Tak Gentar Islamophobia, Christie Bela Penunjukan Hakim Muslim

Pembelaannya terhadap sebuah penominasian peradilan Muslim ditentang oleh beberapa rekan Republikannya. Gubernur Chris Christie menyampaikan sebuah pembelaan mendadak yang penuh semangat pekan lalu terhadap seorang pengacara Muslim yang telah ia nominasikan untuk sebuah posisi kehakiman. Secara sepintas lalu, komentar-komentar tidaklah luar biasa.

HAMMONTON, New Jersey (Berita SuaraMedia) – Pembelaannya terhadap sebuah penominasian peradilan Muslim ditentang oleh beberapa rekan Republikannya.

Gubernur Chris Christie menyampaikan sebuah pembelaan mendadak yang penuh semangat pekan lalu terhadap seorang pengacara Muslim yang telah ia nominasikan untuk sebuah posisi kehakiman. Secara sepintas lalu, komentar-komentar tidaklah luar biasa. Namun mengingat cara beberapa Republikan baru-baru ini telah mengkarakteristikkan Muslim, apa yang ia katakana luar baisa untuk di dengar dari seorang kesayangan GOP.

Mengingat pernyataan-pernyataan ini oleh para Republikan lainnya, semuanya kemungkinan besar untuk mencalonkan diri dalam pemilihan kepresidenan tahun depan: “Saya yakin bahwa jika kita tidak secara meyakinakan memenangkan perjuangan atas sifat dasar Amerika, pada saat mereka (anak cucunya) sudah mencapai usia saya sekarang, mereka akan berada di sebuah negara sekuler atheis, secara potensial satu negara yang didominasi oleh radikal dan dengan tidak ada pemahaman tentang apa artinya menjadi seorang warga Amerika,” mantan Pembicara Dewan Newt Gingrich, dulunya Republikan yang paling berkuasa di negara tersebut, mengatakan hal tersebut pada Minggu lalu.

“Tidak semua kebudayaan setara. Tidak semua nilai setara.” Itulah tanggapan dari Republikan Michele Bachmann (Republikan-Minnesota), seorang favorit Tea Party, pada sebuah masalah perdebatan tahun 2005 tentang kerusuhan di antara Muslim Perancis.

“Tidak, saya tidak akan setuju.” Itulah kata-kata Herman Cain, seorang kandidat yang muncul di hadapan arus utama keramaian konservatif, akhir pekan lalu tentang apakah ia akan menunjuk seorang Muslim sebagai seorang Muslim atau anggota kabinet.

Namun Christie – yang telah dirayu untuk mencalonkan diri dalam pemilihan kepresidenan – pada dasarnya telah melakukan apa yang Cain katakan tidak akan pernah ia lakukan. Pada bulan Januari, ia menominasikan Sohail Mohammed, seorang Muslim kelahiran India yang tinggal di Clifton, Pengadilan Tinggi di Provinsi Passaic. Mohammed menunggu konfimrasi oleh Senat yang dikendalikan oleh Demokrat.

Christie belum mengatakan banyak secara publik tentang Mohammed sampai hari Selasa, ketika ia menjawab sebuah pertanyaan pada sebuah pertemuan balai kota Hammonton dari seorang pria Marlton dengan sebuah bendera Amerika di kausnya. Mengulangi sebuah tuduhan yang telah menyebar sebagian besar di bidang blog sayap kanan, pria tersebut ingin mengetahui mengapa Christie menunjuk seorang “Islamis” yang membela para tahanan Teluk Guantanamo.

Christie pertama mengatakan bahwa Mohammed tidak terlibat dengan para tahanan Guantanamo dan malahan, telah mewakili para tahanan tersebut setelah 11 September sebelum mereka dibebaskan dan dibuktikan tidak bersalah.

“Sekarang saya harus mengatakan sesuatu kepada Anda,” Christie mengatakan. “Jika penominasian ini mendiskualifikasikan untuk posisi tersebut karena seorang Arab Amerika di New Jersey yang mewakili orang-orang tak bersalah dan membuat mereka dibebaskan, maka ini bukanlah negara yang selama ini saya percayai.”

Chrisitie, yang salah bicara dengan menyebut Mohammed seorang Arab Amerika, melanjutkan dengan mengatakan bahwa Mohammed adalah seorang “warga Amerika yang sederhana dan baik dan seorang warga New Jersey.” Pria dengan bendera di kausnya tersebut berterima kasih kepada Gubernur tersebut, dan kemudian ada tepukan tangan.

Deepa Kumar, seorang profesor studi media di Universitas Rutgers yang telah menulis secara ekstensif tentang Islamophobia, mencatatkan bahwa Christie juga telah melawan sentimen dari partainya tahun lalu dalam mengkritisi serbuan politisasi pembangunan pusat komunitas Islam dan Masjid di dekat tempat World Trade Center.

“Ia adalah salah satu dari orang-orang yang mengatakan bahwa sebenarnya merupakan sebuah kumpulan yang salah bagi para Republikan untuk masuk ke dalam masalah tersebut karena para Republikan akan terlihat sebagai tidak toleran,” Kumar mengatakan.

Yang paling baru, Christie mengatakan bahwa ia tidak keberatan untuk memecat seorang pekerja NJ Transit yang membakar sebuah Al-Qur’an.

Kumar mengatakan bahwa ia percaya prasangka anti-Muslim telah meningkat tajam sejak perselisihan Masjid dan penahanan yang disebut sebagai Jihad Jane, seorang wanita Amerika yang  dituduh membantu teroris. Beberapa Republikan telah membantu mengembangkan hal tersebut, ia mengatakan, dan telah mengambil isyarat dari partai-partai sayap kanan di Eropa yang menyalahkan para imigran dan Muslim atas ketidakamanan ekonomi.

“Analisis saya akan hal ini adalah gerakan Tea Party benar-benar telah menjadi instrumental dalam semacam mendorongkan tidak hanya seputar persoalan ekonomi, yang merupakan bagaimana mereka mewakili diri mereka sendiri, namun juga permasalahan  perlombaan dan pengkambinghitaman,” Kumar mengatakan.

Christie adalah sebuah pengecualian, ia mengatakan.

Dengan populasi Muslim dan India Amerika yang terus berkembang di New Jersey, menunjuk Mohammed adalah politik yang bagus. Namun kehakiman khususnya sensitif, karena retorik baru-baru ini telah memfokuskan pada rasa takut bahwa hukum Syariah mengambil alih pengadilan Amerika.

“Salah satu dari argumen kunci mereka adalah jika ada Muslim manapun yang diperbolehkan untuk menduduki bagian manapun dalam bidang politk, kami akan melihat sebuah perwujudan negara Islami,” Kumar mengatakan tentang kritik-kritik tersebut.

Kurang dari satu persen warga Amerika adalah Muslim, ia mengatakan, sehingga dasar pikiran tersebut absurd. Masih saja, dalam sebuah poling kantor berita ABC atau Washington Post musim panas lalu, hampir setengah dari para responden mengatakan bahwa mereka memandang Muslim dengan cara yang tidak baik, sebuah peningkatan besar dari tahun 2002, setelah serangan 11 September. (ppt/phl) www.suaramedia.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Arifin Ilham Tetap Akan Gunakan Nama Masjid Muammar Qadhafi

Read Next

Alkitab Melayu, Akhir Sengketa “Allah” di Malaysia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + twenty =