
JIC, JAKARTA- Dalam suasana persaingan pilpres, kisah wajah bonyok karena operasi kecantikan pun berubah. Ia menjadi bonyok karena dikeroyok orang tak dikenal. Ratna Sarumpaet sendiri ketika tulisan ini dibuat belum bersuara.
Akhirnya saya mengubah meme saya untuk Ratna Sarumpaet. Saya buat lebih seimbang. Jika Ratna dianiaya, saya ingin mengutuk penganiayaan. Namun jika kisah penganiayaan oleh orang tak dikenal ternyata hanya kebohongan publik, saya pun mengutuknya.
Saya beri teks meme itu: “Theater Dalam Piplres 2019: Dan kita termasuk orang yang tak menyukai kekerasan ataupun kebohongan publik.”
Yang mana yang benar dari dua narasi itu? Kini kasus Ratna sedang ditangani polisi
Apa pembelajaran penting kasus Ratna? Tak hanya orang awam, pemimpin politik kita terlalu cepat berprasangka. Tanpa cek dan recek yang memadai, langsung membuat pernyataan.
Apa jadinya jika kita berkuasa nanti, jika karakter kita terlalu cepat merespon tanpa melakukan cek dan recheck yang memadai?
Jika nanti terbukti kasus Ratna itu hanya operasi kecantikan belaka, sama sekali tak ada kasus pemukulan, tidakkah semua kita menjadi malu? Atau kita semua tertawa memikirkan alangkah lucunya kita bisa dikecoh dan dipermainkan, dengan mudahnya?
Namun jika ternyata Ratna mengalami kekerasan, hati kita untuk Ratna dan semua pihak yang membelanya.
Pilpres 2019 akan juga dikenang karena drama satu babak Ratna Sarumpaet ini.
sumber : republika.co.id












