Serial Keluarga Sakinah- Edisi Kedelapan Belas
Oleh : Arief Rahman Hakim, M.Ag.
Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ
KISAH Nabiyullah Ibrahim as dan keluarganya akan terus dikenang sepanjang masa, tak lekang oleh waktu dan generasi. Kisah kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat dan berbangsa yang banyak menginspirasi keluarga-keluarga muslim di dunia hingga saat ini.
- Ibrahim muda sebagai ujung tombak perubahan
Allah Ta’ala berfirman,
قَالُوْا سَمِعْنَا فَتًى يَّذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهٗٓ اِبْرٰهِيْمُ ۗ
Mereka (para penyembah berhala yang lain) berkata, Kami mendengar seorang pemuda yang mencela mereka (berhala-berhala). Dia dipanggil dengan nama Ibrahim. [al-Anbiya (21) : 60]
Yusuf Qardhawi dalam bukunya A Reminder For Muslim Youth Peta Jalan Generasi Muda Islam untuk Meraih Kejayaan yang Diharapkan, mendefinisikan pemuda sebagai : Pertama, Anak muda energik, cerdas, dan smart. Kedua, Memiliki visi hidup. Ketiga, Mudah menerima panggilan tauhid, ibadah, amal salih amal usaha. Keempat, Memiliki jiwa berjuang yang tinggi. Kelima, Terbimbing dengan nilai-nilai Qur’ani
- Adab Ibrahim Alaihissalam kepada ayahnya dalam berdakwah
Allah Ta’ala berfirman,
اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـًٔا
يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ قَدْ جَاۤءَنِيْ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِيْٓ اَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا
يٰٓاَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطٰنَۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلرَّحْمٰنِ عَصِيًّا
يٰٓاَبَتِ اِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يَّمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطٰنِ وَلِيًّا
Ketika dia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya, Wahai Bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak pula bermanfaat kepadamu sedikit pun?
Wahai Bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu yang tidak datang kepadamu. Ikutilah aku, niscaya aku tunjukkan kepadamu jalan yang lurus.
Wahai Bapakku, janganlah menyembah setan! Sesungguhnya setan itu sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
Wahai Bapakku, sesungguhnya aku takut azab dari (Tuhan) Yang Maha Pemurah menimpamu sehingga engkau menjadi teman setan. [Maryam (19) : 42-45]
- Nabi Ibrahim mengingatkan bapaknya terkait berhala dari tiga hal; Pertama, ia tidak mendengar, Kedua, ia tidak dapat melihat, Ketiga, ia tidak dapat memberi manfaat apa pun
- Dengan kelembutan seruan dakwahnya, Ibrahim menghadap bapaknya, berusaha menunjukinya kepada kebaikan yang telah Allah Ta’ala karuniakan dan ajarkan kepadanya
- Pada dasarnya dalam beribadah, manusia berorientasi kepada Zat yang lebih tinggi darinya, lebih tahu dan lebih kuat. Bagaimana mungkin manusia berorientasi kepada makhluk yang lebih rendah dari manusia
- Nabi Ibrahim sangat sopan, lembut dan santun ketika berdialog dengan bapaknya
- Sikap rendah hati. Beliau tidak mengatakan, Wahai bapakku, aku ini orang berilmu sedangkan engkau orang jahil, atau dengan berkata, Engkau tidak mempunyai ilmu sedikit pun
- Ia mengulang kata-katanya, Wahai bapakku, sebagai bentuk kelembutan dan kasih sayang
- Sikap kekhawatiran Ibrahim as kepada ayahnya; yaitu atas kesyirikan dan pelanggaran-pelanggarannya kepada perintah yang diberikan untuknya
- Bakti Ibrahim as kepada ayahnya mendatangkan karunia Allah Ta’ala berupa dua anak salih yang menentramkan hati, penerus perjuangannya, dan pewaris tugasnya (Ishaq dan cucu Ibrahim, Ya’qub)
Allah Ta’ala berfirman,
فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۙوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا
وَوَهَبْنَا لَهُمْ مِّنْ رَّحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّا ࣖ
Maka, ketika dia (Ibrahim) sudah menjauh dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya (seorang anak) Ishaq dan (seorang cucu) Ya‘qub. Masing-masing Kami angkat menjadi nabi
Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi mulia. [Maryam (19) : 49-50]
- Ismail remaja yang salih dan patuh kepada orangtua
Allah Ta’ala berfirman,
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” [as-Saffat (37) : 102]
- Remaja itu dekat dengan Allah Ta’ala
- Mudah berkomunikasi dengan orangtua
- Taat kepada Allah Ta’ala dan patuh kepada orangtua
- Sabar dalam menghadapi kondisi apa pun
- Ibadah kurban salah satu bagian pokok amalan di Zulhijjah
- Ismail Alaihissalam memerintahkan keluarganya untuk salat dan zakat
Allah Ta’ala berfirman,
وَكَانَ يَأْمُرُ اَهْلَهٗ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِۖ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهٖ مَرْضِيًّا
Dia selalu menyuruh keluarganya untuk (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat. Dia adalah orang yang dirihdai oleh Tuhannya. [Maryam (19) : 55]
- Suami itu pemimpin dalam rumah tangga
- Bertanggung jawab dalam hal ibadah seluruh anggota keluarga
- Mampu menjadi teladan dalam ‘ubudiyah dan taqarrub kepada Allah Ta’ala
- Salat adalah ibadah vertikal langsung kepada Allah Ta’ala dan sarana utama dalam tazkiyatun nafs
- Zakat adalah ibadah sosial dan sarana kedua dalam tazkiyatun nafs
- Bunda Hajar simbol isteri dan ibu salihah; Pejuang akidah dan Pejuang kehidupan
Allah Ta’ala berfirman,
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur. [Ibrahim (14) : 37]
- Ayat di atas merupakan rangkaian do’a Nabi Ibrahim dari ayat 35-41 surah Ibrahim. Meskipun demikian, daripada doa-doa yang lain, doa di ayat 37 ini sangat identik dengan perjuangan Hajar, ibu Nabi Ismail, untuk mendapatkan makanan dan minuman Ismail kecil yang sedang menangis karena lapar dan haus. Dugaan ini dapat dilihat pada beberapa penafsiran para mufasir, seperti At-Thabari, As-Samarqandi, Ar-Razi dan lainnya
- Ibrahim alaihissalam menitipkan keluarganya kepada Allah Ta’ala di sebuah lembah yang masih belum ada penghuninya dan tidak ada tanam-tanaman dan berdekatan dengan Baitullah
- Do’a agar Allah ta’ala memudahkan kehidupan isteri dan bayinya serta penduduk Mekkah, agar mereka menyembah Allah Ta’ala di dalamnya dengan mendirikan salat. Hati manusia ketika ia rindu akan kota Mekkah dan ingin melakukan haji atau umrah, maka ini akan menjadi sebab datangnya rezeki dan kebaikan untuk kota Mekkah
- Allah memberikan mereka rizki kepada keturunannya berupa buah-buahan, agar mereka bersyukur kepada Allah ta’ala atas hal tersebut. Oleh karena itu, adanya rezeki dan buah-buahan adalah sebab yang mewajibkan untuk bersyukur, karena kenikmatan melazimkan syukur.
- Dari darah, air susu dan do’a Hajar, lahir dan besar seorang nabi yang meneruskan generasi para nabi berikutnya hingga Nabi Muhammad saw, yaitu Nabi Ismail as
- Darinya juga lahir ritual ibadah yang disyariatkan, yaitu sa’i (rukun haji, kegiatan lari-lari kecil dari bukit Shafa dan bukit Marwah)
- Sa’I menunjukkan spirit akidah dan spirit kehidupan, ketika seorang wanita hanya berdua dengan bayinya, yang ditinggalkan oleh suami di jazirah Arab yang belum ada penghuninya dan sumber-sumber kehidupan
- Bunda Hajar menjadi legenda hidup bagi para ibu, gadis dan remaja muslimah tentang daya tahan, daya juang yang tinggi di dalam hidup dan kehidupan, dengan tetap menjadi hamba Allah Ta’ala yang taat
Jika melihat ayat demi ayat di atas maka bagaimana kondisi Ibrahim alaihissalam sebagai pemuda beserta karakteristiknya, sebagai anak yang berbakti kepada ayahnya dengan penuh kelembutan, sebagai juru dakwah yang sabar dan santun dengan penuh keikhlasan, sebagai ayah yang memiliki putera-putera para nabi, dan sebagai kepala keluarga yang memiliki isteri yang tangguh dan mendapat tempat mulia di sisi Allah Ta’ala dan kaum Muslim.
Pelajaran lain bahwa ikatan iman dan tauhid lebih kuat dari ikatan rahim dan nasab.
Semoga Allah Ta’ala mudahkan para ayah menjadi teladan dalam berkeluarga dan menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan kebenaran yang mencerahkan.
Allahumma Aamiin.












