Home News Update DIKUBUR DI MAKAM KAMPUNG MUSLIM, NISAN SALIB DIPOTONG, DOA BATAL

DIKUBUR DI MAKAM KAMPUNG MUSLIM, NISAN SALIB DIPOTONG, DOA BATAL

0
640

Palang salib dipotong oleh warga, kata Ketua RT.

Nisan kayu salib dipotong dan prosesi doa kematian gagal dilakukan dalam pemakaman jenazah seorang warga Kristen, karena mendapat penolakan dari warga sekitar.

Mendiang Albertus Selamet Sugihardi semasa hidupnya adalah warga Kristen yang tinggal di Purbayan, Kotagede, Yogyakarta.

Soleh Rahmad Hidayat (38), Ketua RT di tempat tinggal mendiang Slamet, mengakui penolakan saat pemakaman pada Senin (17/12) kemarin itu.

“Sembilan puluh sembilan persen warga di sini Muslim. Jadi sudah menjadi aturan, biar tidak menimbulkan konflik,” kata Soleh, Selasa (18/12), saat ditemui sejumlah wartawan di rumahnya yang tak jauh dari rumah mendiang Slamet.

Menurut sang Ketua Rukun Tetangga, hasil keputusan warga dan sesepuh kampung, menegaskan, dalam upacara penguburan itu tidak boleh ada doa di pemakaman, dan tidak boleh ada simbol salib.

Akibatnya, salib yang disiapkan, kemudian dipotong, dan sisanya ditancapkan hingga sangat rendah.

“Yang motong salib warga kampung karena memang tidak boleh dengan atribut salib. Pemotongan saat itu juga,” katanya, seperti dilaporkan Yaya Ulya, wartawan Yogyakarta yang meliput untuk BBC News Indonesia.

makam warga kristen di kuburan islamHak atas fotoYAYA ULYA UNTUK BBC NEWS INDONESIA
Image captionPapan sisa salib ditancapkan hingga sangat rendah.
Pemakaman SlametHak atas fotoYAYA ULYA UNTUK BBC NEWS INDONESIA

Sebenarnya, kompleks pemakaman tempat jenazah Slamet dikuburkan adalah tempat pemakan umum dan masih di daerah Purbayan, tidak jauh dari rumah mendiang, dan bukan merupakan pemakaman Muslim.

Namun Soleh berdalih, sudah ada kesepakatan dengan pihak keluarga mengenai tidak diperbolehkannya doa saat di makam dan penancapan salib di atas makam.

“Kesepakatannya tidak tertulis. Setelah itu baru tertulis,” kata Soleh.

Kesepakatan tertulis yang bermeterai itu tertanggal 18 Desember, sehari setelah pemakaman.

Dan yang bertanda tangan di bawahnya adalah isteri mendiang Slamet, Maria Sutris Winarni, Ketua RT 53 Soleh Rahmad Hidayah, Ketua RW 13 H. Slamet Riyadi, dan H. Bedjo Mulyono, yang disebut sebagai tokoh masyarakat.

Apakah Maria Sutris Winarni, isteri mendiang Slamet, terpaksa karena keadaan, menerima saja perlakuan terhadap jasad suaminya itu dan menandatangani kesepakatan, ia menolak bicara.

“Saya tidak bisa, sedang berkabung,” katanya saat ditemui di rumahnya.

Dia tidak mau memberikan komentar lebih lanjut. Rumahnya pun sepi, tanpa kursi atau tikar yang digelar, yang biasanya tampak di rumah berkabung warga.

Bedjo yang ikut tanda tangan di surat pernyataan tersebutHak atas fotoYAYA ULYA UNTUK BBC NEWS INDONESIA
Image captionBedjo Mulyono, ‘tokoh masyarakat’ dan surat pernyataan tersebut.

Bedjo Mulyono, sang tokoh masyarakat dan salah satu penandatangan ‘surat pernyataan’ tersebut, menyatakan, kendati Pemakaman Jambon adalah pemakaman umum, mereka mengambil keputusan itu ‘karena iklim Kota Gede tidak mendukung.’

“Mengenai makam Jambon, walaupun belum resmi tapi akan diresmikan menjadi makam muslim,” kata Bedjo.

 

sumber : bbcindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × 5 =