Home News Update Islam Indonesia GUS MIFTAH, DARI DAKWAH SARKEM BERUJUNG VIRAL DI BOSHE BALI (2)

GUS MIFTAH, DARI DAKWAH SARKEM BERUJUNG VIRAL DI BOSHE BALI (2)

0
456

Perjuangan Awal

JIC, JAKARTA- Gus Miftah pun bercerita mengenai perjuangan awal mengisi pengajian di tempat-tempat yang ia plesetkan sebagai ‘Puskesmas’ (Pusat Kesehatan Mas-mas).

Rupanya kegiatan itu tak semudah yang dibayangkan. Gus Miftah sendiri yang harus mengurus segala rupa perizinan.

“Dulu awalnya saya datangi tempat itu, saya surati manajemennya. Saya sebut, saya Gus Miftah, saya ingin memandu anak-anak untuk mengaji,” katanya.

Mulanya, para pemilik tempat hiburan malam itu mengabaikan Gus Miftah. Selain menolak, bahkan ada yang mencurigainya ingin merusak bisnis hiburan malam mereka.

“Ada yang [didekati] setengah tahun, ada yang sebulan, ada yang berdebat dulu sebelum memberi izin. Awalnya dicurigai ini merusak… Bahkan di Sarkem (Pasar Kembang) sempat diajak kelahi oleh premannya,” kenang Gus Miftah.

Syahdan, pada akhirnya Gus Miftah mendapatkan kesempatan juga untuk mengisi pengajian dan tausiah bagi para pekerja tempat hiburan malam itu.

“Perlu dicatat di semua tempat itu saya tidak dibayar, mereka hanya memberi ruang dan waktu,” ujar Gus Miftah.

Perjuangannya terbayar. Kini, di daerah Yogyakarta dan sekitarnya terbilang rutin mengisi pengajian di tempat hiburan malam. Tak hanya itu, tempat hiburan di kota lain yang menjadi jaringan salah satu tempat hiburan di Yogyakarta pun berminat untuk mendatangkan dirinya seperti yang terjadi di Bali.

“Kalau disuruh menegakkan Islam dengan menuntut penutupan tempat hiburan itu, saya bukan wali kota, saya bukan bupati, saya bukan gubernur yang memiliki kuasa untuk itu,” katanya.

Setelah di Bali, kegiatan terkini Gus Miftah adalah kajian rutin bersama Warga Sarkem dan Laskar Jogja yang dilakukan pada Selasa (11/9) malam lalu.

Ponpes itu ia rintis bangun pada 2011 silam. Ora Aji, sambungnya, secara harafiah berarti tidak bernilai atau tidak berharga. Itu, sambung Gus Miftah, menunjukkan manusia tidak ada nilainya di hadapan Allah SWT kecuali karena ibadahnya.

Hingga kini, ia berhasil mengelola ponpes tersebut dan saban pekan mengadakan mujahadahatau doa bersama setiap 35 hari sekali.

Gus Miftah mengatakan bakal tetap menyiarkan dakwah di tempat-tempat hiburan malam. Soal busana dari para pekerja malam yang terbilang seksi saat mendengarkan ceramahnya, Gus Miftah mencoba memaklumi. Menurutnya, akan lebih lama lagi bagi para pekerja itu untuk bersalin busana sebelum mendengarkan tausiah dan kembali mengganti baju lagi saat akan bekerja.

Tapi, sambung Gus Miftah, hasilnya cukup terlihat karena ia mendapati beberapa mantan pekerja hiburan malam yang memilih hijrah. Bahkan, sambungnya, ia pun telah membantu membimbing sejumlah orang untuk memeluk Islam (Mualaf).

Lantas, apakah Gus Miftah pernah tergoda ataupun digoda pekerja hiburan di tempatnya memberikan pengajian dan tausiah tersebut?

“Tuhan kan memberi kita rem yakni iman. Itu cara kita agar jangan sampai terbawa. Biasa kalau ada yang goda, tapi kita punya rem iman,” ujar pengasuh ponpes Ora Aji ini.

sumber : cnnindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen − seven =