Home Khazanah Islam Akhlak SEJENAK MENDENGARKAN ANAK BICARA

SEJENAK MENDENGARKAN ANAK BICARA

0
8

Serial Keluarga Sakinah – Edisi Ke-Tujuh Belas

Oleh :

Arief Rahman Hakim S.Sos. M.Ag 

Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ

ANAK-ANAK adalah amanah Allah Ta’ala yang dititipkan kepada para ayah dan ibu. Ketika batita, balita, dan jelang remaja mungkin seorang anak masih belum bervariasi keinginan dan obsesinya. Namun saat remaja mulai muncul keinginan-keinginan baru hasil dari meningkatnya wawasan dan pengetahuan dari berbagai referensi yang didapatkan, juga hasil interaksi dengan lembaga pendidikan serta lingkungan pertemanannya baik itu di sekolah maupun pesantren.

Dulu mungkin anak-anak begitu mudah diarahkan dan didoktrin, seiring juga perkembangan teknologi dan keinginan diri sang anak untuk menunjukkan eksistensi dirinya dalam hal-hal tertentu maka seakan-akan anak itu dianggap sudah tidak patuh dengan orangtuanya. Apalagi jika sang anak sudah memasuki bangku kuliah di perguruan tinggi, akan lebih kompleks lagi yang dihadapi oleh para ayah dan ibu.

Allah Ta’ala berfirman,

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ إِنِّى رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِى سَٰجِدِينَ

قَالَ يَٰبُنَىَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلَىٰٓ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا۟ لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ لِلْإِنسَٰنِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

 

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.

Ayahnya berkata: Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. [Yusuf (12) : 4-5]

Menurut Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam Aisarut Tafasir bahwa kisah-kisah para nabi termasuk Nabi Yusuf as adalah kisah yang paling jujur, aktual, bermanfaat dan paling indah. Dan bolehnya berhati-hati dan waspada terhadap perkara yang penting.

Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an mengatakan surat Yusuf ini surat Makkiah, diturunkan dalam masa sulit antara tahun kesedihan karena wafatnya Abu Thalib dan Khadijah (dua orang yang menjadi sandaran Rasulullah saw), dan antara Baiat ‘Aqabah pertama yang dilanjutkan dengan Baiat Aqabah kedua.

Syaikh Wahbah az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan sujud di sini adalah sujud penghormatan, menundukkan kepala dan tunduk tawadhu’, bukan sujud sebagai ibadah. Disandarkan sifat fi’il yang tidak berakal dengan sifat yang berakal (sujud) untuk menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan mimpi ilham dan bukan mimpi buah tidur belaka. Yang dimaksud sebelas bintang adalah saudara-saudara Yusuf yang berjumlah sebelas orang. Arti bintang adalah saudara-saudaranya. Sedangkan matahari dan bulan adalah ayah dan ibunya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyebutkan mimpi inilah yang menjadi permulaan ketinggian martabat yang direngkuh Nabi Yusuf di dunia dan akhirat. Demikianlah jika Allah menghendaki sesuatu yang luar biasa, maka Dia akan memberikan peristiwa pendahuluan sebagai sinyal pembuka dan untuk memuluskan prosesnya, serta sebagai tindakan antisipasi terhadap kesulitan-kesulitan yang akan menghadang hamba-Nya itu serta sebagai bentuk kelembutan dan kebaikan Allah padanya.

Selain itu menjauhi faktor-faktor yang bisa menyebabkan setan berkuasa atas seorang hamba tentu lebih tepat, maka Yusuf menaati perintah ayahnya, dia tidak memberi tahu saudara-saudaranya tentang mimpinya itu, ia menyembunyikannya dari hadapan mereka.

Rasulullah saw bersabda,

أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا آدَابَهُمْ

Muliakanlah anak-anak kalian dan baguskanlah adab mereka. [HR. Ibnu Majah]

 

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,

 

قَبَّلَ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ ، وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا ، فَقَالَ الأقْرَعُ : إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَالَ : مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ

 

Nabi saw mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, Aku punya sepuluh orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium. Maka Rasulullah saw pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, Barangsiapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan disayangi. [HR. Bukhari dan Muslim]

 

Kalau memperhatikan komunikasi dua arah antara Yusuf dan ayahnya Nabi Ya’qub as kita mendapatkan fakta bahwa keterbukaan anak di dalam menyampaikan mimpinya kepada sang ayah menghasilkan kelapangan hati bagi anak. Dan nasehat serta masukan sang ayah disimak dengan baik dan dipatuhi oleh anaknya.

 

Anak-anak butuh ruang untuk diskusi maka para ayah dan ibu menyediakan waktu untuk mereka bisa bercerita apa pun termasuk keinginan-keinginannya jika tamat sekolah atau pesantren. Apalagi jika selesai kuliah di strata satu.

Terkadang para ayah dan ibu begitu khawatir dengan beberapa agenda dan acara yang diikuti anak-anak sehingga selalu memantau mereka via komunikasi gadget. Sungguh wajar mengingat pergaulan anak-anak sekolah dan kuliah zaman sekarang, namun dalam hal tertentu memberikan ruang agar mereka bisa bersosialisasi dan bergaul dengan teman-temannya secara wajar agar tidak eksklusif.

Di sinilah urgensi pembinaan yang intensif dan berkelanjutan bagi anak-anak agar mereka memiliki imunitas diri dalam menghadapi gempuran al haq dan batil termasuk pergaulan yang tidak baik di lingkungan sekolah atau pesantren. Harus dimaklumi anak-anak yang dimasukkan ke pesantren pun ada yang latar belakangnya bermasalah saat di rumah atau sekolahnya dulu.

Ketika para ayah dan ibu banyak mendengar, menyimak cerita, keinginan dan obsesi anak-anak maka in syaa Allah mereka akan lebih mudah untuk dinasehati dan diberikan masukan atau pilihan alternatif yang baik bagi masa depan mereka.

Tentunya ada kolaborasi yang dilakukan oleh para ayah dan ibu dengan para guru di sekolah atau di pesantren agar anak-anak bisa lebih kondusif secara kejiwaan dan akademik. Harus menyisihkan waktu demi kebaikan semua dan keberlangsungan pendidikan mereka. Kondisi saat ini sudah darurat dan membutuhkan sikap sensitif orangtua terhadap perkembangan anak-anak, mereka membutuhkan perhatian lebih dari ayah dan ibunya apalagi di usia-usia sekolah yang tentunya masih labil dari sisi kejiwaan.

Semoga Allah Ta’ala mudahkan para ayah dan ibu dalam mendengar keluh kesah, keinginan dan obsesi anak-anak dan bisa memberikan pencerahan dan nasehat kepada mereka. Aamiin

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

17 + eleven =