NAK, TERUSLAH BERAKHLAK MULIA

0
102

Serial Keluarga Sakinah-[ Edisi Ke-Lima Belas]

Oleh:

Arief Rahman Hakim, S.Sos. M.Ag || Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ

Nak, akhlak adalah buah dari iman dan syariah. Dalam istilah hadis Arbain Nawawi dari hadis Malaikat Jibril as ada trilogi iman, Islam dan ihsan. Walaupun di zaman kamu sangat berbeda kondisinya dengan kehidupan ayah dan ibu saat menginjak dewasa, baik dari segi pergaulan, pertemanan, teknologi dan komunikasi, serta sikap perilaku dalam keseharian. Namun hal ini jangan menjadikan kamu kurang peduli dengan lingkungan dan bersikap apatis. Bahkan terus berupaya berakhlak baik dengan sesama teman atau kolega termasuk kepada orang yang lebih tua.

 

Nak, Allah swt berfirman,

 

تِلْكَ ٱلدَّارُ ٱلْءَاخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

 

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa [al-Qasas (28) : 83]

 

Menurut pesan Allah swt ini nak, negeri akhirat dan kenikmatannya yang abadi, yang tidak berubah, tidak sirna, tidak ada kepenatan atau kesulitan di dalamnya, dijadikan oleh Allah swt untuk para hamba-Nya yang Mukmin lagi tawadhu’ yang tidak ingin tinggi hati terhadap makhluk Allah, merasa besar atas mereka dan sewenang-wenang terhadap mereka tanpa hak, tidak pula ingin berbuat kerusakan dengan mengambil harta mereka tanpa hak.

 

Nak, pesan Allah swt ini juga memberikan pemahaman bahwa negeri akhirat itu dan apa yang ada padanya dari kenikmatan surga akan dijadikan dan dikhususkan bagi mereka yang tidak menginginkan kedudukan, kesombongan dan juga merasa tinggi kepada sesama orang-orang yang beriman, dan juga akan diberikan bagi mereka yang tidak berbuat kerusakan di muka bumi dengan kesyirikan dan kemaksiatan, semua itu adalah balasan yang terpuji dan keberhasilan dengan keimanan dan yang mengerjakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan kesyirikan pada-Nya serta jauh dari kemaksiatan.

 

Nak, ayah teringat beberapa pepatah Arab yang semoga bermanfaat buatmu dan para sahabatmu,

 

خَيْرُ الأَصْحَابِ مَنْ يَدُلُّكَ عَلىَ الخَيْرِ

 

Sebaik-baik teman itu ialah yang menunjukkan kamu kepada kebaikan

 

الشَّرَفُ بِالأَدَبِ لاَ بِالنَّسَبِ

 

Kemuliaan itu adalah dengan adab (budi pekerti), bukan dengan keturunan

 

Nak, dulu Rasulullah saw pernah berpesan kepada sahabat Umar bin Khattab ra, agar jika suatu saat bertemu dengan Uwais al-Qarni (Uwais bin Amir) maka mintalah do’a kepadanya karena do’anya makbul. Uwais seorang pemuda miskin dari Yaman, menderita penyakit kusta dan bekerja sebagai penggembala domba, namun sangat terkenal di langit walaupun di bumi tidak dikenal masyarakatnya. Bakti kepada ibu menjadikannya seorang yang istimewa sehingga setiap do’anya dikabulkan Allah swt. Begitu rindunya kepada Rasulullah saw dan menginginkan hijrah ke Madinah namun tidak bisa terlaksana karena memilih keridhaan ibu yang lumpuh dengan merawat, menjaga dan menyayanginya. Rasulullah saw pun menjadikannya Tabi’in utama.

 

Nak, Rasulullah saw bersabda,

 

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” [HR. Tirmizi]

Jika kamu terus berakhlak mulia dan senantiasa bergaul dengan orang-orang yang baik nak, ayah dan ibu yakin Allah ta’ala akan memberikan keberkahan dalam semua ikhtiar dan tawakkal. Tidak akan merugi menjadi orang baik dan berakhlak, bahkan beberapa sahabatmu yang berprestasi mungkin adalah orang-orang yang tawadhu’, beradab dan mulia akhlaknya.

Semoga Allah ta’ala senantiasa melindungi, menjagamu nak, dan terus sehat a’fiat, berprestasi di dunia dan di akhirat kelak. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × one =