Home Khazanah Islam Akhlak IMPLEMENTASI ISRA’ MI’RAJ DALAM KESEHARIAN

IMPLEMENTASI ISRA’ MI’RAJ DALAM KESEHARIAN

0
647

Serial Ayat-ayat Pendidikan

Oleh :

Arief Rahman Hakim S.Sos. M.Ag

Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ

Di antara pelajaran penting Isra’ Mi’raj adalah ibadah salat, yang menjadi fondasi iman dan Islam, wasilah atau sarana terbesar menyucikan jiwa (tazkiyatun-nafs). Dengannya seorang mukmin belajar tawadhu’, tunduk patuh kepada Allah swt dengan simbol sujudnya muka dan kepala yang menjadi organ tubuh manusia yang paling tinggi dan dianggap terhormat. Mengikis penyakit sombong, takabur dan riya’ dalam dirinya. Salat lima waktu adalah cabang iman ke kedua puluh satu dari tujuh puluh tujuh cabang iman Imam Al-Baihaqi.

Allah swt berfirman,

 

ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

 

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

[al-‘Ankabut (29) : 45]

Di dalam Lubabut Tafsir, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sesungguhnya salat mencakup dua hal; meninggalkan berbagai kekejian dan kemunkaran, dimana menjaganya dapat membawa sikap meninggalkan hal-hal tersebut. Salat mencakup pula upaya mengingat Allah swt, dan menurut Ali bin Abi Talhah dari Abdullah bin ‘Abbas, Sesungguhnya ingatnya Allah swt kepada hamba-hamba-Nya lebih besar jika mereka mengingat-Nya dibandingkan dengan ingatnya mereka kepada-Nya.

Menurut Abul ‘Aliyah, Sesungguhnya salat itu memiliki tiga pokok. Setiap salat yang tidak memiliki salah satu dari tiga pokok itu, maka bukanlah salat, yaitu ; Ikhlas, khasy-yah (rasa takut) dan mengingat Allah swt. Ikhlas memerintahkan kepada yang ma’ruf, khasy-yah mencegahnya dari yang munkar dan mengingat Allah adalah al-Qur’an yang memerintahkan dan melarangnya.

Mengutip Syaikh Wahbah az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir bahwa Allah swt meminta Rasulullah saw agar mendakwahkan setiap muslim tentang kewajiban dan kesunahan salat dengan rukun dan syarat yang sempurna disertai kekhusyu’an dan ketundukan kepada Allah dan menghadirkan rasa takut kepada Allah dalam setiap tahapannya. Ini mencakup dengan terus-menerus melakukannya, yaitu, meninggalkan perbuatan keji dan kemungkaran-kemungkaran. Ini adalah tiang agama, hubungan antara hamba dan Tuhannya, dalil keimanan dan keyakinan, jalan keluar bagi orang yang resah dan sedih, sebab sucinya hamba dari bekas-bekas dosa dan maksiat.

Perbuatan keji adalah segala dosa yang tergolong besar dan terhitung keji, berupa segala bentuk maksiat yang dikehendaki oleh nafsu. Sedangkan munkar adalah setiap maksiat yang diingkari oleh akal sehat dan fitrah, hal ini sebagaimana yang diungkap oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di. Sementara Syaikh Wahbah az-Zuhaili mendefinisikan Al-Fakhsya’ adalah perbuatan buruk yang sudah keterlaluan seperti zina. Dan Al-Munkar adalah setiap sesuatu yang menyimpang dari syariat dan akal sehat seperti pembunuhan dan pengerusakan.

Rasulullah saw bersabda,

 

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُولُ (  إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ ، تَرْكَ الصَّلاَةِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

 

Dari Jabir ra, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan shalat.”

[HR. Muslim]

Dalam keseharian masih banyak muslim dan muslimah yang lalai dalam menunaikan rukun Islam kedua ini, bahkan ada yang mengakhir-akhirkan salat sehingga terlalu mepet dengan waktu salat berikutnya. Terlalu berani mereka menunda-nunda hak Allah, padahal kewajiban bagi setiap muslim menjalankannya dengan penuh keikhlasan dan ketundukan.

Jika pun ada yang rutin menunaikan salat lima waktu hanya sebatas gerakan tubuh dan jasmani saja, ruhnya belum utuh dalam menjiwai setiap bacaan salat. Maka buahnya akan terlihat dalam keseharian, tindak tanduk yang jauh dari mencerminkan perilaku dan akhlak Islami bahkan melampaui batas.

Sejatinya dengan menunaikan salat fardhu dan salat-salat sunnah maka akan berimplikasi kepada jiwanya ; tauhid, shiddiq, takwa, tawakkal, syukur, ridha, taslim, dan lainnya. Menjadi lebih teduh dan tenang dalam pembawaan dan pensikapannya terkait persoalan tertentu, dan istiqamahnya salat akan membawa seorang hamba terjauhkan dari perbuatan keji dan munkar.

Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadis marfu’,

مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا

 

Barangsiapa yang salatnya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar maka tidak bisa menambah kecuali jauh dari Allah

[HR. at-Tabrani]

Isra’ Mi’raj adalah momentum setiap muslim muhasabah apakah sudah benar salatnya selama ini ; aspek niat, thuma’ninah (tertib dan ketenangan) saat berwudhu dan salat, menjiwai bacaan salat, khusyu’ kehadiran hati  menuju Allah swt (baca ; hudurul qalbi ila Allah), fokus kepada Allah swt. Memenangkan Allah swt dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan-Nya sumber pengharapan, sumber perlindungan, sumber kekuatan.

Ketika salat dimaknai sebuah kebutuhan maka mendirikannya adalah keharusan sehingga akan mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar. Karena salat adalah hubungan vertikal kepada Allah swt maka sungguh malu seorang hamba jika membawa dosa-dosa besar dan perbuatan keji saat berjumpa dengan-Nya. Dan menurut Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Saat salat ditegakkan, didirikan maka hakikatnya seorang hamba sedang berzikir kepada Allah swt.

Bagi seorang aktifis dakwah Isra’ dan Mi’raj adalah momentum resfreshing dari kelelahan bergerak, menguatkan strategi dan mengokohkan perjuangan. Yang ada di benaknya adalah konsistensi ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah, tantangan amal salih amal usaha, terus berkontribusi untuk rakyat Palestina dan Gaza mengingat Mi’raj-nya Rasulullah saw bertitik tolak dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha,  serta senantiasa menjaga niat suci pengabdian lillah, khidmah untuk umat dan bangsa.

Selamat mengingat-ingat, tazkirah Isra’ dan Mi’raj Rasulullah saw 1447 H, semoga Allah Ta’ala mudahkan kita mengimplementasikan beberapa ‘ibrahnya dalam keseharian. Aamiin

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen + 7 =