
JIC, Jakarta —Setidaknya lima peserta pertukaran Muslim Indonesia-Australia tahap pertama akan berangkat pekan ini menuju tiga kota besar di Australia. Tahap pertama yang berangkat tanggal 5 Maret 2017. Sementara untuk peserta tahap kedua yang berjumlah lima orang akan menyusul dalam waktu dekat.
Wakil Duta Besar Australia di Indonesia Justin Lee mangatakan selama dua pekan para peserta akan mengunjungi Melbourne, Sydney, dan Canbera untuk bertemu dengan para tokoh lintas agama di sana.
“Selama kunjungan peserta akan mengunjungi Islamic Museum of Australia, Masjid Gallipoli di Sydney dan Masjid Newport di Melbourne, serta juga bertemu para tokoh lintas agama di sana,” katanya kepada media di kantor kedubes Australia di Jakarta, Jumat (3/3).
Dalam kesempatan ini, artis Muslimah Oki Setiana Dewi ikut menjadi bagian dalam peserta pertukaran tahap pertama yang berangkat tanggal 5 Maret 2017. Sementara untuk peserta tahap kedua yang berjumlah lima orang akan menyusul dalam waktu dekat.
Program yang telah dijalankan selama 15 tahun tersebut telah merekrut 57 warga Australia berkunjung ke Indonesia dan 142 warga Indonesia yang berkunjung ke Australia.
Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan kesepahaman antara kedua negara dari berbagai sisi mulai dari agama, kebudayaan, bahasa dan lainnya.
Pada kesempatan yang sama, Oki mengungkapkan harapannya dari mengikuti kegiatan ini untuk melawan Islamofobia yang kini makin marak.
Oki mengatakan saat media gathering Program Pertukaran Muslim Australia Indonesia (MEP) 2017 di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Jumat (3/3), pada agenda nanti para peserta akan bertemu profesor-profesor yang beragama Islam dan Yahudi untuk melakukan dialog lintas agama, mengetahui keadaan Islam baik dalam pandangan orang Islam maupun non Islam terhadap Islam.
“Banyak orang yang fobia terhadap Islam, dengan pandangan seperti ini kita akan menyampaikan kepada teman-teman di sana di antaranya tentang Islam yang rahmatan lil ‘Alamin. Islam merupakan agama kasih sayang, hal ini sudah terlihat kepada sosok seorang Rasulullah dan juga sikap toleransinya. Kita akan berusaha menyampaikan bahwa Islam bukan seperti yang mereka katakan, targetnya tidak ada lagi Islamofobia,” jelas Oki .
Dia berharap melalui program tersebut bisa menambah jaringan dakwah lintas negara.
“Harapan saya selain menambah wawasan dan networking, saya berharap dengan program ini sekaligus berdakwah memperjuangkan Islam, dengan dakwah bersama teman-teman di Australia nanti, bisa mendekatkan kita kepada Allah, selanjutnya dengan program ini pemahaman di bidang kultur dan budaya menjadi lebih luas juga,” ungkap Oki.
Selama pembukaan pendaftaran, ada sekitar 250 peserta yang diseleksi menjadi 10 besar yang lolos. Peserta tahap pertama kali ini berasal dari Makasar, Lombok Barat, Jogjakarta, Jakarta.
Program ini didirikan sejak 2002 oleh Australia-Indonesia Institute dan bermitra dengan Universitas Paramadina.
Sumber ; Mi’raj Islamic News Agency (MINA)












