JIC, — Selain meyakini keberadaan Tuhan, komunikasi dengan sesama tahanan juga membantu Aziz bertahan hidup.
Pada saat-saat tertentu, tahanan berbicara, sementara yang lain mendengarkan. Aziz banyak berbicara, berkat ingatannya yang kuat tentang isi buku-buku yang ia baca saat remaja.
Aktivitas lain, yang juga sangat ditunggu, adalah belajar menghafal Quran.
“Dua dari tahanan hafal Quran. Ada tradisi di Maroko, anak-anak belajar menghafal Quran di madrasah. Suatu hari kami memutuskan untuk belajar menghafal Quran bersama-sama,” kata Aziz.
“Yang hafal Quran melafalkan ayat-ayat dan kami semua belajar untuk menhafal ayat tersebut. Namun kecepatan para tahanan menghafal Quran berbeda-beda. Ada yang cepat, ada pula yang lambat.”
“Biasanya saya membantu tahanan-tahanan yang lambat. Saya melafalkan ayat, dan mereka akan menirukan saya. Ini perlu kedisiplinan tersendiri. Namun proses belajar ini membantu kami untuk tetap waras,” katanya.
Yang juga menjadi kegiatan favorit para tahanan adalah bernyanyi. Menyanyikan lagu apa saja. Pop, tradisional, berbahasa Arab, Prancis, maupun bahasa Inggris.
Lagu terbukti sangat membantu Aziz dan para tahanan untuk bertahap hidup. Ia menggambarkannya sebagai “pojok surga di bumi”.
“Saat bernyanyi, Anda merasa senang. Ketika bernyanyi, Anda merasa… bahagia. Ketika melantunkan lagu, Anda melupakan persoalan Anda. Lagu adalah sumber kebahagiaan. Anda bisa merasa bahagia, meski menjalani kehidupan seperti di neraka,” kata Aziz.
Setelah menjalani penahanan yang sangat mengenaskan dan menyengsarakan selama 18 tahun, Aziz dibebaskan pada 1991.
Pemberitahuan pembebasan disampaikan pihak berwenang melalui telepon ke keluarga Aziz.
“Saya yang menjemputnya … dan ketika Aziz melihat saya, ia berteriak memanggil nama kecil saya. Namun saya tak mengenalinya,” kata Ilham, adik perempuan Aziz.
Ilham mengatakan, “Ia bungkuk dan tampak sangat ringkih. Ia seperti perempuan tua. Jauh dari Aziz yang saya kenal dulu, yang berperawakan kuat dan jangkung. Ia sekarang tak dikenali.”
“Namun wajahnya sangat teduh. Di hari-hari pertama setelah ia bebas, ia selalu mengucapkan ‘alhamdulillah’ sebagai tanda syukur kepada Allah. Itu yang ia ucapkan terus menerus,” kata Ilham.
Kondisi Aziz sangat mengenaskan: tak ubahnya kulit membungkus tulang. Ia juga tak bisa langsung hidup normal.

SUMBER GAMBAR,AFP VIA GETTY IMAGES
“Ia tidur di lantai seperti anjing. Padahal, kami sudah menyiapkan kamar dan kasur untuknya. Namun ia lebih memilih tidur di lantai, dengan posisi persis seperti anjing. Dia melakukannya selama berbulan-bulan. Kalau saya mengingatnya, saya masih sangat sedih,” kata Ilham.
Lambat laut Aziz membangun kembali kehidupannya.
Ia menikah, punya anak, dan memaafkan sang ayah, yang sempat tak menganggapnya sebagai anak.
Ayahnya adalah salah satu penasihat dekat Raja Hassan II. Setelah kudeta, Raja Hassan II mengatakan kepada ayah Aziz bahwa Aziz termasuk salah satu tentara yang melancarkan kudeta.
Mendengar penuturan ini, ayahnya mengatakan, “Tentara yang Paduka maksud bukan lagi anak saya.”
Namun, Aziz tak menyimpan dendam. Setelah dibebaskan, ia menemui sang ayah, pertemuan yang mencairkan hubungan.
Aziz juga menulis tentang pengalamannya selama di penjara Tazmamart.
Buku ini ia persembahkan untuk sesama tahanan yang meninggal dunia di sana.
Bagi Aziz, yang paling penting adalah ia masih diberi kesempatan untuk hidup setelah menjalani hari-hari mengerikan di penjara Tazmamart.

SUMBER GAMBAR,AFP VIA GETTY IMAGES
“Badan saya remuk. Saya sakit-sakitan… tapi saat dibebaskan, saya merasakan jiwa saya sangat kuat. Saya katakan ke diri sendiri, saya masih diberi kesempatan untuk hidup,” kata Aziz.
“Ada banyak hal yang bisa saya lakukan. Tazmamart seakan terlupakan. Sekarang, jika saya berbicara tentang Tazmamart, itu seperti episode cerita yang terjadi pada orang lain,” katanya.
Artikel ini diadaptasi dari acara Heart and Soul dari radio BBC World Service: Eighteen years in hell yang bisa Anda dengarkan di tautan ini.












