Serial Ayat-Ayat Pendidikan -Edisi Lima Puluh Sembilan
Oleh : Arief Rahman Hakim, M.Ag., Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan Pusat PPIJ
Bagi para santri atau siapa pun yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren, akan merasakan bahwa pesantren adalah ibu kedua baginya. Tatkala hidup dalam perantauan dan berinteraksi dengan temannya dari berbagai latar belakang suku dan adat, sangat merasakan bahwa pesantren bukan sekedar tempat belajar dan menuntut ilmu, namun ia kawah candradimuka, sebuah tempat pembinaan diri; penggembelengan dan penggodokan mental, disiplin, tanggung jawab, konsistensi, keikhlasan, kesederhaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, serta kebebasan berfikir dan berekspresi dalam bingkai syariah.
Menurut satudata.kemenag.go.id, data pesantren di Indonesia pada tahun 2025 berjumlah 42.435 pondok. Ada enam provinsi menduduki jumlah teratas; Jawa Barat (13.005), Jawa Timur (7.347), Banten (6.776), Jawa Tengah (5.364), Aceh (1.925), dan Lampung (1.353). Sisanya dibagi sebagian besar provinsi di Indonesia.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ
تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah ṭayyibah? (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit,
dan menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran. [Ibrahim (14) : 24-25]
Termasuk kalimah ṭayyibah ialah segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran serta perbuatan baik, termasuk di dalamnya adalah kalimat tauhid, yaitu lā ilāha illallāh.
Ibnu Katsir di dalam Lubabut Tafsir bahwa Ali bin Abi Talhah meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas, yaitu kalimat syahadat Laa Ilaha illallah, pohon yang baik yaitu orang Mukmin. Akarnya teguh, Tidak ada Ilah yang haq selain Allah dalam hati orang Mukmin. Dengan kalimat tayyibah itu amal perbuatan orang Mukmin diangkat ke langit.
Adh-Dhahhak, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Mujahid dan mufasir lainnya juga mengatakan bahwa hal itu adalah perumpamaan amal perbuatan, perkataan yang baik dan amal salih orang Mukmin dan bahwa orang Mukmin itu bagaikan pohon kurma; Amal baik orang Mukmin itu senantiasa diangkat baginya pada setiap saat, pada setiap kesempatan, pada waktu pagi maupun petang.
Orang Mukmin itu seperti sebuah pohon yang selalu berbuah pada setiap waktu, pada musim panas dan musim dingin, baik pada malam hari maupun pada siang hari. Demikian pula seorang Mukmin yang senantiasa diangkat baginya amal perbuatan yang baik sepanjang malam dan di penghujung siang pada setiap waktu dan setiap saat, yakni secara sempurna, baik, banyak, bagus dan penuh berkah.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di, yaitu persaksian tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah, dan cabang-cabangnya adalah seperti pohon yang baik, yaitu pohon kurma akarnya teguh ke dalam tanah dan cabangnya menjulang ke langit, selalu banyak manfaat yaitu persaksian tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah, dan cabang-cabangnya adalah seperti pohon yang baik, yaitu pohon kurma akarnya teguh ke dalam tanah dan cabangnya, menjulang ke langit, selalu banyak manfaatnya.
Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an mengatakan bahwa kalimat yang baik itu (kalimat kebenaran) adalah seperti pohon yang baik, (yakni) kokoh, tinggi dan berbuah. (1) Kokoh, tidak tergoyahkan oleh angin topan, tidak tertiup oleh angin kebatilan, dan tidak mampu didongkel oleh kezaliman. (2) Tinggi menjulang, mampu mengintai dan menjangkau keburukan, kezaliman, dan kesewenang-wenangan dari atas, meskipun terkadang terbayangkan oleh sementara orang bahwa kejahatan mampu mendesaknya di ruang angkasa. (3) Berbuah dengan tiada putus-putusnya, karena biji-bijinya tumbuh dalam jiwa yang semakin menjadi banyak dari waktu ke waktu.
Amru Khalid dalam Khowatir Qur’aniyah, Nazharat fi Ahdafi Suwaril Qur’an, Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Qur’an, bahwa ini ayat mihwariyyah (poros, fase, tahapan utama) yang mengisyaratkan bahwa nikmat yang paling besar adalah nikmat keimanan.
