Home News Update Islam Indonesia PEREMPUAN MENJADI PEMBOM BUNUH DIRI, BNPT DIMINTA UBAH STRATEGI (2)

PEREMPUAN MENJADI PEMBOM BUNUH DIRI, BNPT DIMINTA UBAH STRATEGI (2)

0
290

 

JIC, JAKARTA–Setidaknya sejak 2016 lalu fenomena pelibatan perempuan dalam aksi terorisme terbaca pada penangkapan Dian Yulia Novi dan Ika Puspitasari. Keduanya adalah mantan buruh migran di luar negeri dan diduga berafilisasi dengan ISIS.

Dalam pemeriksaan di Polisi, Dian disebut akan menjadi pembom bunuh diri di sekitar Istana Negara, sedangkan Ika akan melakukan aksi bom bunuh diri di Bali.

Adapun tahun lalu, Dita Oepriarto dan Puji Kuswati menjadi pasangan suami istri bom bunuh diri pertama di Indonesia. Dita mengajak istri dan anak-anaknya meledakkan bom di gereja di Surabaya, Jawa Timur. Disusul keluarga Anton Ferdiantono di Rusun Wonocolo, Sidoarjo.

“Ke depan program-program deradikalisasi harus satu paket dengan melibatkan perempuan, istri-istrinya. Karena mereka teradikalisasi sama-sama, keluar juga sama-sama,” tukasnya.

Kontra-radikalisme kepada kelompok perempuan

Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris, mengatakan sejak Februari lalu pihaknya telah membentuk kelompok kerja yang melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga untuk melakukan kontra-radikalisme ke kelompok perkumpulan perempuan.

Lembaga pemerintah yang digandeng itu meliputi Kementerian Agama, Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

“Intinya mengajak masyarakat agar aware terhadap terorisme,” ujar Irfan Idris kepada BBC News Indonesia.

terorismeHak atas fotoBARCROFT MEDIA VIA GETTY IMAGES
Image captionKepolisian masih berjaga di depan gereja setelah terjadinya bom bunuh diri di Surabaya pada 14 Mei 2018.

 

Kontra-radikalisme itu, kata Irfan, akan difokuskan di empat lokasi yakni Medan, DKI Jakarta, dan Banten, Jawa Barat. Dari situ, anggota kelompok kerja akan memantau ada atau tidaknya gejala aksi terorisme.

“Jadi bagaimana mengajak mereka memahami bahaya radikalisme dan gejala-gejala yang ditimbulkan,” ujarnya.

Dalam pengamatannya, perempuan atau istri yang terpapar radikalisme akan lebih kuat keyakinannya ketimbang laki-laki. Sebab pelaku teror perempuan menggunakan emosional daripada rasionalnya.

“Kekuatan emosional itu sangat berakar ketimbang dirasionalkan. Kalau pakai hati, emosional, yang bermain, buktinya sudah banyak seperti di Surabaya itu. Suami dan anak-anak, ikut juga akhirnya,” jelasnya.

Karena itu, kata Irfan, tidak mudah menderadikalisasi pelaku teror perempuan.

“Mereka menjadi radikal pun tidak singkat, butuh proses panjang. Makanya kita ubah keyakinannya bagaimana membaca sejarah atau konsep Islam yang komprehensif supaya jangan tunggal.”

“Pelan-pelan didekati, beri pemahaman bahwa kita semua di Indonesia bergama, ingin damai, aman. Jadi saya kira itu yang kita ajak.”

 

sumber : bbcindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × 1 =