Home Khazanah Islam Akhlak KASIH SAYANG IBU

KASIH SAYANG IBU

0
283
Ilustrasi [AI]

SALAH SEORANG sahabat mengundang saya untuk menghabiskan waktu liburan bersamanya di kampung halamannya yang indah nan jauh. Ia tinggal di sebuah kota kecil yang berjarak sekitar setengah hari perjalanan dengan mobil dari ibu kota.

Kami menghabiskan waktu liburan tersebut dengan berbincang-bincang dan bercanda tawa. Selain itu, kami juga sangat menikmati pemandangan pegunungan yang asri.

Cuaca di ibu kota saat itu terasa sangat panas menyengat. Namun, setiap kali kami berkendara mendaki pegunungan, cuaca perlahan berubah menjadi sejuk dan terasa dingin.

Kota tersebut sangat indah karena dikelilingi oleh hutan yang lebat. Rumah-rumahnya pun tampak dibangun tersebar di atas perbukitan.

Kendati demikian, saya merasa sangat lelah sehingga tidak sanggap berkeliling pada hari itu. Ditambah lagi waktu malam sudah menjelang, saya pun lebih memilih untuk beristirahat di dalam rumah sahabat saya.

Kami terus asyik mengobrol mengisi malam yang tenang. Percakapan itu terus berlanjut hingga tiba waktunya bagi kami untuk tidur.

Waktu telah mendekati pukul sepuluh malam, dan saya sedang fokus membaca sebuah buku. Tiba-tiba saja, saya mendengar sayup-sayup suara tangisan seorang wanita.

Suara itu terdengar sangat penuh keputusasaan dan meratap pilu secara berulang-ulang dari waktu ke waktu. Saya segera bangkit dari tempat duduk dan melangkah menuju jendela demi memastikan sumber suara tangisan tersebut.

Ternyata, suara yang memilukan itu berasal dari salah satu rumah penduduk yang berada di dekat sana.

Keesokan paginya, saya langsung menanyakan perihal suara misterius itu kepada sahabat saya. Ia pun menjelaskan, “Itu adalah suara seorang wanita kurang waras yang selalu memanggil-manggil putranya yang tinggal jauh darinya.”

Sahabat saya melanjutkan bahwa ia tidak mengetahui banyak hal tentang latar belakang wanita itu, kecuali fakta bahwa ia dahulu sangat mencintai putranya dengan sepenuh jiwa. Wanita itu menjadi gila setelah sang anak direbut paksa oleh mantan suaminya yang menceraikannya saat ia masih mengandung.

“Namun, apakah suaranya yang meratap itu mengganggumu hingga membuatmu tidak bisa tidur semalam?” tanya sahabat saya kemudian. Saya pun menjawab, “Suara itu sama sekali tidak menggangguku, tetapi benar-benar membuat hatiku merasa sangat sedih.”

Beberapa hari kemudian, saya pergi berjalan-jalan seorang diri untuk menyegarkan pikiran di salah satu hutan terdekat. Saat itu matahari sudah mulai condong ke ufuk barat bertanda senja akan tiba.

Saya berjalan menelusuri rute sembari mencoba mencapai sebuah batu besar yang terletak cukup jauh di dalam hutan. Namun, secara tidak terduga saya justru berpapasan langsung dengan wanita tersebut.

Ia adalah seorang wanita bertubuh tinggi, berambut pirang, dan diperkirakan berusia sekitar empat puluh tahun. Ia tampak sangat ketakutan saat melihat kehadiran saya di tempat sepi itu.

Ia terlihat bimbang dalam kepanikan, apakah harus tetap diam di tempatnya atau segera berlari menjauh dari hadapan saya. Tak lama kemudian, ia berseru dengan nada penuh amarah, “Apa yang kau inginkan dariku, dan mengapa kau terus membuntutiku ke mana pun aku pergi?!”

Saya segera menyahut dengan lembut, “Maafkan saya, Nyonya, saya sama sekali tidak bermaksud untuk mengejutkan atau mengganggu ketenangan Anda.” Saya menegaskan bahwa saya tidak sedang membuntutinya, melainkan hanya seorang pendatang asing di kota ini yang tidak mengenalnya sama sekali.

Setelah itu, saya berniat melangkah mundur untuk menjauh demi menenangkannya. Namun, tiba-tiba saja ia justru maju mencengkeram pakaian saya dengan raut wajah yang memancarkan keinginan sangat besar untuk berbicara.

