Dalam setiap shalat berjamaah, tak akan pernah ada kesalahan yang luput dari koreksi. Jika imam lupa atau salah dalam rakaat shalat, pasti ada saja makmum yang akan mengoreksi. Tak akan pernah ada suatu kesalahan kesalahan yang didiamkan begitu saja, sehingga satu jamaah telah melakukan kesalahan dalam shalat. Hal ini ditegaskan dalam hadis dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan.” (HR Ibnu Maajah).
Demikian pula, suatu pemerintahan yang benar-benar berorientasi ibadah dan mencari ridha Allah SWT sama halnya dengan shalat. Pemerintahan tersebut akan dijaga Allah SWT dari kesalahan-kesalahan yang akan menyesatkan mereka. Selama mereka mau menegakkan amar makruf nahi mungkar, menegur siapa yang salah dengan cara yang santun, selama itu pula mereka akan dijaga dari kesalahan. Tak akan ada tindakan dari rakyat maupun pemimpin yang menentang Allah SWT. Sehingga, negeri mereka menjadi “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur” (negeri baik yang rakyatnya mendapat ampunan Allah SWT).
Terakhir, shalat berjamaah ditutup dengan salam ke kiri dan ke kanan. Artinya, setelah beribadah menjalin hubungan vertikal kepada Allah, ada hubungan horizontal yakni bersosialisasi dalam kehidupan. Mendirikan shalat artinya bukan memperhatikan hubungan dirinya dengan Allah SWT saja. Ia juga peduli dengan saudaranya, tetangganya, dan karib kerabatnya.
Si imam, ketika selepas shalat akan duduk agak berpaling menghadap ke makmum. Ia memperhatikan jamaahnya. Bahkan, terkadang ia juga memimpin zikir dan doa. Mungkin, ada di antara jamaahnya yang belum mengerti dengan zikir selepas shalat atau tidak hafal doa-doa berbahasa Arab. Maka, ia pun bermurah hati untuk mengeraskan bacaan doanya agar makmumnya tinggal mengaminkan.
Adakah pemimpin yang mau turun ke masyarakat dan memperhatikan rakyatnya setelah ia menetapkan suatu keputusan? Misalkan, setelah keputusan BBM dinaikkan, adakah yang mau blusukan ke kampung-kampung, bagaimana nasib rakyatnya setelah keputusannya itu ditetapkan? Inilah yang sering dicontohkan Umar bin Khattab. Setiap malam, ia blusukan ke rumah-rumah penduduk Madinah. Melihat secara riil akan kondisi rakyatnya. Shalat bisa menjadi panutan utama seorang negarawan.