Serial Keluarga Sakinah-[ Edisi Ke-Sebelas]
Oleh:
Arief Rahman Hakim, S.Sos. M.Ag || Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ
ABDULLAH NASHIH ULWAN di dalam Tarbiyatul Aulad fil Islam (Pendidikan Anak dalam Islam) memasukkan pendidikan anak dengan nasehat sebagai salah satu metode pendidikan yang berpengaruh terhadap anak. Diyakini cukup berhasil dalam pembentukan akidah anak dan mempersiapkannya baik secara moral, emosional maupun sosial.
Petuah yang tulus dan nasehat yang berpengaruh jika memasuki jiwa yang bening, hati terbuka, akal yang jernih dan berfikir, maka dengan cepat mendapat respon yang baik dan meninggalkan bekas yang sangat mendalam.
Di dalam Al-Qur’an, Allah swt memberikan contoh bagaimana metode pendidikan anak dengan nasehat, seperti nasehat Ibrahim kepada ayahnya, Luqman kepada anaknya, nasehat Nuh as kepada kaumnya, Hud as kepada kaumnya, dan beberapa lainnya.
Allah swt berfirman,
إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُۥ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى ٱلسَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. [Qaf (50) : 37]
Adanya peristiwa, kisah-kisah menjadi pelajaran bagi siapa yang selalu menyadarinya, atau memiliki akal, yakni mendengarkan ucapan, menyadari, memikirkan dengan pikirannya, dan memahami dengan hatinya. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Adapun Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan, bahwa pada puing-puing umat terdahulu terdapat pelajaran yaitu bagi orang yang memiliki kalbu. Barangsiapa yang tidak memperoleh pelajaran dari sentuhan ini, berarti kalbunya telah mati, atau dia sama sekali tidak dianugerahi kalbu. Tidak perlu kalbu, tetapi pelajaran dan nasehat itu cukup diraih dengan pendengaran yang menyimak kisah dengan seksama dan penuh kesadaran, lalu kisah itu bereaksi di dalam diri seseorang.
Keluarga adalah institusi terkecil dalam masyarakat, ia merupakan sendi, tempat membangun hidup bermasyarakat dan bernegara. Kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas keluarga-keluarga dalam masyarakat sebuah negara. Dan pernikahan dalam sebuah keluarga bukan sekedar formalitas diresmikan oleh lembaga agama yang berwenang dalam menyelenggarakannya, namun tiap individu dalam keluarga memahami bahwa rumah tangga adalah sebuah amanah Allah swt.
Rasulullah saw bersabda, Berbaktilah kepada Allah dalam urusan-urusan perempuan (isteri), sebab sesungguhnya kamu telah ambil mereka (sebagai isteri) dengan amanah Allah. [HR. Bukhari}
- كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.
Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (kesucian/kecenderungan tauhid), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. [HR. Muslim]
Sejatinya seorang ayah tidak kehilangan keseimbangan dalam perannya di dalam keluarga, ia tidak hanya sibuk di luar mencari nafkah, sibuk berorganisasi dan aktualisasi di luar rumah. Namun ia juga hadir dalam memberikan kehangatan sebagai pemimpin dalam keluarga, mengayomi isteri dan anak-anak, meluruskan hal-hal yang memang harus diluruskan dalam kapal rumah tangga.
Ayah harus hadir dalam relung hati anak-anak agar mereka selalu memegang teguh petuah dan nasehat-nasehatnya. Dulu para orangtua senantiasa berpesan, Nak, Jangan tinggalkan salat lima waktu di manapun kamu berada. Maka hasilnya kita, sebagai para ayah dan ibu, dimanapun berada akan selalu memegang amanat orangtua dulu.
Ayah harus peduli dengan pendidikan anak-anak karena mereka akan melanjutkan kebaikan-kebaikan orangtuanya termasuk melampauinya di bidang akademik. Karena ilmu adalah kunci kehidupan, ilmu adalah pintu naiknya status sosial kita di hadapan Allah swt jika dibarengi dengan keimanan.
Menurut Adham Syarqawi, Bentuk cinta paling indah adalah memotivasi ketaatan. Siapa yang tidak peduli dengan akhiratmu maka dia tidak peduli kepadamu. Artinya, Siapa yang tidak peduli dengan kondisi agama anaknya, maka seorang ayah tidak peduli kepada anaknya.
Suatu ketika Umar bin Abdul Aziz berkata kepada temannya, Jika kamu melihatku telah tersesat jalan, maka peganglah bajuku lalu goyang-goyangkan aku sekeras-kerasnya dan katakan kepadaku, Wahai Umar takutlah kepada Allah karena kamu akan mati!
Semoga Allah ta’ala mudahkan para ayah di manapun berada, mendidik keluarga dan anak-anak dengan nasehat, menjaga amanat-amanat yang dititipkan kepadanya, memelihara dan merawat dengan penuh ketekunan dan kesabaran serta segenap cinta kasih agar seluruh penghuninya bisa memasuki Jannatun na’im, Surga yang penuh kenikmatan. Aamiin.