Allah Ta’ala membuat perumpamaan seperti itu karena manusia mengira bahwa nikmat Allah hanya bersifat materi semata. Lalu Allah mengajarkan kepada kita bahwa satu kalimat yang baik merupakan satu kenikmatan, ia lebih besar dibandingkan dengan semua kenikmatan materi yang menjadi perhatian manusia.
مسند أحمد ١٧٥٣٧: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سَعْدَانُ الْجُهَنِيُّ عَنِ ابْنِ خَلِيفَةَ الطَّائِيِّ عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَّقِيَ النَّارَ فَلْيَتَصَدَّقْ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
Telah menceritakan kepada kami (Waki’) telah menceritakan kepada kami (Sa’dan Al Juhani) dari (Ibnu Khalifah Ath Tha`i) dari (Adi bin Hatim) dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, Barangsiapa di antara kalian bisa menjaga diri dari api neraka, hendaklah ia bersedekah meskipun dengan setengah biji kurma. Dan barangsiapa tidak mendapatkan, hendaklah ia mengucapkan kalimat tayyibah [Musnad Imam Ahmad]
Pesantren sejatinya adalah seperti pohon yang baik; kokoh akarnya teguh ke dalam tanah dan cabangnya menjulang ke langit, selalu banyak manfaat. Ketika sebuah desa, kampung atau lingkungan ada sebuah pesantren maka ia akan menyinari penduduknya dengan ikatan akidah yang kokoh, memperbaiki ibadah dan mengokohkan akhlak masyarakatnya. Dari segi ekonomi akan tumbuh perekonomian di sekitar pesantren, karena pondok membutuhkan beras, tenaga kerja di dapur, laundry, menu kantin dan sebagainya. Maka akan didapati di mana pun, sebuah desa atau lingkungan akan terlihat asri rumah-rumahnya, jalanannya karena ada pesantren di sekitarnya.
Pesantren senantiasa menanamkan sense of belonging kepada santri-santrinya, seperti penugasan menjadi pengurus di organisasi santri, piket membersihkan kamar, asrama dan pondok, sehingga kehidupan 24 jam di pesantren dilakukan oleh para santri sendiri dengan bimbingan para guru dan atas arahan pimpinan pesantren. Masjid, asrama, koperasi pelajar, kantin, dapur, kepanduan, klub-klub bahasa, klub-klub olahraga, dan klub-klub keterampilan, semua dilakukan oleh para santri bukan oleh karyawan pondok. Mereka melakukan dengan spirit Ikhlas dan sense of belonging.
Di antara beberapa pesantren besar di Pulau Jawa, Pondok Modern Darussalam Gontor yang terletak di Desa Gontor Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo Jawa Timur memiliki sebaran ratusan ribu alumni yang tersebar luas baik di dalam maupun di luar negeri.
Menurut data Wikipedia berawal dari Pesantren Tegalsari yang didirikan Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari pada 1680 di Desa Jetis Kabupaten Ponorogo, lalu dilanjutkan oleh putra-putranya hingga generasi keenam, Kiai Hasan Khalifah yang mengangkat mantu santri kesayangannya, R.M. Sulaiman Djamaludin dari keturunan Keraton Kasepuhan Cirebon. Berbekal 40 orang santri Pesantren Tegalsari yang mengalami kemunduran, Kiai R.M. Sulaiman Djamaludin dan isterinya mendirikan Pondok Gontor lama, yang saat itu kondisinya masih hutan dan menjadi tempat bersembunyi para perampok dan penyamun.
Hal ini bertahan hingga generasi ketiga Kiai R. M. Sulaiman Djamaludin yaitu Kiai Santoso Anom Besari yang menikah dengan Rr. Sudarmi, keturunan R.M. Sosrodiningrat (Bupati Madiun). Kiai Santoso Anom Besari wafat di usia muda pada 1918 dan meninggalkan tujuh (7) anak yang masih kecil, maka berakhirlah era Pondok Gontor lama. Seiring waktu tiga (3) dari tujuh (7) anaknya menghidupkan kembali Pondok Gontor Lama dengan memperbarui dan meningkatkan sistem serta kurikulumnya.