Ia memberondong saya dengan rangkaian pertanyaan, “Kau seorang asing di sini? Apakah kau pernah melihatnya?” Ia melanjutkan dengan histeris, “Apakah kau melihat putraku? Katakan kepadaku, apakah dia menyampaikan pesan kepadamu bahwa dia akan segera datang menemuku?”

Wanita itu kemudian menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya. Melihat kondisinya, saya mencoba menenangkannya seraya berkata, “Tenangkanlah pikiran Anda, karena tidak semua orang asing di sini otomatis mengenal putra Anda.”

Saya menawarkan bantuan dengan berkata bahwa jika ia bersedia menceritakan kisah hidupnya, mungkin saya bisa membantunya mencari jalan keluar. Ia menjawab dengan ratapan lirih, “Aku telah kehilangan arah hidup, bagaikan seorang anak kecil yang tersesat dan kehilangan rumahnya.”

Wanita itu menambahkan dengan penuh keputusasaan, “Mereka telah merampas putraku dariku, sehingga kau pun tidak akan mungkin bisa membantuku.”

Ia terdiam sejenak menahan gejolak emosinya, lalu kembali melanjutkan bicaranya. “Semua orang di kota ini mencapku sebagai wanita gila karena aku tidak pernah mengingat apa pun kecuali namanya saja,” ungkapnya pilu.

“Aku tidak pernah memanggil siapa pun kecuali dirinya, dan aku tidak menginginkan apa pun lagi di dunia ini,” lanjutnya dengan napas terengah. Ia mengeluh ragu, “Ah, apa sebenarnya yang aku inginkan? Sesungguhnya aku sendiri tidak tahu lagi apa yang aku cari, bahkan jika dia pulang hari ini, mungkin aku tidak akan mengenalinya lagi.”

“Meski begitu, aku akan tetap setia menanti kepulangannya di sini, dan dia sangat tahu hal itu,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Namun, ia menyayangkan karena putranya pernah memberi tahu bahwa ia merasa risi dan terbebani oleh besarnya rasa cintanya serta gunjingan orang-orang tentang ibunya.

Ia meratap, “Hari ini, bahkan setiap hari, aku yang dicap gila ini terus mencari keberadaan putra kecilku di tengah dunia yang kejam ini.” Putranya adalah sosok yang pernah menyinari lembaran hidupnya yang kelam bagaikan kilatan petir, sebelum akhirnya direbut paksa darinya.

Orang-orang menuduhnya gila hanya karena ia mengalihkan seluruh perhatian dunianya demi fokus merawat sang buah hati. Akibatnya, tidak ada seorang pun yang melihatnya kecuali dalam kondisi sedang memeluk erat dan menatap dalam-dalam wajah bayinya.

“Lalu mereka merampoknya dariku, dan aku tidak tahu bagaimana serta kapan mereka melakukannya,” keluhnya histeris. Suaminya yang telah menceraikannya saat hamil tua datang beberapa hari pascamelahirkan untuk merebut bayi itu, lalu menghilang tanpa jejak hingga ia baru bisa melihat anaknya lagi setelah tujuh tahun berlalu.

Wanita itu tiba-tiba menghentikan bicaranya dengan mendadak. Pandangan matanya mendadak kosong, seolah-olah ada sosok manusia lain yang sedang berdiri di hadapannya menggantikan posisi saya.

Ia memalingkan wajahnya ke arah kekosongan tersebut dan mulai berbicara dengan antusias, mengabaikan keberadaan saya yang berdiri di depannya. Ia berseru, “Ah, putraku tercinta! Aku akhirnya bisa melihatmu hari itu setelah tujuh tahun lamanya kita terpisahkan oleh jarak.”

“Namun, mengapa kau justru berpaling dan tidak mengakuiku sebagai ibumu?” tanyanya dengan nada penuh kepedihan. “Apakah kau tidak melihat binar kerinduan yang begitu mendalam di dalam kedua mata ibumu ini, atau melihat kedua tangannya yang terulur lebar ingin memelukmu?”

Ia terus mencecar bayangan itu, “Apakah kau tidak mendengar jeritan hatiku yang sangat ingin melindungimu dari kejamnya dunia?” Ia mempertanyakan mengapa anaknya hanya diam terpaku menatap ibunya yang malang dan kehilangan arah hidup ini.

