Home Khazanah Islam Akhlak RUMAH BENTENG TERAKHIR PERADABAN

RUMAH BENTENG TERAKHIR PERADABAN

0
400

Serial Keluarga Sakinah-[ Edisi Ke-Dua Belas]

Oleh:

Arief Rahman Hakim, S.Sos. M.Ag || Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ

DI ANTARA fungsi rumah selain tempat berlindung dari cuaca dan gangguan luar, adalah sebagai pusat pembinaan keluarga dan sosialisasi. Seluruh anggota keluarga menikmati jalinan kasih sayang satu sama lain, mempertautkan hati dalam naungan rahmah Allah swt.

Dalam keseharian anak-anak akan menghadapi dinamika berbeda dengan apa yang selama ini didapatkan, baik dari keluarga di rumah atau sarana-sarana pembinaan yang dijalaninya. Selain aspek keluarga ada juga aspek lingkungan, pertemanan, lembaga pendidikan dan dunia media sosial.

Menurut Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri, sepanjang 1 Januari-21 Juli 2025 ada 13.192 kasus kejahatan terhadap anak yang ditangani kepolisian di Indonesia.

Kejahatan terhadap anak yang dimaksud meliputi tindak pidana dalam perlindungan anak, persetubuhan/cabul terhadap anak, penelantaran anak, dan kejahatan tentang peradilan anak.

Sejak awal tahun, motif kejahatan karena kesengajaan mencapai 59,61% dari jumlah total perkara kejahatan terhadap anak.

Ada 5 motif kejahatan terhadap anak yang paling banyak ditemukan Polri selama 1 Januari-21 Juli 2025, yaitu Pertama, sengaja 7.864 kasus. Kedua, masalah sosial 1.402 kasus. Ketiga, salah paham 1.105 kasus. Keempat, dendam 463 kasus. Kelima, gangguan keamanan 280 kasus.

Allah swt berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحًا وَءَالَ إِبْرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمْرَٰنَ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ

ذُرِّيَّةًۢ بَعْضُهَا مِنۢ بَعْضٍ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)

(sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [ali Imran (3) : 33-34]

Allah swt menjelaskan bahwa Dia menjadikan keluarga-keluarga ini sebagai keluarga pilihan-Nya melebihi seluruh penduduk bumi. Allah swt menjadikan mereka para orang pilihan di antara seluruh penduduk alam dengan menjadikan di antara anggota mereka sebagai Nabi, sebagaimana dijelaskan Syaikh Wahbah az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir.

Adapun Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di menjelaskan bahwa Allah memiliki hamba-hamba pilihan dari seluruh hamba-hamba-Nya. Dia memilih mereka dan mengaruniakan atas mereka keutamaan-keutamaan yang tinggi, sifat-sifat yang luhur, ilmu-ilmu yang bermanfaat, amal perbuatan yang salih dan keistimewaan-keistimewaan yang bermacam-macam. Dan Allah menyebutkan keluarga-keluarga besar tersebut dan apa yang di dalamnya berupa manusia-manusia agung yang memiliki sifat kesempurnaan, dan bahwasannya keutamaan dan kebaikan itu telah diwariskan secara turun temurun oleh anak cucu mereka yang mencakup laki-laki maupun wanita di antara mereka.

Peradaban menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas terdiri dari tiga kata kunci; madaniyah, tamaddun, dan madinah. Madaniyah dan tamaddun dimaknai sebagai civilization (peradaban), dan Madinah adalah nama kota, al-Madinah al-Munawwarah, tempat di mana Islam (baca; din) disempurnakan dan diamalkan secara sempurna oleh kaum Muslimin.

Sementara Yusuf al-Qaradawi dalam bukunya al-Sunnah Masdaran li al-Ma’rifah wa al-Hadarah, memberikan makna peradaban sebagai sekumpulan bentuk-bentuk kemajuan; baik yang berbentuk kemajuan materi, ilmu pengetahuan, seni, sastra, ataupun sosial, yang ada dalam satu masyarakat atau pada masyarakat yang serupa.

Orang-orang beriman berupaya agar rumah tangga-rumah tangga muslim menjadikan keluarga Ibrahim as dan keluarga Imran (Bunda Maryam, Ibu Nabi Isa as) sebagai teladan dalam beribadah, keluhuran akhlak, ilmu-ilmu yang bermanfaat dan beragam keistimewaan lainnya. Lalu menjadikan rumah tangga mereka beserta seluruh anggota keluarga menjadi maju dan sejahtera secara fisik namun juga kokoh dan teguh di dalam aspek spiritual.

Ada keseimbangan di dalam rumah antara aspek duniawi dan ukhrawi; kemapanan, kesuksesan hidup dan karir dengan baiknya hubungan vertikal dengan Allah swt, yang tercermin dalam ibadah, amal salih dan keseharian di rumah dan lingkungan tempat tinggal.

Di saat anak-anak mendapati peradaban sudah mulai keropos; pergaulan rusak, LGBTQ+ merajalela, narkoba dan judi online mewabah, dan lembaga pendidikan melemah. Maka ada satu institusi yang menjadi benteng terakhir peradaban, yaitu rumah (keluarga).

Seyogyanya anak-anak harus belajar kepada Ashabul Kahfi saat mereka dipersekusi karena keimanannya kepada Allah swt, maka yang mereka lakukan adalah berlindung ke sebuah gua dan bermunajat memohon perlindungan kepada Allah swt. Jadi ketika sakit anak-anak pergi berobat dan berdo’a, ketika belum memiliki pekerjaan mengirimkan riwayat hidup kepada perekrut dan berdoa, jika merasa masih kurang ilmu maka menuntut ilmu dan berdoa, jika sudah lelah berdagang dan bekerja, kembali ke rumah dan berdoa.

فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ

Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah (kebahagiaan). [al-Lail (92) : 7]

Semoga Allah ta’ala mudahkan para ayah dan ibu di dalam menjaga, merawat, dan melindungi seluruh anggota keluarga di rumah agar selamat di dunia dan di akhirat, serta mengarahkan anak-anak melakukan tindakan fisik yang bersifat dunia dan tindakan spiritual sekaligus. Allahumma Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen − 9 =