Setelah menuntut ilmu di berbagai pesantren tradisional dan lembaga modern, tiga orang putra Kiai Santoso Anom Besari akhirnya kembali ke Gontor dan pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal 1345 H, dalam peringatan Maulid Nabi SAW, mereka mengikrarkan berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Ketiganya dikenal dengan sebutan Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, yaitu:
- Ahmad Sahal (1901-1977)
- Zainudin Fananie (1908-1967)
- Imam Zarkasyi (1910-1985)
Pada tanggal 12 Oktober 1958 bertepatan dengan 28 Rabi’ul Awwal 1378 H, Trimurti mewakafkan PMDG kepada Umat Islam. Sebuah pengorbanan kepemilikan pribadi demi kemaslahatan umat. Pihak penerima amanat diwakili oleh 15 anggota alumni Gontor (IKPM) yang kemudian menjadi Badan Wakaf PMDG. Dan sejak 2020, pimpinan Badan Wakaf diamanatkan ke Dr. HM. Hidayat Nurwahid, MA.
Tasirun Sulaiman di dalam Wisdom of Gontor, bahwa suatu ketika Prof. Dawam Rahardjo, salah satu arsitek berdirinya ICMI konon ingin mendengar langsung dari salah satu pendiri Pondok Gontor, KH. Imam Zarkasyi, yaitu mengajukan pertanyaan, apakah orang-orang besar dalam takaran dan timbangan Gontor?
Sontak dengan tegas dan lantang beliau menyebut, Orang besar menurut Gontor itu adalah orang yang mau mengajarkan ilmunya dengan penuh keikhlasan, meski dia berada di tempat yang terpencil dan di balik gunung sekalipun.
KH. Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pondok Gontor pernah belajar Bahasa Arab kepada Prof. Mahmud Yunus, alumnus Mesir yang memimpin lembaga Thawalib di Padang Panjang. Karena kecintaan kepada gurunya itulah beliau berijtihad untuk menghidupkan Bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari di pondok, selain Bahasa Inggris.
Ada pesan KH. Ahmad Sahal, salah satu pendiri Pondok Gontor kepada santrinya, Yang amat aku harapkan ialah : JADILAH ANAK-ANAKKU PEREKAT UMAT, pahami benar-benar arti PEREKAT UMAT. Bacalah, pelajarilah, selamilah dalam-dalam.
Kelak di tahun 2008 tiga tokoh penting Indonesia yang memimpin umat adalah para alumni Gontor, yaitu Menteri Agama Maftuh Basyuni, Ketua Umum PBNU dua periode KH. Hasyim Muzadi, dan Ketua Umum PP Muhammadiyah dua periode Prof. Dr. Dien Syamsuddin.
Adham Syarqawi dalam Rosail min Al-Qur’an, Al-Qur’an Sumber Kekuatan, bahwa semua kebaikan karena rahmat Allah Ta’ala. Jika kamu mendapat kemudahan setelah kesulitan, ingat bahwa itu adalah rahmat Allah. Jika kamu sembuh setelah sakit, ingat bahwa kamu sembuh bukan karena obat dan dokter tetapi karena rahmat Allah. Jika kamu mendapat pekerjaan setelah menganggur, ingat bahwa hal itu bukan karena ijazah dan kemampuanmu tetapi karena rahmat Allah. Jika kamu mendapat anak setelah lama menanti dan putus asa, ingat itu bukan karena pengobatan dan kekuatanmu tetapi karena rahmat Allah.
فَلَمَّا جَاۤءَ اَمْرُنَا نَجَّيْنَا صٰلِحًا وَّالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ بِرَحْمَةٍ مِّنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِىِٕذٍ ۗاِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيْزُ
Ketika keputusan Kami datang, Kami menyelamatkan Saleh dan orang-orang yang beriman bersamanya berkat rahmat dari Kami serta (Kami menyelamatkannya juga) dari kehinaan hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. [Hud (11) : 66]
Semoga Allah Ta’ala pun menganugerahkan rahmah kepada kita, keluarga dan umat seperti syajarah tayyibah. Kokoh sebagai Mukmin, tinggi menjulang terlibat dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan senantiasa bermanfaat kepada orang lain. Naafi’un lighairihi.
Allahumma Aamiin.
*Tulisan ini dipersembahkan untuk ibu kedua, Pondok Modern Darussalam Gontor yang akan milad ke-100 tahun (1 Abad) pada 20 September 2026.
Penulis adalah alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo Jawa Timur tahun 1996












