JIC, JAKARTA — Indonesia memang merupakan bangsa yang terdiri dari berbagai ras, suku dan agama. Bahkan, sebagai negara berpopulasi Islam terbesar di dunia, Muslim Indonesia mampu menerapkan toleransi hidup yang tinggi.
Kabalitbang, Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama,Abdul Rahman Mas’ud mengatakan, Indonesia memang sempat ditimpa sejumlah masalah yang mengusik kerukunan umat beragama. Dia merasa, toleransi, kerja sama, dan kesetaraan umat beragama di Indonesia, terus mendapat tantangan, setidaknya selama lima tahun terakhir.
Walau memiliki banyak kearifan lokal yang menjadi modal penting kerukunan, namun Adul menganggap Indonesia masih belum mampu menyelesaikan masalah kerukunan umat beragama yang ada. Karenanya, timbul pertanyaan yang cukup meresahkan, terutama masihkan Indonesia mampu mempertahankan predikat Islam yang ramah.
“Timbul keresahan, Indonesia masihkah menjadi smilling Islam,” kata Mas’ud saat menjadi pembicara di Kopi Darat ACDP, Rabu (14/9).
Untuk itu, dia menegaskan, salah satu langkah memperkuat predikat Islam yang ramah di Indonesia, bisa dilakukan dengan standarisasi dai-dai. Mas’ud mengingatkan, etika dakwah yang dikeluarkan pada 1979 seta keputusan Menag dan Mendagri tahun 1981 tentang dasar dakwah berupa kerukunan, ternyata masih banyak diacuhkan.
Pakar pendidikan dan mantan Direktur Pendidikan Islam Kementerian Agama Amin Haedari mengatakan, kalau Islam masuk ke Indonesia melalui cara-cara yang damai. Karena itu, kata dia, permasalahan yang mengusik kerukunan umat beragama, senantiasa menyangkut kepentingan politik dan sebenarnya bukan masalah agama.
“Pendidik dan pemuka agama jangan sampai tertarik, karena memang politik akan selalu menarik ke sana,” ujar Amin.
Menarik ke sejarah, menurut Amin, tujuan pendirian rumah ibadah seperti masjid memang bukan sebagai lahan provokasi, melainkan tempat berlindung umat manusia. Bahkan, kata dia, Nabi Muhammad SAW mempertegas barang siapa yang masuk ke masjid akan aman, karena masjid memang tempat perlindungan yang nyaman.
Terkait pengajaran, Direktur Eksekutif Abdurrahman Wahid Center Universitas Indonesia Ahmad Suaeby menyarankan, agar lembaga pendidikan harus mengikuti kreasi yang ada di masyarakat. Menurut Suaeby, kepergian Gus Dur bisa jadi contoh, yang bahkan haulnya masih didatangi semua umat beragama untuk berdoa bersama. “Kalau kultur itu bisa diterapkan, tentu kita bisa memperkuat face of religious movement di Indonesia,” katanya.












