasukannya untuk memulai pertempuran sampai mereka selesai mendirikan salat Zuhur. Hal tersebut bertujuan agar jiwa mereka menjadi semakin kuat dan tekad perjuangan mereka semakin membaja melalui ibadah tersebut.

Penyakit yang diderita sama sekali tidak menghalangi sang pahlawan ini untuk tetap menunaikan tugas-tugas komandonya secara optimal. Beliau meminta kepada para anak buahnya agar bersedia membawanya naik ke atas atap benteng tempatnya menginap.

Dari atas atap benteng itulah beliau memantau pergerakan medan laga sekaligus mendiktekan instruksi-instruksinya. Instruksi tersebut ditujukan kepada salah seorang prajurit yang bersiap di bawah benteng, yang kemudian bergegas menyampaikannya kepada pasukan yang bertugas.

Pasukan Persia melancarkan serangan pembuka dengan menempatkan barisan gajah di barisan paling depan. Keberadaan hewan-hewan besar ini berhasil menakut-nakuti kuda-kuda milik bangsa Arab, mencambuk para penunggangnya dengan belalai, serta mengilas siapa saja yang menghalangi jalan mereka.

Melihat situasi tersebut, Saad segera memerintahkan pasukan pemanah untuk melumpuhkan tentara Persia yang mengendalikan gajah dari atas punggungnya. Setelah tugas tersebut berhasil dituntaskan, mereka langsung melepaskan anak panah ke arah mata gajah-gajah itu hingga hewan tersebut lari kocar-kacir menyelamatkan diri.

Ketika malam mulai menyelimuti medan perang, pertempuran yang sengit tersebut akhirnya dihentikan untuk sementara waktu. Kemudian pada hari kedua, Al-Qa’qa’ bin Amru tiba dari wilayah Syam memimpin sepasukan detasemen yang terdiri atas seribu penunggang kuda.

Kedatangan pasukan bantuan ini berhasil mendatangkan tambahan kekuatan moral bagi pasukan komando Saad. Semangat juang kaum muslim semakin membubung tinggi saat menyaksikan Al-Qa’qa’ berhasil menerobos barisan musuh untuk berduel satu lawan satu dengan seorang panglima Persia hingga menewaskannya.

Kaum muslimin segera memanfaatkan momentum tersebut dengan melancarkan serangan balasan yang sangat masif hingga memporak-porandakan barisan pertahanan Persia. Baku hantam yang melibatkan kedua belah pihak ini terus berkecamuk tanpa henti hingga tengah malam.

Memasuki hari ketiga, pasukan Persia kembali melancarkan serangan ofensif dengan mengandalkan dua ekor gajah berukuran raksasa di garis depan. Di tengah situasi kritis itu, Ashim dan Al-Qa’qa’ berhasil membuka jalan menuju salah satu gajah tersebut lalu menusuk kedua matanya.

Pada waktu yang bersamaan, dua orang penunggang kuda muslim lainnya melakukan tindakan serupa pada gajah raksasa yang kedua. Akibat serangan mematikan itu, kedua gajah tersebut mundur ke arah sungai dan diikuti oleh kawanan gajah lainnya yang berada di belakang mereka.

Kaum muslim segera memanfaatkan kesempatan emas ini untuk melancarkan serangan balik yang sangat kuat ke arah pasukan Persia yang secara jumlah jauh lebih banyak. Pertempuran sengit ini terus berlangsung secara dinamis hingga fajar menyingsing pada hari berikutnya.

Hingga akhirnya, embusan angin yang sangat kencang menerjang kemah milik Rustam dan menerbangkan singgasananya sampai terlempar ke dalam sungai. Padahal saat itu, Rustam sedang duduk santai di atas singgasananya sebagaimana kebiasaan para panglima militer bangsa Persia.

Melihat kepanikan musuh, Al-Qa’qa’ langsung membakar semangat pasukannya untuk merangsek maju mendekati posisi sang panglima. Rustam yang dicekam ketakutan segera berlari menuju sungai dengan maksud untuk menyeberanginya demi menyelamatkan diri.

Akan tetapi, seorang penunggang kuda muslim berhasil memergoki tindakan tersebut. Prajurit ini langsung terjun ke dalam air mengejar Rustam hingga akhirnya berhasil mengeksekusinya di tempat.

Kabar mengenai kematian sang panglima tertinggi segera tersebar luas dan seketika itu juga meruntuhkan mental bertarung pasukan Persia. Mereka mulai berhamburan mundur melarikan diri, sementara pasukan muslim terus melakukan pengejaran secara intensif.

Dalam pengejaran tersebut, kaum muslim berhasil menawan sejumlah besar sisa pasukan musuh serta mengamankan harta rampasan perang yang melimpah. Dengan demikian, pertempuran Qadisiyah resmi berakhir dengan kekalahan telak di pihak kekaisaran bangsa Persia.

Saad segera mengutus seorang kurir khusus untuk pergi menghadap ke kota Madinah. Kurir ini membawa misi penting untuk menyampaikan kabar gembira mengenai kemenangan yang agung ini kepada Khalifah Umar bin al-Khattab.[]

Sumber: “Rayatul Islam”, ditulis Washfi Ali Washfi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × four =