Home Khazanah Islam Akhlak NASIHAT IBNU ‘ATHAILLAH AGAR HIDUP LEBIH TENANG

NASIHAT IBNU ‘ATHAILLAH AGAR HIDUP LEBIH TENANG

0
702

(islamic-center.or.id) – Syekh Ahmad bin Muhammad bin Atha’illah as-Sakandari adalah seorang ulama besar di bidang tasawuf yang hidup pada abad ke-13. Julukan as-Sakandari menunjukkan asal beliau dari Iskandariah, Mesir. Ia dikenal sebagai cendekiawan yang sangat produktif, dengan lebih dari 20 karya tulis yang mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti tasawuf, akidah, ushul fikih, ilmu nahwu, tafsir Al-Qur’an, hingga hadis. Di antara seluruh karyanya, Al-Hikam menjadi kitab yang paling terkenal karena sarat dengan nasihat dan refleksi kehidupan.

Makna Kepasrahan yang Sejati

Dalam Al-Hikam, Ibnu ‘Athaillah menjelaskan bahwa sikap pasrah kepada Allah tidak sama dengan bermalas-malasan. Kepasrahan tidak berarti seseorang berhenti berusaha atau meninggalkan doa dengan alasan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Justru, setiap manusia tetap diwajibkan untuk berikhtiar.

Keistimewaan seorang Mukmin terletak pada kemampuannya menggabungkan usaha dengan keyakinan penuh bahwa Allah adalah Pengatur segala urusan. Ia bekerja dan berdoa dengan sungguh-sungguh, sembari menggantungkan harapan hanya kepada Allah Ta’ala. Sebab, hanya Allah yang pantas dijadikan sandaran dan hanya Dia pula yang mampu menjamin keselamatan. Melepaskan ketergantungan dari selain Allah itulah hakikat kepasrahan yang sebenarnya.

Tidak Ikut Campur dalam Ketentuan Allah

Ibnu ‘Athaillah juga mengajarkan pentingnya ridha terhadap ketetapan Allah SWT. Untuk menggambarkan makna ridha, ia mengutip perkataan seorang syekh yang berkata, “Andaikan seluruh penghuni surga telah berada di surga dan penghuni neraka telah dimasukkan ke neraka, lalu hanya aku yang tersisa, aku tidak mengetahui ke mana aku akan ditempatkan.”

Menurutnya, inilah gambaran seorang hamba yang tidak memiliki keinginan lain selain berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Kehendaknya hanyalah mengikuti kehendak Allah. Seorang ulama bahkan berkata, “Keinginanku di pagi hari ini hanyalah berada dalam ketentuan Allah.”

Ibnu ‘Athaillah pun mengingatkan agar manusia tidak merasa perlu mengatur takdir bersama Allah. Ia menegaskan, karena diri kita sepenuhnya milik Allah, maka kita tidak memiliki hak untuk mengatur sesuatu yang bukan milik kita.

Senantiasa Mengingat Allah

Ibnu ‘Athaillah membedakan antara orang yang sadar akan Allah dan mereka yang lalai. Ia mengatakan, saat pagi hari tiba, orang yang lalai akan sibuk memikirkan urusan dunia dan menghitung keuntungan atau kerugiannya. Sementara itu, orang yang zuhud dan ahli ibadah justru memulai pagi dengan mengoreksi hubungannya dengan Allah.

Seorang Mukmin seharusnya selalu menghadirkan Allah dalam ingatannya. Hatinya tidak boleh terlalu terpikat oleh gemerlap dunia hingga melupakan dzikir kepada-Nya. Para ahli makrifat menyadari bahwa Allah-lah yang sesungguhnya menguasai diri dan harta mereka. Segala aktivitas yang mereka lakukan bersumber dari Allah, dilakukan bersama Allah, dan ditujukan semata-mata untuk Allah.

Sumber: Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

17 + six =