
JIC – Rezeki memang salah satu pemberian Allah Swt. yang tidak dapat diubah karena Allah Swt. telah menetapkannya sewaktu manusia masih dalam kandungan ibunya. Oleh karenanya, Rasulullah menceritakan demikian di dalam hadisnya:
إن الله عز وجل وكل بالرحم ملكا يقول يا رب نطفة يا رب علقة يا رب مضغة فإذا أراد أن يقضي خلقه قال أذكر أم أنثى شقي أم سعيد فما الرزق والأجل فيكتب في بطن امه.
“Sesungguhnya Allah Swt. memerintah malaikat menjaga rahim, maka ia bertanya: Ya Rabi! masih berupa nutfah (air sperma), ya Rabbi! sudah berupa ‘alaqah (segumpal darah), ya Rabbi ! sudah berupa mudigah (segumpal daging), maka apabila akan dijadikan, ditanyakan laki-laki atau wanita, nasib baik atau jelek, apakah rezekinya, ajalnya. Maka ditulis semuanya ketika masih berada dalam perut ibunya”(HR Bukhari).
Meskipun demikian, kita sebagai manusia diperintahkan berikhtiar oleh Allah Swt. untuk mencarinya dengan jalan yang sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Prinsip ini tidak mengajarkan agar kita tidak berpangku tangan dan diam tidak bekerja dengan alasan semua telah ditakdirkan oleh Sang Maha Kuasa.
Dalam kitab Ta‘limul Muta‘allim karya Syekh Al Zarnuji sebagai berikut:
Pertama, berbohong merupakan kebiasaan buruk yang sangat sering kita lakukan dan menganggapnya remeh, padahal berbohong bukan hal yang remeh bahkan termasuk dari kategori dosa-dosa besar, Allah Swt. Berfirman
انما يفتري الكذب الذين لا يؤمنون بآيات الله
“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hannyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah”(An-Nahl:105).
Berbohong merupakan induk dari segala kejahatan, bahkan salah satu tandanya orang munafik adalah dia yang suka berdusta.
Kedua, makan dalam keadaan masih junub, Jadi bagi siapa saja yang habis berhubungan badan (jika sudah menikah) atau sehabis mimpi basah jangan langsung makan, disarankan agar mandi terlebih dahulu karena dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa malaikat enggan masuk ke dalam rumah yang di situ terdapat orang yang belum mandi besar.
Ketiga, memanggil kedua orang tua dengan namanya merupakan hal yang tercela yang harus kita hindari. Orang tua adalah orang pertama yang harus kita hormati, adapun cara menghormatinya ada banyak cara yang telah diajarkan oleh para ulama atau bahkan lingkungan kita sendiri, antara lain memanggilnya dengan sebutan yang patut dan tidak menyakitkan baginya.
Sumber : bincangsyariah.com