“Apakah belum cukup bagimu melihat bagaimana waktu dan hari-hari telah menghancurkan kewarasanku sejak kepergianmu, wahai kekasihku?” ratapnya lagi. Ia menyayangkan karena anaknya harus tumbuh besar di antara kedua orang tua yang saling membenci dan tidak memiliki kecocokan sama sekali.

Ia kemudian kembali menoleh ke arah saya, seolah-olah baru saja tersadar dari lamunan fantasinya. Ia berkata lirih, “Anak-anak bertumbuh dan berubah dengan sangat cepat, wahai Tuan; pria itu adalah anakku dan ini adalah guratan wajahnya, tetapi sifatnya telah berubah total.”

Ia mengenang bahwa dahulu ketika ia memanggilnya, anak itu akan tertawa gembira menyambutnya. Namun kini, ketika ia memanggilnya, anak itu justru menghindar dan enggan berada di dekatnya.

“Mereka telah merampok masa kecilnya yang indah serta mematikan rasa cintanya kepadaku,” keluhnya dengan nada getir. Setelah bertahun-tahun berlalu, mantan suaminya wafat disusul oleh meninggalnya seluruh anggota keluarganya.

Bagi wanita itu, wafatnya mereka seolah menjadi bentuk pertolongan dari Tuhan yang menyelamatkannya dari jurang kesendirian dengan mengembalikan sang putra ke pelukannya. Putranya yang merasa tidak betah tinggal di kota kecil tersebut akhirnya memboyong sang ibu untuk pindah bersama ke ibu kota.

“Ia kini telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang mapan dan memiliki privasi hidup sendiri yang sangat aku hormati,” jelasnya. Namun pada suatu hari, putranya menyampaikan rencana untuk pergi ke luar negeri demi menikahi seorang gadis asing yang dikenalnya selama masa kuliah.

“Aku memohon dan bersujud di hadapannya agar ia membatalkan niat tersebut,” kenang wanita itu penuh tangis. Sebab ia tahu jika putranya pergi, ia akan kembali ditinggalkan seorang diri dalam kondisi tua renta, meskipun putranya berjanji tidak akan lama di luar negeri.

Satu bulan kemudian, putranya kembali pulang ke rumah dengan membawa serta istri barunya yang asing. Sang ibu awalnya mencoba menerima dan sangat mencintai menantunya tersebut dengan tulus.

Namun ternyata, menantu asingnya itu tidak menyukai besarnya perhatian dan rasa cinta sang ibu yang mendalam kepada putranya. Wanita asing itu mulai membangun tembok pembatas yang tebal di antara ibu dan anak, yang tidak mampu diruntuhkan oleh sang ibu.

Kondisi rumah menjadi sangat dingin hingga menantunya sama sekali tidak mau mengajaknya berbicara. Setelah satu tahun berlalu, putranya memberi isyarat halus bahwa kehadiran sang ibu di rumah tersebut sudah menjadi beban yang berlebih.

Meskipun putranya tidak menyatakannya secara terang-terangan, sang ibu yang sadar diri langsung meminta izin untuk pulang ke rumah lamanya di desa. Ia hanya meminta agar putranya sudi menjenguknya dari waktu ke waktu, dan putranya menyetujui hal itu.

Pada bulan-bulan awal, putranya memang masih terlihat beberapa kali berkunjung ke rumah lamanya di desa tersebut. Namun perlahan, intensitas kunjungan itu berkurang drastis hingga akhirnya berhenti sama sekali tanpa kabar.

Didorong rasa khawatir yang besar, sang ibu nekat pergi sendirian ke ibu kota demi mencari informasi tentang anaknya. Di sanalah ia mendapati kenyataan pahit bahwa putranya telah bermigrasi ke luar negeri mengikuti istrinya, dan ia tidak mendengar kabar tentangnya lagi hingga hari ini.

“Dan seperti yang Anda lihat sendiri sekarang, wahai Tuan, aku adalah wanita tua yang malang dan kehilangan arah hidup,” pungkasnya menutup cerita. Saya tertegun dan mencoba merangkai kata-kata penghibur demi meringankan beban batinnya yang teramat berat.

Namun sebelum saya sempat berbicara, wanita malang itu sudah membalikkan badannya. Ia melangkah pergi meninggalkan saya di tengah hutan tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.[]

Oleh: Abdullah Husain Baghdadi –dengan penyesuaian-, dalam Al-Arabiyyah lin Nasyiin Jilid 6.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − four =