Home News Update Islam Indonesia HABIB UMAR BIN HAFIDZ: JANGAN BERBUAT ZHOLIM PADA ORANG LAIN

HABIB UMAR BIN HAFIDZ: JANGAN BERBUAT ZHOLIM PADA ORANG LAIN

0
550
Habib Umar bin Hafidz telah tiba di BPMJ dan langsung berfoto bersama jajaran Perwira Polda Metro Jaya

JIC, JAKARTA — Pengasuh pondok pesantren Daarul Musthofa Tarim Hadhramaut Yaman, Habib Umar bin Hafidz memberikan tausyiah di hadapan aparat kepolisian pada Selasa (17/10). Ia menyinggung tentang bahayanya main hakim sendiri.

Dalam tausiahnya yang diterjemahkan Habib Novel bin Jindan, Habib Umar bin Hafidz mengingatkan agar tidak membuat hati manusia lain terutama sesama Muslim merasa diteror oleh ucap dan tingkah laku kita dalam kehidupan sehari-hari.

“Di sebutkan di dalam salab satu hadis barang siapa yang membuat suatu hati sanubari manusia jadi takut, atau merasa diteror maka orang yang membuat takut hati tersebut, besok pada hari kiamat tidak akan merasa aman dan tentram terhadap murka dan siksa Allah SWT,” kata Habib Umar di hadapan jamaan Bintara, Pamen dan Pati serta ratusan masyarakat yang hadir di Balai Pertemua Polda Metro Jaya Selasa (17/10) sore.

Ia juga mengingatkan agar aparat bisa mencegah aksi main hakim sendiri yang kerap terjadi di masyarakat. Menurutnya, main hakim sendiri akan menimbulkan ketidakstabilan di masyarakat.

“Karena, kzholiman yang dilakulan terhadap setiap manusia dapat membuat rapuh keimanan dan keislaman seorang Muslim itu sendiri,” katanya.

Dalam tausyiah kurang lebih satu jam itu Habib Umar menyampaikan tema “Bersama Ulama, Polri Untuk Masyarakat, Bangsa dan Negara”

Mengawali ceramahnya pimpinan Pondok Pesantren Daarul Musthofa Tarim Hadhramaut Yaman ini mengingatkan, polisi dan ulama jangan mau dipecah belah olah kelompok manapun. Karena, kata Habib Umar yang ceramahnya diterjemaahkan Habib Novel bin Jindan ini, orang-orang yang ingin memecah belah antara polisi dan ulama, diibaratkan orang itu ingin memotong satu tubuh seseorang menjadi beberapa bagian.

“Maka, bahaya perpecahan dari dua elemen ini bukan hanya dua elemen itu saja yang rusak, tapi akan membahayakan umat dan bangsa seutuhnya,” katanya.

Habib Umar menuturkan, toleransi antar umat beragama mesti terus dipelihara baik oleh institusi kepolisian. Karena sesungguhnya, kata Habib Umar bin Hafidz, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang berbeda keyakinan memiliki tujuan yang sama.

“Yakni tujuan kita untuk membawa ke maslahatan dan kebaikan bagi masyarakat secara umum dalam perkara kehidupan dunia mereka atau akherat mereka,” katanya.

Dalam kehidupan dunia, tugas ulama kata Habib Umar bin Hafidz adalah untuk menjaga, membentengi keimanan dan ajaran Rasulullah SAW di dalam hati jiwa dan raga setiap manusia. Sementara, tugasnya Kepolisian ialah mengamankan secara ikhlas dan tulus setiap praktek ajaran-ajaran Rasulullah di dalam kehidupan masyarakat muslim. Jika ulama dan polisi telah melakukan tugas dan pekerjaannya masing-masing secara tulus dan ikhlas.

“Maka, sesungguhnya pada hakekatnya mereka masuk dalam barisan tentaranya Allah SWT, baik dari ulama maupun dari kepolisian,” katanya.

Tentara Allah SWT yang dimaksud dalam Alquran adalah para Nabi dan Rasul serta siapa saja umat manusia yang selalu membela ajaran Rasulullah SAW, akan Allah menangkan dalam peperangan. “Dan sesungguhnya bala tentara kami adalah pemenang dan mereka yang berjaya,” katanya.

Habib Umar bin Hafidz menuturkan, apabila berbicara tentang bagaimana menjaga stabilitas di suatu negera maka kita membicarakan ke agungan agama Islam. “Karena Islam memang mengajarkan ke amanan, keselamatan dan kedamaian ini, ini merupakan keagungan di dalam agama Islam,” katanya.

Sumber ; republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve + six =