Home Khazanah Islam Akhlak KURBAN BUKTI CINTA KEPADA ALLAH

KURBAN BUKTI CINTA KEPADA ALLAH

0
12

 

Serial Ayat-Ayat Pendidikan

Oleh :

Arief Rahman Hakim, S.Sos. M.Ag

Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ

 

Di antara tujuan yang paling tinggi dan paling mulia yang diupayakan oleh seseorang di dalam hidupnya ialah memperoleh cinta Allah dan mencapai kesukaan dan keridhaan-Nya.

Apabila Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, maka Allah akan menunjukinya kepada amal-amal salih, membantunya untuk mencapai tujuan yang paling tinggi, memberinya pertolongan yang dapat meningkatkan keadaannya dan meninggikan derajatnya, dan menjaganya dari segala keburukan yang menimpanya atau gangguan yang meliputinya.

Dalam sejarahnya, Rasulullah saw tak pernah melewatkan ibadah kurban saat berada di Madinah. Bahkan saat haji Wada’ 10 hijriyah, beliau menyembelih 100 ekor unta, di mana 63 atau 70 di antaranya disembelih sendiri, dan sisanya oleh Ali bin Abi Thalib.

Allah Ta’ala berfirman,

 

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ

 

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. [al-Hajj (22) : 37]

Ibnu Katsir di dalam Lubabut Tafsir menjelaskan bahwa Allah Ta’ala mensyariatkan penyembelihan unta-unta, Binatang hadiah untuk kurban agar mereka mengingat-Nya ketika menyembelih, karena Allah Mahapencipta dan Mahapemberi rizki. Tidak sedikitpun daging dan darahnya yang akan sampai kepada-Nya karena Allah Ta’ala (tidak membutuhkan) dari selain-Nya.

Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menyebutkan bahwa yang sampai kepada Allah Ta’ala adalah ketakwaan hati dan orientasi penghadapannya kepada Allah. Karena telah memberikan hidayah kepada hamba-Nya, menyadari hakikat hubungan antara Khalik dengan makhluk, serta hubungan antara amal dan orientasi arah tujuan hidupnya.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir mengatakan bahwa sungguh tiada suatu apa pun dari dagingnya dan tidak pula darahnya yang sampai kepada Allah. Akan tetapi, yang sampai adalah ketakwaan dan keikhlasan mereka.. Amal-amal salih itu yang akan diangkat.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di menjelaskan bahwa anjuran dan himbauan untuk ikhlas pada saat menyembelih unta. Hendaknya tujuannya adalah mencari Wajah Allah saja, bukan untuk membanggakan diri, riya’ (pamer agar dilihat), sum’ah (pamer agar didengar), ataupun hanya sekedar melaksanakan kebiasaan (budaya). Begitu pula, pada semua jenis ibadah, jika tidak dibarengi dengan ikhlas dan ketakwaan kepada Allah, maka ibadah tersebut bagaikan kulit (buah) yang tidak ada intisarinya, atau seperti tubuh tanpa ruh.

Terkait keutamaan berkurban, ‘Aisyah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

Seorang manusia tidak mengerjakan suatu amal pada hari Nahr yang lebih disukai oleh Allah daripada menumpahkan darah. Sesungguhnya binatang kurban itu benar-benar akan datang pada hari Kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya, darahnya benar-benar akan jatuh di sebuah tempat di sisi Allah sebelum jatuh di sebuah tempat di bumi. Maka dari itu, relakanlah ia. [HR. Tirmizi]

Hukum kurban adalah sunnah muakkadah. Makruh meninggalkannya apabila ada kemampuan untuk melakukannya.

Anas meriwayatkan bahwa Nabi saw pernah mengurbankan dua ekor kambing kibas yang berwarna putih hitam dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau. Beliau menyebut nama Allah dan bertakbir. (HR. Bukhari, Muslim)

Ummu Salamah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

Apabila kalian melihat hilal Zulhijjah dan seorang dari kalian ingin berkurban maka hendaklah dia tidak memotong rambut dan kuku-kukunya. (HR. Muslim)

Dalam riwayat Jundab Al Bajali Radhiallahu ‘Anhu:

 

شَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ أَضْحًى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ مَنْ كَانَ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا وَمَنْ لَمْ يَكُنْ ذَبَحَ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ

Aku lihat Rasulullah Saw salat Id hari Idul Adha, lalu berkhutbah, Siapa yang sudah menyembelih sebelum salat Id maka kembalilah ke tempatnya, siapa yang belum menyembelih maka sembelihlah dan bacalah bismillah.

[HR. Bukhari dan Muslim]

Kurban bukti cinta kepada Allah. Pertama, Cermin dari kualitas iman dan segala apa yang ada di dalam diri seorang hamba. Kedua, Merealisasikan kesatuan, persaudaraan dan kesamaan antar sesama. Ketiga, Menolong orang yang lemah yang mungkin tidak pernah atau sangat jarang memakan daging. Keempat, Dua aspek ajaran kurban adalah mendekatkan seorang hamba kepada Allah dan mendekatkan orang yang mampu dengan orang yang kurang mampu. Kelima, Kurban merupakan salah satu rangkaian ibadah pada bulan Zulhijjah (bulan haji) setelah salat Idul Adha.

Maka menurut Sayyid Qutb, seorang muslim tidaklah melangkah satu langkah pun, dan tidak bergerak dengan suatu gerakan pun baik di waktu malam dan siang hari, melainkan dia melihat dan berorientasi kepada Allah semata-mata. Serta menyemangati hatinya dengan takwa kepada-Nya. Seorang hamba hanya berorientasi di dalam melakukan segala aktifitasnya untuk mencapai ridha Allah.

Ketika semua hidupnya menjadi ibadah maka kehidupan seorang hamba di bumi pun menjadi berkah karena terhubung ke langit.

Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita dan keluarga beribadah kurban. Aamiin.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 4 =