
JIC, JAKARTA— Suatu kebenaran yang disampaikan secara kontemplatif dan komprehensif bisa saja kalah dengan informasi biasa-biasa saja tetapi menarik. Bahkan hoaks yang secara terus-menerus diproduksi dan dijejelkan ke publik melalui media sosial dengan beragam teknik bisa lebih dipercaya karena kurangnya sikap kritis. Apalagi ditambah dengan kecenderungan publik yang hanya membaca judulnya atau yang dibuat dengan nada provokatif.
Tak mudah memang berada dalam belantara informasi yang tak terbatas dan terus-menerus diperbaharui dengan beragam isu yang datang silih berganti.
Bagi publik yang ingin mendapatkan ilmu dari pengajian, mereka dapat mengecek latar belakang para dai di internet. Di mana mereka belajar agama, bagaimana orientasi ideologi keislamannya, afiliasi organisasinya, termasuk kemungkinan kontroversi yang pernah dibuatnya. Jejak digital kini sangat mudah ditelusuri. Jangan sampai kita tertipu penampilan tetapi isinya kosong.
Inilah PR besar bagi para pegiat dakwah Islam moderat. Jangan sampai ranah dakwah dikuasai oleh kelompok tekstual dan konservatif yang memandang agama hanya secara hitam putih, yang menjunjung tinggi penampilan ketimbang substansi.
Pengetahuan agama yang mumpuni tak cukup untuk membuat publik mendengarkan kebenaran yang mereka sampaikan. Kemampuan untuk mengemas dakwah dengan cara yang menarik sesuai dengan target yang mereka tuju sangat penting agar pesan-pesan yang mereka sampaikan di dengar oleh publik.
Berdakwah, tak cukup dengan belajar ilmu agama, tetapi juga belajar ilmu psikologi publik, komunikasi massa, retorika, karakter media sosial, dan lainnya.
Bakat-bakat yang ada, perlu diasah agar mereka mampu tampil di depan publik dengan baik. Dan Itu semua tak bisa diserahkan sebagai tanggung jawab pribadi dai. Ada tanggung jawab lembaga-lembaga dakwah untuk turun terlibat mengemas dakwah di berbagai ruang publik menjadi menarik. (Achmad Mukafi Niam)
sumber : nu.or.id












