Home News Update Islam Indonesia 2019: TAHUN UKHUWAH (2)

2019: TAHUN UKHUWAH (2)

0
393

JIC, JAKARTA- Jadi, ukhuwah itu saling menguatkan dan meneguhkan, karena ukhuwah itu sarat dengan spirit bersinergi dan berbagi, bagai sapu lidi yang diikat menjadi satu kesatuan yang utuh dan menjadi kekuatan pembersih. Oleh karena itu, Nabi SAW menegaskan: “Orang Mukmin dengan sesamanya itu bagaikan sebuah bangunan, bagian-bagiannya saling mengokohkan. Beliau sambil mengeratkan jari-jari kedua tangannya.”(HR al-Bukhari Muslim).

Kohesivitas sosial umat dan bangsa harus terus dirawat dan dikembangkan. Pesan utama ukhuwah sya’biyyah atau wathaniyyah dapat dijadikan sebagai perekat kohesivitas sosial di tengah pluralitas kebangsaan dan kemanusiaan. Selain ditanamkan melalui proses pendidikan, pelajaran kohesivitas sosial keumatan dan kebangsaan perlu diteladankan oleh para tokoh dan guru bangsa. Rakyat dan publik perlu teladan autentik berupa “kemesraan dan kedamaian”, bukan ketegangan dan kebencian dari para pemimpin politik.

Menuju demokrasi substantif

Dengan keteladanan pemimpin dalam merajut ukhuwah, berbagai agenda pembangunan dan pemajuan bangsa ke depan dapat diwujudkan. Mustafa as-Siba’i dalam bukunya,Min Rawa’i Hadharatina (2002) menegaskan bahwa peradaban umat dan bangsa itu bisa maju apabila segenap komponen bangsa memiliki ruang kesadaran dan keinsafan untuk bersaudara, berdialog, berdamai,bersinergi, dan saling berkontribusi. Sebaliknya, pertikaian, permusuhan, dan kebencian merupakan benih disintegrasi dan disharmoni umat dan bangsa.

Di tengah maraknya globalisasi kebencian (‘awlamat al-karahiyah), pontensi konflik kepentingan dan kerawanan sosial perlu dideteksi dini dan dikanalisasi melalui berbagai ukhuwah keumatan dan kebangsaan.Karena itu, gerakan ukhuwah nasional dalam berbagai lapisan sosial menjadi sangat penting dibudayakan. Ketulusan para pemimpin berukhuwah satu sama lainakan menjadi perekat kohesivitas sosial warga bangsa.

Tahun 2019 janganlah dimaknai kontestasi hidup mati antara dua kubu capres- cawapres, tetapi merupakan tahun demokrasi substantif dengan ukhuwah sejati. Oleh karena itu, nilai-nilai demokrasi harus teraktulisasi dalam proses politik yang jujur, adil, dan bermartabat. Rakyat harus menikmati tegaknya keadilan, kesetaraan, kedamaian, dan keharmonisan dalam berbangsa dan benegara.Jangan sampai demokrasi “dibajak” dan “dibeli” oleh para pemodal “jahat” yang berkepentingan menguasai akses ekonomi dan mengeruk kekayaan bangsa.

Demokrasi substantif bukan demokrasi untuk politik kekuasaan, tetapi demokrasi yang mengedepankan politik kemasalahatan bersama.Demokrasi substantif menghendaki komitmen semua untuk mendahulukan kepentingan nasionalisme, daripada kepentingan golongan dan partai.

Dengan modal sosial ukhuwah kebangsaan dan demokrasi substantif tersebut, rakyat Indonesia diharapkan semakin arif dan dewasa dalam menyikapi perbedaan pilihan politik. Pilihan capres dan cawapres boleh beda, namun kita semua harus tetap bersaudara.

Karena itu, para pemimpin bangsa ini, khususnya para capres-cawapres, harus dapat memberikan keteladanan dan keadaban politik yang menyejukkan. Nilai-nilai ukhuwah kebangsaan dalam berdemokrasi perlu dijaga, agar spirit persatuan dan persaudaran dalam bingkai NKRI tidak luntur karena politik kekuasaan yang pragmatis demi terwujudnya Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, NKRI yang sejahtera, adil, makmur, dalam lindugan dan ampunan Tuhan. Semoga!

 

 

sumber ; republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

6 − 4 =